The Best Franchise to Invest 2009

Pilihan waralaba semakin banyak. Namun, tak sedikit investor yang gagal karena tak jeli memilihnya. Majalah SWA dan Roy Morgan pun melakukan survei untuk mencari waralaba yang layak dijadikan investasi. Waralaba yang mana sajakah itu?

oleh: Dede Suryadi

Dari waktu ke waktu bisnis waralaba (franchise) terus berkembang. Tengok saja, berdasarkan data Riset Majalah SWA, hingga pertengahan tahun ini merek waralaba telah mencapai 1.010 merek dengan rincian: 750 merek waralaba lokal dan 260 merek asing. Bandingkan dengan tahun 2008, masih berjumlah 855 merek (600 lokal dan 255 asing). Jumlah gerainya pun bertambah dari 31.827 gerai (2008) menjadi 42.900 gerai (2009). Ini sejalan dengan peningkatan jumlah karyawannya, dari 523.162 orang menjadi 819.200 orang.

Dengan indikator peningkatan ini, omset waralaba pada 2009 diprediksi bakal mencapai Rp 96 triliun karena hingga Juni 2009 sudah mencapai Rp 49,2 triliun. Sementara, pada 2008 masih sebesar Rp 81,03 triliun. Namun, tak semua waralaba sukses karena diperkirakan tahun lalu sekitar 30% waralaba lokal tutup. Malah tingkat kegagalannya dari tahun ke tahun juga meningkat: tahun 2007 sebesar 16% dan 2006 12%. Artinya, potret industri waralaba di negeri ini tak selalu cerah, ada juga sisi buramnya.

Tentu dengan melihat kondisi tersebut, perlulah hati-hati dalam mengembangkan bisnis ini. Terlebih calon inverstor, perlu jeli memilih peluang bisnis waralaba yang memiliki prospek yang baik. Tak sekadar latah, tetapi perlu perhitungan matang agar investasi yang dibenamkan dalam jumlah yang tak sedikit tidak terbuang di tengah jalan.

Untuk itulah, Majalah SWA dan Roy Morgan, lembaga survei yang berbasis di Australia, membuat survei untuk mencari waralaba mana saja yang layak dicomot untuk dijadikan investasi alias the best franchise to invest. Agar lebih komprehensif hasilnya, survei ini terbagi dua hasilnya: waralaba pilihan calon investor dan waralaba rekomendasi konsumen. Setidaknya, kedua hasil survei tersebut bisa memberikan gambaran waralaba mana saja yang layak jadi pilihan untuk investasi karena waralaba tersebut paling diminati calon investor dan juga direkomendasikan konsumen.

Mari kita lihat lebih jauh kedua hasil survei tersebut. Pertama, waralaba pilihan calon investor. Berdasarkan hasil survei ini, terdapat 31 waralaba yang dipilih para calon investor. Sepuluh besar yang terjaring adalah Alfamart dengan skor 98, Indomaret (70), McDonald’s (50), Kentucky Fried Chicken/KFC (43), Es Teller 77 (25), J.Co Donuts & Coffee (19), Starbucks (19), Kebab Turki Baba Rafi (18), rumah makan Sederhana (16) dan Primagama (15) — selengkapnya lihat Tabel).

Survei tersebut dilakukan oleh Tim Riset SWA pada Juni 2009. Respondennya adalah para calon investor yang memiliki posisi sebagai manajer, general manager, direktur dan presiden direktur di sebuah perusahaan. Total yang terjaring adalah 350 responden. Kalau melihat skor yang diraih seperti oleh Alfamart sebesar 98, berarti dari 350 responden, minimarket ini dipilih oleh 98 responden.

Dalam suvei ini juga terlihat berapa dana investasi yang bakal digelontorkan para calon investor ini. Sebanyak 36% memilih Rp 251 juta-1 miliar, 27% di atas Rp 1 miliar, 19% sebesar Rp 101-250 juta, 7% sebesar Rp 51-100 juta, 5% sebesar Rp 25-50 juta, dan 6% di bawah Rp 25 juta. Sementara, kapan mereka akan menggelontorkan investasinya, apakah dalam 1-2 tahun mendatang, survei mengungkap bahwa sebanyak 45% responden menjawab “ya” dan 55% menjawab “tidak”. Artinya, melihat hasil survei ini, para calon investor lebih banyak akan membenamkan nvestasinya di waralaba setelah dua tahun ke depan.

Teguh Prasetya, calon investor, mengungkapkan, ia tertarik menjadi franchisee (penerima hak waralaba) ritel karena risikonya paling rendah. Dan ritel yang dipilih adalah Alfamart.. Menurutnya, Alfamart, meskipun bisa dibilang lebih baru dibanding Indomaret, terlihat lebih agresif dan profesional dalam pengelolaan bisnisnya. Kebetulan ada jejaring juga di Alfamart sehingga ia bisa tahu banyak tentang minimarket itu. Untuk branding, ia nilai Alfamart cukup baik, bisa dilihat dari kemampuan bersaing. Selain itu, inovasinya juga cukup baik, salah satunya dengan memunculkan Alfa Midi. “Intuisi bisnis mereka lebih tinggi,” ujar Group Head Brand Marketing Indosat ini menilai.

Sementara itu, Pudjianto, Direktur Pengelola PT Sumber Alfaria Trijaya — pengelola Alfamart, berkomentar tentang minimarket-nya yang masuk the best franchise to invest, “Terus terang, saya tidak bisa menilai, karena yang menilai orang lain,” katanya. Bila bicara minimarket, hanya ada empat nama (Indomaret, Alfamart, Yomart dan Circle K). Diakuinya Alfamart bukan yang terbaik, tapi juga bukan yang terjelek. Namun, budaya Alfamart yang terbuka bisa menjadi poin plus bagi franchisee Alfamart bila ada masalah atau keluhan, dan franchisor (pemberi hak waralaba) sangat responsif. “Dengan apa yang diberikan, saya anggap wajar bila Alfamart masuk dalam the best franchise to invest untuk franchise, karena telah melakukan berbagai hal yang telah disebut di atas,” Pudjianto mengungkapkan.

Menurutnya, kalau bicara investasi yang berhubungan dengan waralaba, tidak hanya bicara return-nya berapa. Itu hanya dari sisi keuangan yang bisa memberikan return lebih bagus. Namun, di sisi lain, pelayanan apa yang diberikan franchisor. Artinya, apa yang dijanjikan bukan hanya dari kuantitas keuntungan, tetapi apa yang diberikan franchisor termasuk yang terbaik dari bentuk waralaba yang ada di Indonesia. Dalam hal pelatihan, misalnya, Alfamart melakukan secara berkala dan supervisi pun selama lima tahun. Sebab, itu sesuai dengan visi Alfamart: ingin menjadi milik masyarakat. Jelas,” Kami tidak mau mengecewakan masyarakat,” ia menegaskan.

Upaya untuk menarik calon franchisee? Manajemen Alfamart selalu berusaha memperbaiki internal perusahaan,. Pihaknya sangat sadar bahwa perkembangan Alfamart sangat cepat sehingga staf yang melayani waralaba juga harus di-upgrade. Selain itu, cara memasarkan waralaba pun selalu berubah, tidak hanya mengikuti franchise fair, tapi bisa juga melalui arisan, institusi profesional, perbankan, dsb. “Terobosan-terobosan seperti itu yang harus dibuat,” kata Pudjianto. Sementara secara eksternal, harus dibuat bahwa waralaba memang harus benar-benar menguntungkan.

Pudjianto menambahkan, dalam 2-3 tahun ini, Alfamart menginginkan dari toko yang ada sekitar 50% merupakan toko waralaba (2.011), sedangkan hingga akhir 2009 targetnya sekitar 30% merupakan toko yang dimiliki franchisee dari total toko yang ditargetkan tahun ini sekitar 3.250 toko. Harus diakui, dalam mewaralabakan, Alfamart sangat hati-hati karena risikonya ada. “Kami benar-benar tidak mau ambil risiko, sehingga harus selektif dalam memilih franchisee,” ungkapnya.

Seperti halnya Alfamart, Indomaret pun selektif memilih calon fanchisee-nya. Sekarang, antrean yang ingin menjadi franchisee cukup banyak: 50-75 orang. Diharapkan, 80% -nya bisa terealisasi karena Indomaret menargetkan tiap tahun akan menambah 400-500 toko. Hal-hal yang dipertimbangkan, antara lain, izin dan lokasi. Kebanyakan para calon franchisee mengharapkan lokasi tokonya dekat rumah mereka seperti di Jabotabek. Padahal, di luar Jabotabek peluangnya ternyata sangat besar, khususnya di Lampung, Bali dan Palembang.

Selanjutnya, survei kedua adalah waralaba rekomendasi konsumen. Survei yang dilakukan Roy Morgan ini menjaring 1.522 responden perkotaan di 44 kota Indonesia. Meski demikian, hanya sekitar 30% (437) responden yang tahu waralaba, sisanya (70%) belum mengetahui pola bisnis seperti itu. Survei ini memotret 9 sektor bisnis yang sudah diwaralabakan. Dalam tiap-tiap sektor, para responden memilih sejumlah waralaba yang mereka rekomendasikan dengan skala 1-10.

Hasilnya? Sektor tertinggi yang direkomendasikan adalah ritel dengan skor 74% atau sebanyak 325 responden yang memilih dari total responden 437 orang. Di sektor ini, waralaba yang paling direkomendasikan konsumen adalah Indomaret dengan nilai rekomendasi 7,1 (skala 1-10). Di urutan kedua, sektor industri yang direkomendasikan adalah resto/makanan/minuman sebanyak 243 responden (56%) dengan Es Teller 77 sebagai waralaba yang paling direkomendasikan responden (skor 7) dalam industri ini.

Ketiga, sektor pendidikan/lembaga kursus yang diipilih oleh 66 responden (15%), dengan Primagama yang paling direkomendasikan (7,3). Keempat, salon kecantikan/kebugaran yang merupakan pilihan 62 responden (14%) dengan Johnny Andrean yang paling direkomendasikan (7,2). Kelima, kurir/logistik/travel sebanyak 50 responden (11%) dengan Tiki/JNE yang paling direkomendasikan (7,1).

Selanjutnya di posisi keenam, desain grafis/percetakan dengan M Photo Studio yang paling direkomendasikan. Ketujuh, agen properti dengan Century 21 yang paling direkomendasikan. Kedelapan, laundry dengan Londre yang paling direkomendasikan. Dan, kesembilan, otomotif dengan Raja Motor yang paling direkomendasikan. Sektor-sektor di luar 9 sektor di atas dimasukkan pada kategori lain-lain dengan waralaba yang paling banyak dipilih dalam kategori ini adalah SPBU dan Apotek Century Farma (selengkapnya, lihat Tabel).

Anton Wijaya, Wakil Presdir PT Top Food Indonesia, pengelola Es Teller 77, menuturkan bahwa salah satu kunci sukses bisnis franchise-nya itu adalah memberikan kepuasan kepada pelanggan, baik sebagai franchisee maupun pelanggan di gerai. Selain itu, perbaikan terus dilakukan mencakup seluruh aspek: operasional, pelayanan, kepuasan pelanggan dan kinerja. Es Teller 77 juga berobsesi dapat eksis di kancah internasional. Hal ini tentu saja akan mendukung penguatan merek Es Teller 77 di Indonesia. “Mudah-mudahan akhir tahun ini Es Teller 77 sudah bisa hadir di Jeddah, Arab Saudi, dan Kuala Lumpur, Malaysia,” ujar Anton berharap.

Berbeda dari Es Teller 77, Eko Purnomo, Manajer Franchise M Photo Studio, menjelaskan bahwa pihaknya belum berencana menambah gerai. Yang masih akan menjadi fokus M Photo Studio saat ini adalah perbaikan pada segala sesuatu yang telah dijalani, seperti bidang pemasaran. Saat ini, M Photo Studio memang tidak banyak melakukan promosi above the line (melalui iklan di media massa, dsb.). Promosi langsung di gerai dengan diskon dan berbagai acara, seperti lomba photo box, dinilai lebih efektif dalam mendongkrak penjualan di gerai. “Mungkin tahun 2010 nanti baru kami akan menambah outlet lagi,” ujar Eko.

Bagi Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, sangatlah wajar hasil survei the best franchise to invest yang dilakukan SWA dan Roy Morgan ini menempatkan Alfamart dan Indomaret di posisi teratas. Karena, lokomotif pertumbuhan di Indonesia memang bertumpu pada konsumsi domestik. Artinya, hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari menjadi prioritas konsumen. “Pertama, usaha yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, yaitu makanan, pendidikan, sekolah, playgroup, kursus, salon dan fitness center, karena bagi ibu-ibu menjadi kebutuhan wajib, yang keempat barulah apotek, bengkel,” kata Anang.

Makanan dan minuman juga termasuk kebutuhan sehari-hari, maka McDonald’s, KFC dan Es Teller 77 bisa masuk sebagai favorit pilihan responden. Namun, ia menekankan, McD dan KFC belum di-subfrinchise-kan. Kalaupun ada, pengelolaannya masih bagi hasil. Jadi, sulit bagi calon franchisee mendapatkan subfranchise resto cepat saji itu. Namun, Es Teller 77 bisa menjadi pilihan karena sudah punya brand yang baik.
Fabian Gelael, Direktur Operasional PT Fastfood Indonesia Tbk. – pengelola KFC, menjelaskan, meskipun banyak investor yang ingin menjadi franchisee KFC, belum ada niat dari pihak KFC untuk men-subfranchise-kan. KFC sekarang telah memiliki sekitar 350 gerai di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Jayapura, tetapi sebagian besar masih berada di Pulau Jawa. “Ekspansi ke seluruh wilayah Indonesia dianggap perlu untuk memenuhi permintaan konsumen akan KFC,“ ujarnya.

Anang memberikan masukan bagaimana memilih investasi waralaba ini. Pertama, melihat brand-nya. Investor tidak perlu ragu lagi bagaimana usahanya dikenalkan karena sudah banyak yang mengenalnya. Berikutnya, melihat akuntabilitas dan tanggung jawab franchisor. Pasalnya, banyak franchisee yang dikecewakan. Setelah menghabiskan sisa tabungannya, ternyata usaha waralabanya gagal karena franchisor tidak punya tanggung jawab terhadap waralaba yang dikelolanya. Terakhir, melihat sistem dan konsepnya. Konsep mesti matang; baik organisasi maupun brand building sudah terkonsep dengan baik dari pihak franchisor.

Hal-hal yang perlu dilakukan ketika investor ingin berinvestasi di waralaba, yaitu bertanya kepada pihak franchisor tentang usahanya tersebut, melihat neraca laba-ruginya, dan memperhatikan grafik pertumbuhanya. Anang mengatakan, sebetulnya pertumbuhan waralaba tidak bisa dilihat hanya tiga bulan. Kalau bisa, 3-5 lima tahun jika perlu. Karena itu, yang seharusnya disebut franchise minimal sudah berjalan lima tahun.

Sementara itu, Utomo Njoto berpandangan sejumlah waralaba yang mendapat skor tinggi dalam survei ini hanya disebabkan branding. Exposure yang tinggi akan mengakibatkan main share yang tinggi pula. Sehingga, bila ditanyakan ke responden, yang akan muncul adalah nama yang paling dikenal. “Sama seperti menanyakan brand apa yang paling mereka kenal, boleh dibilang orang akan langsung menyebut Coca-Cola,” pengamat franchise ini menganalisis.

Ambil contoh Alfamart dan Indomaret. Kedua ritel itu dipilih karena banyaknya gerai, ditambah lagi dengan exposure yang boleh dibilang tinggi. “Outlet banyak dan terekspos lebih banyak itu yang akan lebih terekam di benak mereka,” katanya. Jadi, sekali lagi Utomo menegaskan, jatuhnya pilihan responden ke franchise tertentu semata karena branding-nya.

Akan berbeda hasilnya, lanjut Utomo, bila responden juga diberi informasi secukupnya tentang profitabilitas dan persyaratan lainnya dari waralaba tersebut. “Saya rasa mereka (responden) masih hanya sebatas kenal merek. Tahu, tetapi belum dalam,” ujarnya. Hasil survei akan lebih menarik bila dibatasi tiap kategori. Misalnya, laundry, makanan-minuman atau ritel. “Karena bila dibuka untuk semua kategori, yang muncul adalah yang paling dikenal orang.”

Buktinya, masih kata Utomo, dari hasil survei ternyata banyak responden (baca: calon franchisee) yang memilih KFC dan McDonald’s untuk berinvestasi. Padahal, kedua brand itu tidak melakukan subfranchise ke pihak mana pun. Kedua restoran itu dikelola oleh satu pihak (master franchisee). “Kalaupun ada, sifatnya hanya kerja sama bagi hasil, bukan franchisor dan franchisee.”

Meski demikian, Utomo menilai, apa yang dipilih responden sudah benar. Menurutnya, prospek usaha dari pilihan responden cukup cerah. “Brand mereka kuat dan jaringannya juga lumayan. Jadi, cukup bagus ke depan,” ujarnya mengakui. Dari segi manajemen karyawan, juga banyak hal positif. Misalnya, ketika membuka toko baru, bisa dipastikan diberikan pendampingan. Artinya, di cabang baru akan ditempatkan orang lama untuk membimbing para juniornya.

Yang jelas, hasil survei ini hanyalah sebuah gambaran tentang persepsi calon investor dan konsumen mengenai waralaba mana yang layak dijadikan investasi.

Reportase: Darandono, Gigin W. Utomo, Kristiana Anissa, Moh. Husni Mubarak, Sigit A. Nugroho/Riset: Dian Solihati

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.