Bantuan Pembiayaan bagi Usaha Kaum Papa

Akhir-akhir ini, pembiayaan bagi usaha mikro makin marak dilakukan. Pemerintah sendiri sedang gencar menjalankan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Per Juni 2008, KUR yang telah disalurkan mencapai Rp 7 triliun. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2007, terdapat 44,6 juta unit usaha menengah mikro — 91,26% dari total usaha — di Indonesia. Ini menunjukkan betapa strategisnya usaha mikro dalam menopang perekonomian bangsa ini jika digarap lebih serius.

Nah, besarnya angka usaha kecil itu juga mendorong banyak pihak yang peduli untuk membantunya, tak hanya pemerintah. Sebut saja, Yayasan Dharma Bakti Parasahabat (Parasahabat), Baitul Maal Wat-Tamwill besutan Amin Aziz, dan micro financing services oleh Medco Foundation, yang memberikan pembiayaan bagi usaha kaum kecil dengan cara masing-masing.

Parasahabat didirikan oleh tiga sekawan mantan petinggi di Grup Astra, perusahaan otomotif terbesar di negeri ini. Mereka adalah T.P. Rahmat, Benny Subianto dan Palgunadi. Yayasan ini mengadopsi konsep Grameen Bank di Bangladesh yang digawangi Muhammad Yunus, penerima Nobel Perdamaian 2006.

Dalam aktivitasnya, Parasahabat menjalankan program penyediaan modal kerja untuk usaha mikro, khususnya bagi kaum perempuan yang menjalankan usaha kecil, tapi tidak punya akses ke perbankan. Parasahabat memang membidik pelaku usaha mikro yang berpotensi, tapi belum tumbuh. Setiap perempuan yang tergabung dalam kelompok diberi pinjaman Rp 2 juta. Mula-mula hanya satu orang. Setelah satu orang ini berhasil, pinjaman akan dialihkan ke anggota kelompok lainnya. Makanya, keberhasilan anggota sangatlah mutlak bagi keberhasilan kelompok tersebut. Tak hanya sekadar memberi pendanaan, yayasan ini juga memberikan pembinaan agar kelompok tersebut sukses.

Pinjaman yang diberikan berupa kredit tanpa agunan. Pengumpulan cicilan dibuat mingguan. Bahkan, dikembangkan pula menjadi layanan kredit bulanan. Contohnya, orang yang semula hanya punya warung kecil kini sudah bisa memperluas warungnya atau membangun warung telekomunikasi. Aktivitas Parasahabat telah menjangkau 52 lokasi yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur. Perkembangan yayasan ini cukup pesat. Pertengahan tahun lalu, telah melayani kredit bagi 200 ribu perempuan pengusaha skala mikro.

Kemudian, Baitul Maal Wat-Tamwill (BMT) yang memberikan alternatif pembiayaan usaha mikro sejak 1995. Pembentukan BMT oleh Amin Azis — juga pendiri Bank Muamalat Indonesia — diawali di Jakarta, tetapi kemudian berkembang hingga ke seluruh Indonesia. Saat ini, jumlahnya lebih dari 3.000 BMT. Amin optimistis angka ini akan meningkat di masa-masa mendatang. Penulis buku The Power of Al-Fatihah ini memperkirakan, jumlah BMT di akhir 2008 bakal mencapai 3.700 unit di seluruh Indonesia.

Yang menarik, BMT dibentuk dengan urunan modal sendiri dari masyarakat, bukan dari pemerintah ataupun lembaga tertentu. Memang, maksud pembentukan BMT ini sejak awal adalah membantu usaha kecil, tapi dananya dari tabungan mereka sendiri. Dan, karena BMT didirikan oleh dan untuk masyarakat kelas bawah itu sendiri, modal yang terkumpul sering tidak banyak. Kendati demikian, BMT-BMT tersebut bisa sukses dan modalnya pun bisa menjadi berkali-kali lipat dibandingkan ketika awal terbentuknya.

Sebagai contoh, sebuah BMT di Lasem, Kabupaten Rembang, Ja-Teng, yang terbentuk tahun 1996. Pada awal terbentuknya modal BMT tersebut hanya Rp 3 juta, tetapi sekarang asetnya telah mencapai Rp 100 miliar. Lalu, BMT Maslahah Mursalah lil Ummah (MMU) di Sidogiri, Pasuruan, saat ini asetnya Rp 100 miliar lebih.

Diakui Amin, badan hukum dalam pendirian BMT ini adalah koperasi, yang telah dikenal oleh banyak orang sebagai self help organization (SHO). Pendirian lembaga seperti ini memang dimaksudkan untuk menolong perekonomian para anggotanya. Namun, Amin juga menegaskan, ada sedikit perbedaan antara BMT dan koperasi. “Berbeda sedikit dari koperasi karena BMT sifatnya lebih partisipasi, lebih digerakkan oleh masyarakat bawah dan mereka punya kesadaran yang lebih untuk berbuat baik kepada orang-orang kecil,” doktor lulusan Iowa State University AS ini menjelaskan.

Tata cara pelaksanaan BMT pun tidak berbeda jauh dari koperasi. Dalam suatu populasi masyarakat, ada kalangan yang perekonomiannya benar-benar kekurangan dan ada pula yang berkecukupan atau bahkan berlebihan. Kalangan masyarakat yang perekonomiannya berlebih itu menabung di BMT, dan uang tersebut dipinjamkan ke masyarakat yang perekonomiannya tergolong kekurangan untuk menambah modal usahanya.

Agar masyarakat yang perekonomiannya tergolong mampu tersebut mau menabung di BMT, pihak Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) turun tangan dalam hal memberikan motivasi dan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk saling membantu sesama. Masyarakat diberi penjelasan tentang mengapa mereka harus beribadah dan membantu sesama, dalam hal ini beribadah dalam arti sosial dan bukan hanya dalam arti fisik.

Amin menambahkan, pihaknya bekerja sama dengan Departemen Sosial sejak 2005 dalam rangka mendirikan BMT fakir miskin, yaitu BMT yang lebih ditujukan untuk fakir miskin. Dalam pembentukannya, dimulai dari menggalang dana dari fakir miskin, kemudian dilanjutkan dengan penggalangan dana dari kalangan yang berada dan dibantu juga oleh Depsos.

Sejauh ini di Indonesia ada 87 BMT fakir miskin yang tersebar di 17 provinsi, dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam hingga Maluku Utara. Akan tetapi, BMT secara umum sudah tersebar di seluruh provinsi di Indonesia dari NAD hingga Papua dan jumlahnya telah lebih dari 3.000 BMT. Meskipun didirikan berdasarkan ajaran syariah, BMT tidak terbatas hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang beragama Islam. Masyarakat non-Muslim pun banyak yang menjadi anggota BMT. Dengan demikian, persaudaraan antaragama dan antarsuku juga menjadi lebih erat karena dalam BMT dibangun semangat saling menolong.

Tak ketinggalan, PT Medco Energy, melalui Medco Foundation, menyebarluaskan micro financing services (MFS). Pola ini juga mengadopsi prinsip bantuan usaha kecil oleh Grameen Bank. “Tak kurang dari 2.000 mitra usaha kecil yang tersebar di Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, hingga Jawa Tengah yang telah bekerja sama dengan MFS,” ujar Arifin Panigoro, pendiri Grup Medco.

MFS tidak hanya berada di daerah operasi minyak dan gas yang dikelola oleh anak usaha Medco, tapi juga di daerah-daerah yang mengalami bencana alam sebagai bentuk bantuan pemulihan ekonomi warga setelah mereka melewati fase tanggap darurat, di antaranya di Aceh pascatsunami 2004 dan Bantul setelah gempa 2006. Dana yang digelontorkan perusahaan ini mencapai US$ 1,5-2 juta/tahun. Belum lagi dana dari kantor Arifin sendiri yang sedang mengembangkan pola kemitraan di bidang agrobisnis dengan petani.

Banyak lembaga/perusahaan yang melakukan pembiayaan untuk kaum papa ini sebagai bentuk kepedulian mereka. Dengan bantuan pembiayaan ini, pengusaha mikro yang kesulitan modal dapat terus mengembangkan bisnisnya. Dengan demikian, selain meningkatkan kemakmuran mereka sendiri, mereka pun mampu menyediakan lapangan kerja bagi orang lain, kendati dalam skala kecil.

Dede Suryadi, Herning Banirestu dan Kristiana Anissa
Riset: Siti Sumariyati

Published on Majalah SWA

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.