Saham Batu Bara Terus Diburu

Saham pertambangan seperti batu bara tengah jadi incaran pelaku pasar modal. Tak heran, saham komoditas ini menjadi penggerak utama indeks hingga terkerek naik. Bagaimana prospeknya, akankah tetap menarik?

oleh: Dede Suryadi

Laporan keuangan kuartal I/2009 perusahaan publik yang bergerak di pertambangan batu bara memicu adrenalin investor untuk membeli saham di sektor ini. Pasalnya, kinerja yang ditunjukkan sejumlah emiten batu bara cukup menakjubkan. PT Adaro Enegy Tbk. (berkode ADRO), misalnya pada kuartal I/2008 masih merugi Rp 12 miliar, tetapi kuartal I/2009 laba bersihnya melonjak ke angka Rp 1,14 triliun (naik 9.642%). Lalu, laba bersih PT Indo Tambangraya Megah Tbk. naik dari Rp 18,95 miliar menjadi Rp 101,76 miliar (437,01%), PT Bayan Resources Tbk. (BYAN). Melonjak 587% dari Rp 16,49 miliar menjadi Rp 113,22 miliar. Sementara itu, laba bersih PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. (PTBA) naik 220% dari Rp 286,4 miliar ke level Rp 920,6 miliar.

Maka, tak heran saham-saham tambang batu bara naik tajam. Lihat saja, selama Januari-Juni 2009 hampir semua harga saham pertambangan, termasuk saham batu bara mulai menunjukkan taringnya. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, kenaikan tertinggi diraih oleh Bayan Resources dari Rp 890 per 30 Januari naik 489,89% menjadi Rp 5.250 per 29 Juni 2009. Lalu, saham Bumi Resources (BUMI) naik 279,59% dari Rp 510 menjadi Rp 1.890 (lihat: Tabel).

Saham batu bara mulai bergairah seiring adanya proses pemulihan ekonomi global, salah satunya kebutuhan energi listrik yang murah akan terus meningkat. Hal ini mengakibatkan kenaikan permintaan batu bara dan harga jualnya mampu mendorong peningkatan kinerja usaha dan keuangan perusahaan yang bergerak di bisnis ini. Itu juga sejalan dengan mulai meningkatnya harga minyak dunia yang saat krisis permintaan dan harganya menurun.

Seperti kita ketahui, dampak krisis keuangan dunia yang berawal di Amerika Serikat dan merembet ke negara lain termasuk kawasan Eropa, Asia, Amerika Latin dan Australia, telah mengakibatkan lemahnya pertumbuhan ekonomi global, sehingga menimbulkan krisis ekonomi dunia. Turunnya permintaan konsumen terhadap produk manufaktur, terutama di negara-negara industri, berpengaruh pada pengurangan permintaan bahan baku industri seperti logam dan energi. Kondisi ini menyebabkan turunnya permintaan produk pertambangan yang begitu besar lantaran daya beli konsumen industri yang lemah tanpa diikuti pengurangan produksi atau pasokan dari para produsen pertambangan.

Saat ini, harga produk pertambangan dan energi sedang mencari titik keseimbangan baru antara permintaan riil konsumen dan ketersediaan pasokannya di pasar. Nah, sejalan dengan berangsur-angsurnya menunju pemulihan ekonomi, kebutuhan akan produk pertambangan mulai meningkat. Tentunya harganya pun terkerek naik. Tak heran, saham-saham perusahaan pertambangan mulai diburu kembali oleh investor.

Norico Gaman, Head Departemen Riset PT BNI Securities, mengatakan, harga saham pertambangan selama 2008 memang menurun, tetapi memasuki pertengahan 2009 ia melihat adanya prospek perbaikan harga saham sektor ini secara bertahap. Persepsi perbaikan harga saham itu berdasarkan fundamental perusahaan yang masih bagus dalam jangka panjang dan peluang pertumbuhan usaha yang lebih baik ketika terjadi pemulihan ekonomi dunia tahun 2010.

Selain itu, valuasi saham pertambangan saat ini sudah sangat rendah, bila melihat nilai perbandingan harga saham terhadap laba bersih per saham (price earning ratio/PER) saham-saham pertambangan dibandingkan dengan nilai PER rata-rata sektor pertambangan pada kondisi sekarang sebesar 12,2 kali. Jika memperhatikan nilai PER, saham batu bara seperti PT Tabang Batubara Bukit Asam (PTBA), Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan BUMI sudah berada di bawah nilai PER rata-rata sektor pertambangan.

Sementara itu, perbandingan harga saham terhadap nilai buku per saham (price to book value/PBV) saham-saham perusahaan tersebut sudah di bawah nilai PBV rata-rata sektor pertambangan sebesar 3,0 kali. Nilai PER dan PBV yang lebih rendah dari rata-rata industri pertambangan memberi gambaran bahwa harga saham perusahaan tambang saat ini relatif masih rendah (undervalued) dibanding harga pasar wajarnya (fair market value), dan potensi pertumbuhan usaha dalam jangka panjang.

“Karena itu saya melihat bahwa harga saham-saham pertambangan sekarang memberi peluang investasi yang sangat menarik dengan memperhatikan prospek pertumbuhan usaha ke depan,” kata Norico mantap. Prospek yang positif juga didukung imbal hasil atau rasio laba bersih perusahaan terhadap modal pemegang saham (ROE) yang rata-rata masih cukup tinggi.

Saham PTBA dan BUMI terlihat memiliki nilai ROE yang lebih tinggi dari nilai ROE rata-rata sektor pertambangan sebesar 35%. Norico masih menilai positif prospek pertumbuhan saham perusahaan pertambangan dalam jangka panjang dua tahun ke depan, meskipun pelemahan harga komoditas tambang akan mengganggu kinerja usaha dalam jangka pendek.

Ketika pertumbuhan ekonomi dunia pulih kembali, maka harga saham perusahaan pertambangan diharapkan memberi imbal hasil yang sangat tinggi bagi investor yang telah berinvestasi saham pada periode pelemahan harga sahamnya. ”Karena itu, periode kuartal kedua tahun 2009 ini akan menjadi peluang investasi di sektor pertambangan bagi investor yang memiliki perspektif investasi jangka panjang,” ujar Norico.

Diakui Melani K. Harriman, salah seorang investor individu, saham-saham pertambangan batu bara sedang menarik untuk jadi portofolio investasinya. Namun, tak hanya sekarang ia mengoleksi saham pertambangan (tak hanya batu bara), tetapi sudah dilakukan sejak lama. Khusus saham batu bara, saat ini ia mengoleksi saham PTBA sejak empat tahun lalu, BUMI sejak dua tahun lalu, dan yang paling bontot saham ADRO yang ia beli di akhir 2008. “Saat itu harganya sedang murah,” katanya. Sayang ia lupa berapa harganya saat itu.

Yang pasti, kalau dilihat dari portofolio saham batu bara saja yang dimiliki Melani: ADRO 30%, PTBA 30% dan BUMI 40% dari alokasi dana yang khusus diinvestasikan di saham ini. Sementara kalau dilihat dari total portofolio saham yang ia koleksi, saham pertambangan mencapai 30%. Namun itu tak hanya batu bara, ada juga saham sektor pertambangan lain seperti PT Antam Tbk. dan PT Medco Energi International Tbk.

Melani tertarik membenamkan dananya yang mencapai ratusan juta di saham pertambangan, karena ia melihat kebutuhan energi seperti batu bara akan terus ada. Bahkan, kecenderungannya terus meningkat. Apalagi Indonesia sendiri memiliki cadangan batu bara yang masih sangat besar dibanding negara-negera lain. Artinya, ke depan, prospek saham pertambangan diyakini akan memberi keuntungan yang berlipat. Makanya, “Saya mengoleksi saham-saham batu bara ini untuk investasi jangka panjang sebagai persiapan pensiun kelak,” ungkap Melani.

Meski demikian, Norico mewanti-wanti, ketika berinvestasi di saham batu bara, yang perlu diperhatikan: bagaimana perusahaan batu bara itu mengelola utang perusahaan agar kesehatan arus kasnya terjaga dan peningkatan jumlah cadangan batu bara, untuk menjamin kelangsungan produksi jangka panjang. Hindari saham perusahaan tambang batu bara yang memiliki jumlah cadangan kecil, tetapi kondisi utang perusahaan relatif besar bila dibanding nilai penjualannya.

Maka, ia menyarankan, supaya investor fokus berinvestasi di saham perusahaan tambang batu bara yang jumlah cadangannya besar, dan memiliki basis konsumen yang kuat baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, kondisi keuangan yang sehat dengan porsi utang yang kecil dari nilai ekuitasnya, sehingga perusahaan itu masih mampu menciptakan pertumbuhan laba bersih yang sangat baik.

Apalagi, seiring adanya proses pemulihan ekonomi global maka kebutuhan energi listrik yang murah akan terus meningkat. “Sehingga akan terjadi kenaikan permintaan batu bara, lalu harga jualnya mampu mendorong peningkatan kinerja usaha dan keuangan perusahaan,” ujar Norico.

Seperti halnya PTBA, sekarang terus memasok kebutuhan batu bara di dalam negeri. Proyek yang sedang ditangani adalah PLTU 4 x 600 MW di Tanjung Enim, proyek kereta api dan pembangunan rel baru dari Tanjung Enim ke Lampung. Proyek-proyek itu nantinya membutuhkan volume batu bara sebesar 20 juta ton. “Sekarang proyek pembangunan masih dalam progres,” ungkap Sukrisno, Presdir PTBA.

Semua proyek tersebut mulai dikerjakan tahun 2009-2010, dan direncanakan selesai tahun 2013-2014. Dengan proyek itu, manajemen menargetkan setelah tahun 2014 terjadi peningkatan skala volume produksi menjadi 50 juta ton/tahun. “Kami sudah menetapkan kapan, apa dan bagaimana mencapai PTBA emas, yaitu dengan pencapaian produksi 50 juta ton/tahun,” katanya penuh semangat. Namun, target yang memungkinkan di tahun 2013 mempunyai kapasitas terpasang sebesar 22 juta ton/tahun. “Sekarang hanya 50% yang sanggup dihasilkan karena keterbatasan jalur kereta api,” ujarnya memberi alasan.

Harga jual batu bara PTBA periode Januari-Maret 2009, baik untuk pasar domestik maupun pasar ekspor, naik signifikan dibanding harga jual batu bara periode yang sama tahun 2008. Harga jual rata-rata (tertimbang) batu bara pasar domestik naik 79% menjadi Rp 737 ribu/ton dan harga jual rata-rata batu bara PTBA periode Januari-Maret 2009 juga naik, yaitu 4% menjadi 2,82 juta ton. Sementara itu, posisi kas dan setara kas PTBA per 31 Maret 2009 tercatat sebesar Rp 3,58 triliun, atau naik 70% dibanding kas dan setara kas periode yang sama tahun 2008. “Kami menargetkan volume penjualan tahun 2009 naik 13% menjadi 14,5 juta ton,” kata Sukrisno.

Di sini bisa kita lihat, di samping harga batu bara yang cenderung meningkat ke depan, para pengelola perusahaannya pun terus berupaya memberikan nilai tambah kepada investor, agar sektor tambang batu bara ini tetap diminati.

Reportase: Rias Andriati
Riset: Sarah Ratna Herni

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.