Top 100 ASEAN: Indonesia Unggul dalam Kuantitas

Ada 44 perusahaan di Indonesia yang berhasil menerobos Top 100 ASEAN. Sayang, di peringkat atas, perusahaan asal Malaysia mendominasi. Seperti apa potret peringkat 100 perusahaan terbaik di Asia Tenggara ini?

Oleh: Dede Suryadi

Dalam peringkat Top 100 ASEAN 2009, jumlah perusahaan di Indonesia yang menerobos makin banyak, yakni 44 perusahaan. Padahal, tahun lalu hanya 20 perusahaan. Bandingkan dengan Malaysia, tahun ini hanya menempatkan 30 perusahaan dalam Top 100 ASEAN, disusul Singapura 19 perusahaan dan Filipina 6 perusahaan.

Sayangnya, di peringkat atas jumlahnya justru turun. Tahun lalu, ada tiga perusahaan yang masuk 10 terbaik, yakni PT Telkom, Bumi Resources dan INCO, tetapi tahun ini hanya satu perusahaan: Bank Central Asia (BCA). Perusahaan dari Malaysia cukup mendominasi di peringkat atas. Di urutan 10 terbaik, Malaysia menempatkan 6 perusahaannya, sedangkan Singapura hanya tiga perusahaan.

Sebagaimana tahun lalu, pemeringkatan Top 100 ASEAN 2009 ini menggunakan metode Wealth-Added Index (WAI™) untuk mengukur nilai tambah kekayaan yang dihasilkan suatu perusahaan. Di samping itu, perusahaan juga dibandingkan secara relatif terhadap perusahaan sejenis (peer) dengan menggunakan metode Relative Wealth-Added (RWA™). Angka RWA™ menggambarkan sejauh mana perusahaan mengungguli perusahaan sejenis lainnya dalam menciptakan kekayaan untuk pemegang sahamnya. Pada peringkat RWA™, sejumlah perusahaan di Indonesia mampu menjadi jawara di sektornya, seperti Telkom di industri telekomunikasi, Astra International (otomotif dan komponen), Lippo Karawaci (real estate), Kalbe Farma (obat-obatan dan bioteknologi), INCO (material), dan United Tractors (barang modal).

Pemeringkatan Top 100 ASEAN yang kedua kalinya dilakukan ini menyaring 350 perusahaan di negara-negara Asia Tenggara. Rinciannya: Indonesia 100 perusahaan, Malaysia (100), Singapura (100), dan Filipina (50) – yang pemilihannya didasarkan pada nilai kapitalisasi pasar terbesar tahun 2007 di masing-masing negara, serta sesuai dengan klasifikasi industri global (global industry classification).

Penghitungan untuk pemeringkatan mencakup periode 8 tahun lingkaran bisnis (business cycle), yaitu 1 Januari 2001 hingga 12 Desember 2008 sesuai dengan MSCI Index. Secara detail, lingkaran bisnis ini terdiri dari dua: periode ekspansi (expansion) – 1 Januari 2001 hingga 10 September 2007; dan periode kontraksi (contraction) – 10 September 2007 hingga 12 Desember 2008. Jadi lingkaran bisnis ini dihitung atas dua periode ekspansi dan kontraksi. Dan, seperti bisa diduga, tak banyak perusahaan yang mampu menciptakan kekayaaan untuk pemegang sahamnya. Dari 100 perusahaan terbaik di Asia Tenggara, hanya 20 perusahaan yang membukukan WAI positif, satu perusahaan angkanya nol, dan sisanya negatif.

Peringkat pertama dalam Top 100 ASEAN 2009 ditempati Public Bank Bhd. dari Malaysia yang membukukan WAI Rp 23,41 triliun. “Ini sebuah bank swasta di Malaysia yang saya ketahui dikelola dengan sangat baik. The best managed bank di Malaysia,” ujar Erick Stern, President International Stern Stewart & Co. Ia menilai, bisnis inti bank ini berjalan dengan baik sekali, seperti memberikan kredit dengan memperhitungkan risiko secara hati-hati.

Lalu di urutan kedua dan ketiga juga dari negeri jiran, yakni Time Dotcom Bhd. (WAI Rp 18,79 triliun) dan PPB Group Bhd. (WAI Rp 15,48 triliun). Nah, di urutan keempat adalah BCA yang membukukan WAI Rp 14,42 triliun.

Erick menilai, BCA hampir sama dengan Public Bank, yaitu dikelola dengan baik dan hati-hati. “Yang harus dilakukan oleh BCA untuk bisa menempati peringkat teratas adalah dengan memberikan keuntungan kepada para nasabahnya yang saat ini tak semua bank dapat memberikannya,” katanya memberi saran. Pasalnya, beberapa bank besar di Indonesia termasuk Merrill Lynch juga bermasalah dan tidak lagi eksis. Oleh karena itu, BCA harus mampu mengambil kesempatan di masa krisis, menemukan lini-lini bisnis potensial dan bekerja sama dengan partner yang mungkin merupakan perusahaan atau lembaga yang berasal dari dalam atau luar negeri.

Jahja Setiaatmadja, Deputi Presdir BCA, berkomentar, dalam rangka meningkatkan angka WAI-nya, pada dasarnya sumber peningkatan aset bagi perbankan adalah dari funding, baik tabungan, giro maupun deposito. Komposisi struktur biaya pada bank sering berbeda-beda, ada yang porsi tabungan dan gironya lebih tinggi daripada deposito. Di BCA, komposisi tabungan dan giro lebih banyak daripada deposito berjangka, yaitu 75%-80%. Bunga giro tergolong sangat kecil dan bunga tabungan sedikit lebih tinggi, tetapi yang tertinggi adalah bunga deposito berjangka. “Bagi bank seperti BCA, yang cost of fund-nya lebih dominan pada giro dan tabungan, berarti biaya modal kami relatif sudah kecil,” ujar Jahja.

Ditambah lagi, pendapatan yang diperoleh BCA yang bersumber dari spread bunga kredit, surat berharga dan sebagainya sama dengan harga pasar. Karena pendapatannya setara dengan harga pasar pada umumnya, sedangkan cost of fund lebih kecil, maka peluang BCA untuk lebih unggul dari segi profitabilitas lebih besar. Meski saat ini masuk dalam lima besar Top 100 ASEAN, BCA belum berencana membuka cabang hingga ke lingkup regional atau di negara lain selain Indonesia. Saat ini, BCA baru melayani remittance business atau kiriman uang dari negara-negara yang banyak terdapat tenaga kerja Indonesianya, seperti Timur Tengah, Singapura, Malaysia, Taiwan, Brunei Darussalam dan sebagainya, serta layanan ekspor-impor. BCA hanya memiliki kantor perwakilan di Singapura dan Hong Kong, serta perusahaan remittance di Hong Kong.

Sebenarnya, menurut Erick, Indonesia, seperti industri perbankannya, tidak seterpuruk seperti di negara lain, meski punya banyak perusahaan yang berbasis komoditas, seperti Bumi Resources, Astra Agro Lestari, serta perusahaan minyak dan gas. Seperti diketahui, harga komoditas dunia tahun lalu turun drastis. Ini menimbulkan dampak buruk, yaitu berjatuhannya perusahaan berbasis komoditas di pasar modal Indonesia. Salah satunya, Grup Bakrie.

Memang, pertumbuhan ekonomi Indonesia ketika krisis tahun 2008 jauh lebih rendah dibanding tahun 2007 yang tumbuh hingga 6%. Dengan harapan akan membaiknya perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun mendatang, maka diperkirakan angka pertumbuhan di Indonesia akan kembali ke 6% atau 7%, bahkan jika beruntung mungkin bisa mencapai 8%. “Jika itu terjadi, angka WAI juga akan sangat tinggi,” kata Erick memprediksi.

Ia juga mengutip data dari Majalah The Economist, bahwa tiga minggu lalu Produk Domestik Bruto Indonesia di tahun 2009 masih -1,3% dan sekarang telah menjadi +2,4%. Sementara itu Malaysia masih -3%, Cina +6,5% dan India +5%. Dengan melihat data ini, perekonomian Indonesia memang telah mulai positif, tetapi masih lebih rendah dibanding satu-dua tahun yang lalu. “Untuk itu Indonesia harus dapat memperbaiki pertumbuhan ekonominya hingga 6%-7%. Jika ini dilakukan, maka diharapkan dapat tercapai ‘major improvement’,” ia mengungkapkan.

Akan tetapi, menurut Hendra Bujang, pengamat pasar modal, kompetensi perusahaan Indonesia di tingkat ASEAN boleh dibilang belum bisa berbicara banyak. Hal yang perlu diperhatikan yaitu skala bisnisnya. Ini berkenaan dengan faktor efisiensi dan SDM dalam penguasaan teknologi. Sebetulnya, dalam pemberian keuntungan kepada para pemegang saham, perusahaan di Indonesia masih bisa memberikan lebih baik, meskipun di saat kondisi krisis seperti saat ini.

Perusahaan untuk bisa berkompetensi di tingkat global, khususnya regional ASEAN, masih tergantung pada beberapa faktor internal dan makro. Ia mengatakan, faktor makro harus stabil, harus ada peraturan yang mendukung kepentingan pebisnis. Di sisi lain, faktor internal perusahaan juga harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas SDM dan penguasaan teknologi. “Kebanyakan masih tradisional, sehingga kalau bicara volume dari segi efisiensi, maka tidak efisien,” katanya

Sejauh mana efisiensi dan efektivitas perusahaan-perusahaan di Indonesia ini serta sejauh mana SDM di masing-masing perusahaan dapat berproduksi dengan efisien – ditambahkan Franciscus Welirang, Direktur PT Indofood Sukses Makmur – merupakan tuntutan bagi setiap perusahaan. “Dan hal itu tergantung pada bagaimana seorang pemimpin memimpin perusahaannya,” ujarnya.

Itu memang sebuah tantangan. Yang jelas, dengan menengok kondisi perekonomian Indonesia yang masih lebih baik dibanding negara tetangga, ada peluang bagi perusahaan di Tanah Air untuk meningkatkan kinerja dan membuat sahamnya lebih menarik bagi investor. Jika peluang itu bisa dimanfaatkan secara optimal, perusahan di Indonesia akan lebih kompetitif untuk bersaing dengan perusahan lain di level Asia Tenggara.

Reportase: Moh. Husni Mubarak dan Kristiana Anissa
Riset: Ratu Nurul Hanafiah

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.