Marhaban Yaa Taipan Arab…

Para investor asal Timur Tengah mulai menancapkan kukunya di Indonesia. Sejumlah sektor bisnis jadi incaran mereka. Siapa saja mereka dan berapa dana yang akan dibenamkan di sini?

Dede Suryadi dan Tutut Handayani

Para pemilik modal asal negara-negara Timur Tengah belakangan rajin menyambangi Indonesia. Mereka tak lagi sekadar melawat untuk melihat kondisi negeri ini, tapi sudah dalam tahap menginvestasikan modalnya di berbagai lini usaha dengan nilai yang tak sedikit. Menurut data kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah,sampai akhir 2007 total investasi yang sudah diinvestasikan oleh para investor Tim-Teng untuk berbagai proyek infrastruktur, properti dan jasa keuangan di negeri ini mencapai US$ 3,3 miliar.

Dengan pencapaian itu, pemerintah pun makin bersemangat dengan menargetkan aliran investasi dari Tim-Teng pada 2008 mencapai US$ 5 miliar atau Rp 46,5 triliun. Dan, sepertinya target ini bakal tercapai, mengingat para investor kawasan penghasil minyak utama di dunia itu terus berdatangan ke negeri ini dan siap menggelontorkan fulusnya.Tak hanya di pasar modal, mereka pun menginvestasikan banyak dananya secara langsung ke pebagai sektor bisnis.

Dua tahun lalu, data investasi Tim-Teng ke Indonesia masih kurang memuaskan. Hingga Februari 2006, hanya ada tiga negara Tim-Teng yang berinvestasi di Indonesia cukup dominan, yaitu Yaman, Arab Saudi dan Libia. Nilai investasinya pun relatif kecil: Yaman US$ 600 ribu, Arab Saudi US$ 500 ribu dan Libia US$ 300 ribu. Iyang minim itu menjadi perhatian pemerintah. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kala itu sempat khawatir melihat rendahnya investasi Tim-Teng ke Indonesia. Apalagi, sepanjang 2004-05 terjadi penurunan investasi dari Tim-Teng ke negeri ini.

Nah, sekarang keadaannya berbeda. Investor Tim-Teng berduyun-duyun menyerbu Indonesia. Bukan tanpa alasan mereka menghampiri negeri ini. Indonesia telah menjadi sasaran penting untuk melabuhkan investasi mereka. Para investor Tim-Teng ini melihat Indonesia sebagai negara yang berpotensi menjadi pasar yang besar di regional Asia karena jumlah penduduknya lebih dari 200 juta jiwa. Selain itu, Indonesia adalah negara Muslim terbesar sehingga berpotensi menjadi pasar produk bank syariah. Apalagi, menunjukkan kemajuan dalam bisnis perbankan syariah. Juga, sumber daya alam negeri ini masih berpotensial digarap, sehingga menjadi daya tarik tersendiri.

Hal lain yang mendorong orang Arab berinvestasi besar-besaran, khususnya di Indonesia dan negara Asia lainnya, di antaranya kelebihan dana (likuditas) setelah meroketnya harga minyak mentah dunia pada awal tahun ini. Maklum, kawasan tersebut memiliki potensi ekonomi berupa 60% cadangan minyak dunia, dan 30% cadangan gas dunia. Naiknya harga minyak itu membuat negara-negara Tim-Teng makin diperhitungkan sebagai investor baru dunia. Bersama Rusia sebagai produsen minyak dan gas terbesar Eropa, Tim-Teng dianggap sebagai pemegang kapital dunia saat ini.

Di satu sisi, para pemodal Tim-Teng ini enggan berinvestasi di Amerika Serikat ataupun Eropa. Bukan karena AS sedang krisis seperti sekarang, tapi jauh sebelum itu, pasca-tragedi 11 September 2001, Pemerintah AS dan Eropa sering mencurigai dana dari Tim-Teng terkait terorisme. Salah satu contohnya, Agen Keamanan Nasional (National Security Agency) AS pernah memaksa perusahaan asal Uni Emirat Arab (UAE), Dubai Ports World, menjual sejumlah fasilitas pelabuhan utama AS ke perusahaan AS. Alasannya, demi memadamkan kekhawatiran terhadap kemungkinan aksi teroris.

Dengan kondisi seperti itu, para raja minyak mulai melirik , termasuk Indonesia. Asia merupakan pasar yang menjanjikan karena pertumbuhan ekonominya bersinambung dan serentak di sejumlah kawasan. Kondisi sosial politik di Asia pun dinilai cukup stabil.

Pemerintah Indonesia sendiri nampaknya sangat menyadari pentingnya para investor Tim-Teng dengan menyambut bola agar tidak lepas. Hal ini ditunjukkan dengan kunjungan SBY dan para menteri ke Tim-Teng serta diangkatnya Alwi Shihab sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk Tim-Teng. Alwi mengatakan, salah satu alasan dirinya ditunjuk adalah untuk menghadapi para calon investor Tim-Teng yang berminat berinvestasi di Indonesia. Namun, para investor ini belum merealisasi minatnya karena terbentur dengan persoalan citra negara ini yang terkesan sangat tidak kondusif dan tidak friendlybuat investor asing. “Saya ini tugasnya untuk menyakinkan para investor asing dari Arab bahwa citra yang buruk itu tentang Indonesia itu tidak benar. Saya sampai door to doorkepada calon investor itu untuk menyakinkan bahwa Indonesia itu tidak seburuk yang mereka sangka. Dan, alhamdulillah, mereka berhasil saya yakinkan,” katanya bangga.

Alwi juga menjadi mediator bagi pengusaha atau perusahaan Indonesia yang ingin berbisnis di Tim-Teng. Contohnya, berdirinya perusahaan patungan antara Indonesia dan Iran, Hengham Petrochemical Company, yang memproduksi amonia dan urea dengan kapasitas 990 ribu metrik ton amonia dan 1.150.000 metrik ton urea per tahun di Iran. Perusahaan patungan bernilai US$ 750 juta ini hasil kerja sama antara Pupuk Sriwijaya, NPC Intenational, dan Petrochemical Industries Investment Company.

Dengan Maroko, akhir Desember tahun lalu konsorsium Indonesia yang terdiri atas Petrokimia gresik, Pupuk Kaltim, Bosowa Energi dan Medco Energy International telah menandatangani memorandum of understanding (MOU) dengan Office Cherifen Des Phosphate (BUMN pertambangan Maroko) untuk pembangunan pabrik pupuk fosfat berkapasitas 400 ribu ton senilai US$ 300 juta.

Menurut Alwi, hasil kerja sama dengan perusahaan Tim-Teng, di antaranya adalah berdirinya Al Ijarah — perusahaan multifinanceberbasis syariah yang pertama di Indonesia. Ini hasil patungan Bobyan Bank, International Leasing and Investment Company milik Islamic Development Bank yang berpusat di Kuwait, dan Bank Muamalat Indonesia. Lalu, EMAAR, konsorsium beberapa perusahaan dari UEA, akan masuk ke Indonesia dan membentuk perusahaan patungan (85% saham EMAAR dan 15% perusahaan Indonesia) guna mengembangkan aset tanah milik negara di Lombok seluas 1.200 hektare yang akan dijadikan kawasan pusat pariwisata internasional. EMAAR sudah membenamkan dana US$ 600 juta dan pembangunannya direncanakan selesai dalam waktu 3-4 tahun mendatang.

Kemudian, LIMITLESS (Dubai World Group), perusahaan pengembang raksasa milik Pemerintah Dubai yang tengah melakukan finalisasi perjanjian kerja sama dengan Grup Bakrie dalam proyek Rasuna Epicentrum, Jakarta, yang akan menjadi pusat pengembangan bisnis terbesar di Asia Tenggara seluas 60 ha. Malah, perusahaan Grup Bin Ladin juga telah menambah kepemilikan sahamnya di Grup Bakrie lewat PT Bakrie dan Brothers Tbk.

Yang baru, Grup Al Baraka akan masuk ke bisnis perbankan syariah dengan cara mengakuisisi bank kecil. Dan, yang sedang hangat dibicarakan saat ini adalah Qatar Investment Authority, yang membentuk perusahaan patungan dengan Pemerintah Indonesia dengan modal awal US$ 1 miliar yang akan masuk ke bidang infrastruktur.

“Jangan salah lho, investor Timur Tengah yang masuk ke Indonesia itu investor-investor besar yang punya dana siap cair,” Alwi menegaskan.

Contoh lain, Ras Al Kheimah Investment Authority dari UEA. Perusahaan ini bakal mengembangkan terminal curah untuk menampung hasil pertanian, perkebunan dan pertambangan di Pelabuhan Tanjung Siapi-api, Sumatera Selatan. Rencananya, pembangunan dimulai tahun depan. Selain itu, ada Qatar Telecom (Qtel) yang telah membeli saham perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di negeri ini, Indosat.

Adnan Ahmed Yousif, Presiden &CEO Albaraka Banking, mengatakan kepada wartawan SWA sebenarnya pihaknya sejak 2,5 tahun lalu berencana membuka kantor cabang Bank Albaraka di Indonesia. Menurutnya, pemilik Albaraka Banking Group (ABG), Sheikh Saleh Abdulla Kamel, berniat berinvestasi langsung di industri perbankan Indonesia dengan cara membangun kantor cabang, selaiknya bank-bank asing yang lebih dulu hadir di Indonesia.

Grup ini tertarik berinvestasi di negeri ini karena hubungan perdagangan dan ekonomi antara Indonesia dan negara-negara Arab, termasuk Bahrain – lokasi kantor pusat ABG — semakin berkembang. Hal ini mendorong sejumlah -lembaga keuangan Islam, termasuk Al Baraka, berniat berbisnis di Indonesia, terlebih mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim. “Al Baraka ingin berpartisipasi dalam persoalan pembiayaan investasi atau pendanaan dan memberikan fasilitas perdagangan dan investasi antara Indonesia dan negara-negara Arab,” kata Adnan memberi alasan.

Namun, sayangnya, niat membangun kantor cabang bank dan mengoperasikannya langsung terbentur oleh peraturan Pemerintah Indonesia yang belum mengizinkan para investor asing membuka bank Islam di negeri ini. Karena itu, Al Baraka akhirnya hanya bisa membuka kantor perwakilan yang tidak berfungsi sebagai kantor bank, tapi untuk memfasilitasi proses investasi dan pembiayaan dari Indonesia ke Arab, dan sebaliknya.

Di Indonesia, ABG akan fokus pada pembiayaan sektor agroindustri yang bisa berupa joint venture. Total dana yang diinvestasikan sekitar US$ 5 miliar yang siap dikucurkan per akhir 2008. Dan, tidak menutup kemungkinan akan mengakuisisi beberapa bank kecil dan mengonversikannya menjadi bank syariah. Bank apakah itu? “Saya tidak bisa menyebutkannya karena sedang dalam proses studi kelayakannya,” ujar Adnan berkelit. Yang jelas, sampai saat ini, Albaraka sudah menjalin kerja sama investasi dengan Grup Bosowa untuk pendanaan berbagai macam proyek infrastruktur milik Bosowa.

Anita Avianty, Head of Corporate Communication — GSM milik Saudi Telecom Company dan Maxis Communications Malaysia, menceritakan pengalaman membangun bisnisnya di Indonesia. Axis berhasil membangun lebih dari 200 base transceiver stationdi seluruh Indonesia dengan rata-rata pembangunan 80 BTS setiap minggu. Dan, dana sekitar US$ 1 miliar telah dibenamkan untuk proses mempercepat penetrasi pasar Axis di Indonesia sampai akhir 2008.

Diakui Anita, Axis memang menyasar konsumen pemakai telepon seluler yang menginginkan tarif percakapan yang murah dan terjangkau. Meski demikian, Axis tetap menjaga kualitas sinyal dan suaranya. Axis menawarkan sistem telekomunikasi seluler dengan tarif terjangkau, simpeldan transparan tanpa disertai syarat dan ketentuan yang tersembunyi. Hal ini sesuai dengan hasil analisis pasar tim Axis, bahwa masih ada 150 juta orang yang belum memiliki akses atas komunikasi seluler karena terbentur biaya. “Inilah peluang bagus yang dilihat oleh para pemegang saham Axis, sehingga mau berinvestasi di Indonesia,” ujarnya. Sekarang, ada beberapa wilayah yang menjadi titik sasaran agresif Axis, yakni Jabodetabek, Jawa, Banten, Bali, Lombok dan Sumatera Utara. Dan, Axis siap menjangkau seluruh wilayah Nasional pada 2009.

Adiwarman Karim, pengamat bisnis dari Karim Business Consulting, berkomentar, meski investari Tim-Teng sedang marak di sini, ada hal yang patut diperhatikan, yakni sampai sejauh mana likuiditas para investor Tim-Teng tersebut mampu bertahan. Pasalnya, para investor Tim-Teng itu diuntungkan sekali dengan melonjaknya harga minyak bumi sehingga memiliki dana yang sangat besar. Namun, sekarang harga minyak anjlok.

Lalu, reputasi para investor ini, terutama tim manajemen di belakangnya,juga patut dipelajari: apakah mereka memiliki profesional yang tepat dan berintegritas tinggi untuk mengelola dana mereka? Mengapa? “Karena para pemilik dana ‘cair’ ini menjadi sasaran empuk para fund manager. Namun, ciri para investor ini inginnya berinvestasi langsung di sektor riil, khususnya di Indonesia. Alasannya, bisa lebih memantau perputaran dananya,” ia menuturkan.

Terkait dengan pemantauan atau pengawasan, menurutnya, para investor Tim-Teng lebih senang membangun kantor perwakilan karena lebih bisa menghemat biaya operasional dibandingkan membuka kantor cabang seperti bank karena akan memerlukan dana dan SDM yang banyak. Untuk membuka kantor cabang bank di Indonesia, berdasarkan peraturan perbankan Indonesia saat ini, paling tidak harus punya 200 kantor cabang terlebih dulu. Sementara, untuk buka bank baru pun, harus punya modal sekitar Rp 1 triliun. Apalagi, sekarang ada pembatasan dari Pemerintah Indonesia untuk bank asing yang ingin membuka cabangnya di sini. Maka, pilihan yang paling menarik adalah mengakuisisi bank-bank kecil yang dikonversi menjadi bank syariah.

Intinya, yang patut dicamkan oleh para pengusaha Indonesia adalah sejauh mana komitmen para investor tersebut berinvestasi di Indonesia di saat negeri ini masih dikenal sebagai negara yang no investor friendly.Hal ini yang tertanam kuat di benak para investor, bukan hanya dari Tim-Teng, tapi dari negara mana pun.

Nah, stigma ini harus dikikis, terutama oleh pemerintah pusat maupun daerah dengan mewujudkan investasi mereka agar tak sekadar menjadi niat yang hanya baru sampai tahap MOU, tanpa ada kelanjutannya. Tentu saja, orang Indonesia harus membuktikan bahwa negeri ini friendly for investment. Salah satu caranya adalah dengan menjalankan birokrasi yang lebih lean, transparan dan beretika tinggi.

Riset: Arya Eka Nugroho

Published on Majalah SWA

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.