Bagi para analis dan investor, penerapan GGC oleh sebuah perusahaan mutlak dilakukan. Inilah emiten pilihan yang menerapkan GCG terbaik di mata mereka.
Dede Suryadi
Good corporate governance (GCG) bisa dijadikan tolok ukur untuk melihat kestabilan perusahaan. Pasalnya, di dalam GCG diterapkan aspek-aspek yang meliputi transparansi, akuntabilitas, responsibilitas dan fairness. Kadang, perusahaan yang sudah bagus atau establish sejak lama, tapi masih lemah dalam penerapan GCG, bisa rontok dalam sekejap. Kasus Enron dan Worldcom menjadi bukti yang tak terbantahkan.
Di sinilah perlu peran pihak lain dari luar perusahaan seperti investor publik, akuntan publik, para analis dan masyarakat yang bisa memberikan suatu keseimbangan pengawasan perusahaan. “Keterbukaan sangatlah diperlukan, terutama untuk melindungi kepentingan investor. Karena jika dirugikan, para pemegang saham juga yang akan terkena dampaknya,” kata Norico Gaman, analis PT BNI Securities.
Biasanya, perusahaan publik yang tidak menerapkan GCG dengan baik akan melakukan aksi korporasi yang tidak diketahui publik. Setelah mengalami kesulitan baru diumumkan kepada investor publik. Terkadang, dikatakan Norico, penerapan GCG pada perusahaan publik istilahnya seperti kosmetik belaka. Juga, laporan seoalah-olah dibuat sebagus mungkin, tapi saat mengalami krisis barulah terungkap borok-boroknya.
Perusahaan juga tidak menyampaikan informasi secara benar sesuai dengan fakta. Pihak manajemen terlalu memoles kinerja keuangan perusahaan sehingga perusahaan tersebut seperti mendapat keuntungan yang signifikan. “Sama yang dialami Bakrie & Brothers, mereka baru ketahuan menjaminkan sahamnya setelah mengalami kesulitan. Sebelumnya, manajemen perusahaan ini tidak menyampaikan informasi tersebut kepada publik,” ujar Norico memberi contoh.
Lalu, dalam pandangan investor dan analis, mana saja perusahaan publik yang dianggap telah menerapkan GCG dengan baik? Pertanyaan inilah yang kemudian dituangkan dalam survei yang dilakukan oleh Tim Riset Majalah SWA. Survei ini menjaring 100 responden yang terdiri atas para analis dan investor, baik investor individual maupun korporat — seperti manajer investasi (fund manager).
Survei dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada para responden pada 10-28 November 2008. Dalam kuesioner tersebut, responden diminta menyebutkan emiten mana saja yang sudah menerapkan GCG. Lalu, mereka juga diminta menilai pelaksanaan dari aspek-aspek GCG perusahaan publik (emiten) itu, dengan memberikan skor 0-100. Nilai dari aspek-aspek tersebut kemudian dirata-ratakan sehingga hasilnya menjadi skor nilai GCG secara keseluruhan dari sebuah emiten.
Hasilnya? Dari sejumlah emiten yang ditanyakan kepada responden, terjaring 88 emiten. Hanya saja, perusahaan terbuka yang paling banyak disebut minimal oleh lima responden ada 26 perusahaan, yang kemudian mereka nilai dari lima aspek GCG tersebut. Yang menarik, meski sedang dalam sorotan karena masalah tata kelola perusahaannya, Bakrie Brothers dan anak usahanya, Bumi Resources, masuk dalam peringkat ke-25 dan 26 dalam survei SWA ini.
Urutan pertama ditempati Bank Mandiri. Urutan berikutnya, Astra Agro Lestari, Bank Niaga, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Unilever Indonesia, Astra International, United Tractors, AKR Corporindo, International Nickel Indonesia (Inco), dan Bank BNI — urutan selengkapnya, lihat Tabel. Sebagai jawara nomor wahid, Mandiri meraih skor total 81,28. Aspek-aspek GCG yang menonjol dari bank ini adalah transparansi dengan skor 85,8, lalu akuntabilitas (88,1); responsibilitas (88). Sementara nilai aspek lainnya, independensi (69,7) dan fairness (74,7), masih kalah dari emiten lain. Terutama, dengan Unilever yang memperoleh skor tertinggi dalam aspek independensi, yaitu 78,8. Untuk aspek fairness, angka tertinggi diraih Bank Niaga (84).
Di peringkat kedua, PT Astra Agro Lestari, membukukan total nilai 81,27. Nilai ini berasal dari lima aspek GCG: transparansi 83,7; akuntabilitas 84,4; responsibilitas 82,7; independensi 76; serta fairness 79,6. Di peringkat ketiga, Bank Niaga membukukan nilai total GCG 81,17 dengan skor masing-masing aspek GCG adalah transparansi 83,5; akuntabilitas 80,3; responsibilitas 81: independensi 77; serta fairness 84.
Published on Majalah SWA