Menelisik Industri Otomotif di Negeri Panda

Seperti negara lain, industri otomotif di Cina saat ini juga terkena imbas krisis. Bagaimana perkembangan dan masa depan pasar otomotif terbesar kedua di dunia ini?

Dede Suryadi

Depresi ekonomi yang melanda dunia saat ini berpengaruh kuat terhadap berbagai sektor. Tak terkecuali sektor otomotif di negara mana pun, termasuk Cina. Bisa dibilang, hampir semua perusahaan otomotif di Cina harus menghadapi masa-masa sulit. Namun, kondisi pasar otomotif di Cina relatif masih lebih baik, apalagi kalau dibandingkan dengan industri otomotif di Amerika Serikat.

Menurut data China Association of Automobile Manufacturers, pertumbuhan produksi dan penjualan otomotif di Cina dalam 11 bulan di tahun 2008 menunjukkan tren yang menurun hingga hanya satu digit. Bahkan, disebut-sebut sebagai yang pertama sejak 2006, pertumbuhan otomotif Cina di bawah 10%.

Kalau dilihat secara kumulatif, dari Januari hingga November 2008 Cina memproduksi 8,7 juta unit kendaraan atau naik 7,89% dibanding periode yang sama di 2007. Sementara, penjualannya sebanyak 8,63 juta unit atau naik 8,52%.
Dari total angka di atas, produksi mobil penumpang dari Januari hingga November 2008 mencapai 6,24 juta unit atau naik 8,38% dibanding periode yang sama tahun 2007. Dan, penjualan mobil kategori ini 6,16 juta unit atau naik 8,87%.

Pada November tahun lalu, produksi kendaraan di Cina hanya 686 ribu unit atau turun 2,68% dibanding bulan sebelumnya atau turun 18,14% dibanding periode yang sama di 2007. Sementara penjualannya di November 2008 itu 685.100 unit atau turun 15%. Segmen kendaraan niaga mengalami kemerosotan penjualan 26% menjadi 162.300 unit, sedangkan penjualan di segmen mobil penumpang (passanger car) terkoreksi turun 10% menjadi 522.800 unit. Penurunan ini tentu saja karena dipengaruhi melemahnya permintaan pasar. Kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Tak mengherankan, seperti halnya sejumlah pabrikan otomotif di AS yang meminta bantuan dana talangan dari pemerintahnya, kalangan pabrikan di Negeri Tirai Bambu itu ternyata pernah melakukan hal yang sama. Menurut Bloomberg, pada ajang Guangzhou Auto Show 2008, pabrikan mobil lokal di Cina mendesak pemerintahnya untuk memberikan insentif berupa potongan pajak, penurunan harga bahan bakar minyak, dan dukungan kebijakan untuk mengembangkan kendaraan ramah lingkungan. Selain itu, mereka juga mengharapkan memperoleh porsi paket stimulus ekonomi dari pemerintah, yang secara keseluruhan bernilai 4 triliun yuan atau setara dengan US$ 500 miliar.

Hingga sekarang, terdapat beberapa pabrikan otomotif besar di Cina, antara lain, Shanghai General Motor Co., FAW Volkswagen Automotive Co., Shanghai Volkswagen Co., Chery Automobile Co. Ltd., Guangzhou Honda Automobile Co., Dongfeng Nissan Passenger Vehicle Co., FAW Toyota Motor Sales Co., Beijing Hyundai Motor Co., Geely Group Ltd., dan Dongfeng Peugeot Citroen Auto Co. Sementara itu, pasar otomotif di Cina dalam beberapa tahun terakhir ini dikuasai GM dan VW. Menurut data yang dilansir Chery, pada 2007, Shanghai GM menguasai 9% pangsa pasar, sedangkan Grup VW, yaitu FAW VW sebesar 8,9% dan Shanghai FW 8,6%. Sebenarnya, jika digabungkan, Grup VW adalah penguasa terbesar otomotif di Cina. Kemudian, di posisi keempat adalah Chery yang menguasai 7,4%, menyusul Guangzhou Honda 5,4%, Dongfeng Nissan 5,1%, FAW Toyota 4,9%, Beijing Hyundai 4,3%, dan Geely 4,1%.

Berdasarkan kelompok bisnis, China Automotive Review mencatat ada 16 kelompok besar grup bisnis otomotif di negeri ini. Grup bisnis otomotif ini ada yang menggandeng pabrikan otomotif dari luar dan ada juga yang berdiri sendiri. Seperti pada 2007, berdasarkan penguasaan pasarnya per grup, Shanghai Automotive Industry Corporation yang bermitra dengan GM dan VW berada di urutan pertama dari sisi penguasaan pasar. Berikutnya menyusul Fisrt Automobile Group Corp. yang bermitra dengan VW, Toyota dan Mazda, serta Dongfeng Motor Corp. (PSA, Nissan, Renault, Honda). Sementara, yang tidak berafiliasi dengan pabrikan otomotif dari luar, di antaranya Chery Automobile Co. Ltd., Gelly Holding Group, dan Hafei Automobile Co. Ltd.

Total penjualan dari ke 16 kelompok bisnis omototif Cina ini mencapai 8.802.093 unit pada 2007 atau tumbuh 21,9 % dari tahun sebelumnya yang sebesar 7.221.613. Angka penjualan ini merupakan gabungan dari total penjualan berbagai jenis kendaraan yang terbagi dalam tiga kategori: passenger vehicle, commercial vehicle dan heavy duty vehicle.

Seperti diungkapkan Jusak Kertowidjojo, Vice President Director dan Chief Operating Officer Grup Indomobil, penjualan otomotif terbesar dunia adalah AS, yakni sekitar 16 juta unit per tahun. Lalu, Cina 8 juta dan pada 2008 ditargekan mencapai 10 juta unit. Posisi selanjutnya adalah Jepang sebanyak 6 juta, dan Jerman 4 juta unit. “Cina memegang peranan penting dalam industri otomotif di dunia,” kata Jusak menegaskan. Ini pula yang membuat Indomobil menjadi agen tunggal pemegang merek dua mobil Cina, yaitu Chery dan Foton, di Indonesia dan kini sudah memasarkannya.

Kedua merek yang diageni Indomobil itu tergolong merek yang andal di negaranya. Chery, misalnya, kalau dilihat berdasarkan penjualan per merek, berada di posisi keempat, sementara per kelompok bisnis di posisi ketujuh karena merek ini mengkhususkan diri pada produksi mobil penumpang. Total penjualannya pada 2007 mencapai 381 ribu unit, dan selama 9 bulan pertama tahun 2008 Chery masih menduduki peringkat pertama di antara perusahaan otomotif domestik lainnya dengan mencatatkan penjualan 275.796 unit.

Kalau dilihat dari volume ekspor, Chery adalah pengekspor mobil penumpang terbesar dari seluruh pabrikan di Cina sejak 2003. Di 2007, misalnya, Chery mengekspor 119.800 unit. Dan, dalam 9 bulan pertama tahun 2008, jumlah ekspornya 115.494 unit atau menguasai 50% pasar ekspor kendaraan di Cina secara keseluruhan.

Saat ini Chery diekspor ke 60-an negara, termasuk Indonesia sejak 2006. Chery masuk ke negara lain tak sekadar menjual, tapi juga mendirikan pabrik perakitan. Di Indonesia, pabrik perakitan Chery berada di Pulau Gadung, Jakarta. Saat ini, Chery mengejar pangsa pasar yang lebih besar lagi. Apalagi, dengan telah dioperasikannya pabrik ke 8 Chery di luar Cina, yakni di Malaysia. Chery berencana membangun dua pabrik lainnya di luar Cina.

Sonja Kurono, Direktur Departemen Promosi Merek Chery, menjelaskan, perusahaan ini didirikan pada 18 Maret 1997 oleh Pemerintah Provinsi Anhui yang menjadi pemilik tunggal Chery hingga saat ini. Dua tahun kemudian, Chery berhasil meluncurkan mobil pertamanya. Dalam perjalanannya, pada 16 Juni 2001 Chery berhasil memproduksi 10 ribu unit dan pada Maret 2006 sebanyak 500 ribu unit. “Pada 22 Agustus 2007 kami berhasil memproduksi 1 juta unit,” kata ekspatriat asal Jerman itu. Sekarang, Chery memiliki lebih dari 10 varian produk, mulai dari sedan, sport utility vehicle (SUV), city car dan multi purpose vehicle (MPV). Di Indonesia , produk Chery yang sudah dipasarkan UPM adalah Chery QQ (city car) dan Tigo (SUV).

Adapun mesin yang dipakai pabrikan ini adalah Chery Acteco, mesin produksi Chery sendiri hasil kerja sama dengan AVL Austria. Di Cina, Chery menjadi produsen mesin mobil terbesar kedua. Pembuatan mesin Chery ini menggunakan tangan-tangan robot yang didatangkan dari Jerman dan Italia untuk menjaga kualitasnya. Pabrik Chery yang berada di Kota Wuhu, Provinsi Anhui, seluas 200 hektare tersebut per tahun mampu memproduksi 650 ribu unit kendaraan, 400 ribu mesin, dan 300 ribu gearbox.

Sejak Maret 2006, mesin Chery Acteco diekspor ke AS, yang disebut-sebut sebagai mesin mobil produk Cina pertama yang diekspor ke Negeri Abang Sam itu. Bahkan pada 31 Oktober 2006, Chery dipercaya memasok mesinnya yang berkapasitas 1600 cc dan 1800 cc ke Grup Fiat Italia. Setahun kemudian, kedua perusahaan melakukan joint venture untuk memproduksi dan mendistribusikan kendaraan milik Fiat bermerek Alfa Romeo dan Fiat, serta mobil di bawah merek Chery. Kerja sama ini akan dimulai pada 2009 dengan estimasi produksi 175 ribu unit/tahun.

Selain Fiat, Chrysler pun menggandeng Chery untuk memproduksi mobil sub compact bermerek Chrysler untuk dipasarkan di Amerika Utara, Eropa dan pasar otomotif utama lainnya. Kedua perusahaan ini juga bekerja sama mengembangkan produk-produk baru yang bisa berkompetisi di tingkat global. Dengan sejumlah reputasi itu, Chery pada 2008 mendapatkan penghargaan dari Majalah Fortune dan Hay Group sebagai salah satu perusahaan Cina terkemuka. Chery menerima penghargaan ini untuk ketiga kalinya seejak 2006.

Bagaimana prospek industri otomotif Cina di 2009? Menurut Automotive Resources Asia, unit bisnis J.D. Power, sejumlah eksekutif dari produsen utama mobil di Cina meramalkan, pertumbuhan penjualan mobil penumpang di 2009 ini kurang dari 5%.

Padahal, tahun 2007 pertumbuhan mobil penumpang tersebut mencapai 21%. Namun, pertumbuhan penjualan pada 10 bulan pertama di 2008 melambat hingga 10% dibanding periode yang sama di tahun 2007. Hal ini akibat krisis yang terjadi baik di dalam negeri maupun di tingkat global. Sementara di tahun 2009 ini penjualan segmen kendaraan ini diprediksi kurang dari 6 juta unit atau lebih kecil dari pencapaian di tahun 2008.

Namun, para pelaku industri otomotif di Negeri Panda ini optimistis, pasar otomotif Cina masih tetap cerah karena potensi pasar di dalam negeri masih tergolong kuat.***

Published on Majalah SWA

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.