Nama Golden Leaf Farm yang didirikan Johannes H. Hassannusi cukup tersohor sebagai produsen sayuran organik di Bali. Pasarnya pun tembus hingga ke luar negeri.
Dede Suryadi dan Silawati
Sebuah papan nama kecil bertuliskan Golden Leaf Farm (GLF) di ujung sebuah jalan berbatu yang menuju lembah di Desa Wanagiri, kawasan Wisata Bedugul, Kabupaten Buleleng, Bali. Saat memasuki kawasan GLF, tampak rumah-rumah kaca yang berjejer rapi. Di depan tiap rumah kaca tertulis jenis tanaman dan tanggal penanaman. Di sebuah bangunan terbuka terlihat beberapa pekerja wanita tekun memilih hasil panen sayuran yang dibawa pekerja laki-laki dengan gerobak dorong.
Terlihat pula kesibukan para pekerja lain yang sedang mencuci bersih sayuran di bawah kucuran air. Kemudian, sayuran tersebut dibawa ke meja lain, tempat untuk memasukkannya ke dalam kemasan plastik berlabel “Golden Leaf Farm – food organic”. Setelah itu, sayuran ditempatkan di boks-boks plastik untuk pengetesan kualitas sebelum dikirim ke pelanggan, seperti hotel berbintang, restoran dan supermarket. Semuanya dikerjakan nyaris tanpa suara, hanya gemericik air dan suara binatang hutan yang terdengar.
Nampak juga Johannes H. Hassannusi (50 tahun), pemilik GLF, di kawasan tersebut. Silawati dari SWA memasuki aula terbuka yang biasa dipakai sebagai tempat pertemuan tamu yang mengunjungi GLF. Minuman hangat pun disuguhkan dari sebuah teko transparan. Sebelumnya, Jo — panggilan sehari-hari Johannes H. Hassannusi — memasukkan segenggam dedaunan dan memetik beberapa lembar daun mint, dimasukkan ke dalam teko itu. Bila memerlukan pemanis, Jo menunjukkan tanaman yang daunnya terasa manis.
“Mengonsumsi makanan sehat bukan tren, tapi sudah merupakan kebutuhan,” ujar Jo memulai percakapannya. Menurutnya, penggunaan pestisida kimia yang tidak terkontrol dan rekayasa genetika yang dilakukan lewat transgenic hasil pertanian yang dikonsumsi masyarakat sebenarnya tidak layak lagi karena mengandung racun.
“Saya tidak ingin uang yang bertahun-tahun kita cari lewat kerja keras, akhirnya tidak bisa dinikmati karena harus habis untuk membeli obat-obatan dan membayar rumah sakit nantinya,” ia mengungkapkan. Makanya, makanan yang dihasilkan secara organik, menurut Jo, merupakan jawaban tepat untuk mendapatkan makanan sehat itu.
Kesadaran Jo untuk mengonsumsi makanan sehat terpupuk saat dirinya kuliah di Jerman pada awal 1980-an. Saat itu, Jerman sedang gencar-gencarnya menerapkan filosofi kembali ke alam. Ini akibat ditemukannya pangan beracun dan pengadopsian teknologi yang tidak layak pakai. Apalagi, kemudian air tanah di negara ini tercemar pestisida. Efeknya, pertanian dihentikan sementara dan pemerintah memilih membeli hasil pertanian dari negara lain.
Namun, di sisi lain, rumah-rumah pertanian di negeri tersebut harus tetap hidup karena merupakan sumber mata pencarian penduduk. Sebagai jalan keluarnya, pemerintahnya kemudian memanfaatkan tanah-tanah pertanian tersebut sebagi objek wisata berlibur sambil bercocok tanam tanpa pestisida, serta terus memperbaiki kondisi tanah dan air hingga bebas racun. Sejak saat itu, mulailah diterapkan pertanian organik secara masal.
Kebijakan pemerintah Jerman ini sangat menarik perhatian Jo dan menjadi obsesinya, yaitu memadukan pertanian dengan pariwisata. Kendati berlatar belakang pendidikan teknik dan manajemen, akhirnya ia memutuskan menggeluti bidang pertanian dengan mengajak salah seorang temannya yang mempunyai misi sama untuk mendirikan Bio Land di Lembang, Jawa Barat. Di atas lahan seluas 1,7 hektare, Jo mulai berbisnis pertanian dengan menanam buncis dan brokoli yang dipadukan dengan pariwisata. Ini terjadi pada 1997.
Alasan Jo sederhana: sebagai orang yang pernah belajar ekonomi, ia melihat ada peluang besar di lahan pertanian sayuran yang belum digarap secara profesional. Namun, ia mengakui awalnya belum bisa menerapkan pertanian organik karena harus melakukan perubahan lahan dulu, dari non-organik menjadi lahan organik, dengan cara memperbanyak mikroorganisme, memanfaatkan limbah pertanian menjadi makanan ternak, kemudian mengolah kotoran ternak menjadi kompos. Selain itu, ia juga harus melakukan pemuliaan bibit yang harus dilakukan secara organik, sehingga hasilnya benar-benar bisa dipertanggungjawabkan sebagai produk organik.
Hasil perdana buncis dan brokoli yang dihasilkan Bio Land mulai dipasarkan. Sayuran level A bisa langsung menembus pasar ekspor Singapura, dan level B dipasarkan ke berbagai katering di Jakarta dan Bandung. Sementara level C dilempar ke Pasar Caringin, Bandung.
Jo pun merasa bersyukur, di tengah krisis yang berkepanjangan menimpa Indonesia saat itu, ia bisa memilih pertanian sebagai profesi barunya “Paling tidak saya bisa mempekerjakan banyak orang,” ujarnya bangga. Bahkan, Jo juga mulai membentuk petani-petani plasma di sekitar areal pertaniannya.
Nah, suatu ketika saat mengunjungi keluarga sambil berlibur ke Bali tahun 1990, kelahiran Surabaya ini menemukan lokasi yang dianggap cocok untuk agrowisata organik. Letaknya di atas Danau Buyan dan Danau Tamblingan serta tidak jauh dari kawasan wisata Danau Beratan, Bedugul, dan merupakan jalan alternatif menuju kawasan wisata Lovina di Singaraja. Di wilayah ini, penduduknya kebanyakan menjadi petani kopi dan bunga hias. Yang menarik, tanah dan air di wilayah ini belum tercemar pestisida. Itu yang membuat Jo tertantang untuk mengembangkan pertaniaan organik di kawasan tersebut.
Untuk mewujudkan impiannya itu, ia menggandeng Inge Tejajuana yang dikenalnya saat kuliah di Jerman. Maka, keduanya membuat agrowisata organik GLF di atas lahan seluas 10 ha. Sebagai pionir produk organik di Bali, Jo mengakui GLF mempunyai pengalaman cukup pahit karena harus menghadapi masalah harga melawan produk non-organik yang selama ini dikenal pasar.
Baru setelah dua tahun berjalan, bisnis GLF mulai survivedan berkembang. Tengok saja, pada awal beroperasi GLF hanya memproduksi 12 jenis sayur organik, sekarang tidak kurang 70 jenis sayuran dan herbal organik yang berhasil dilemparnya ke pasaran dua kali seminggu.
Dibantu 80 karyawan, Jo rutin memasok 12-15 ton produk organik senilai Rp 180-200 juta/bulan untuk hotel dan supermarket di seluruh Bali. “Itu pun hanya bisa memenuhi 40% dari permintaan pasar,” kata Jo blak-blakan.
Ia merasa kesulitan memenuhi permintaan pasar karena terbatasnya lahan yang dimiliki. Selain perlu waktu yang cukup lama untuk mengubah lahan menjadi lahan organik, GLF juga secara konsisten memberlakukan proses produksinya secara organik, mulai dari pemuliaan bibit, tanah, hingga air yang dipakainya dijamin bebas pestisida.
Karena itu, Jo gencar mengajak para petani yang mempunyai areal berdekatan untuk membentuk kelompok-kelompok dan bernaung di bawah suatu perusahaan yang berbadan hukum sehingga bisa lebih menjamin produk yang dihasilkan benar-benar hasil pertanian organik sesuai dengan standar uji internal control system “Kalaupun perlu menggunakan pestisida, kami hanya memakai pestisida alami,” ujarnya menegaskan.
Jo dan Inge pun berbagai tugas. Ia lebih berkonsentrasi di bidang produksi, sedangkan Inge menangani pemasaran, serta aktif membina petani plasma untuk diajak bergabung. Seperti saat ini, GLF telah menggandeng 8 petani plasma dengan luas areal tidak kurang dari 7 ha. Mereka diajak bekerja sama memproduksi sayuran dan produk herbal organik lainnya. Selain itu, lewat petani plasma juga Jo rutin memasok empat jenis beras organik ke pasaran hingga 5 ton/bulan.
Selain di Bali, GLF pun memasok pasar di Surabaya, Jakarta hingga Singapura. “Pasar masih terbuka lebar,” ujarnya. Walaupun pasar masih terbuka, Jo tidak menampik bahwa persaingan di ranah ini cukup berat. Pasalnya, ada oknum pengusaha yang tidak konsisten menerapkan konsep pertanian organik untuk menekan harga. Selain pengusaha lokal, ada juga orang asing yang memakai label organik untuk produknya yang di lempar ke pasaran, tapi sumber produknya berasal dari lahan pertanian yang tidak terjamin. “Mereka hanya ingin mengeksploitasi pasar tanpa menjalankan misi,” kata Jo menyesalkan.
Selain itu, ketidapastian jaminan ecolabeling pemerintah juga dituding Jo menjadi penyebab ketidakpastian ketersediaan produk organik di pasaran. Namun, Jo tetap bisa bangga karena saat ini GLF merupakan pemasok terbesar sayuran organik bagi kalangan hotel, resto dan supermarket. Sayang, ia tidak mau merinci hotel atau resto mana saja yang sudah dipasoknya. Hanya saja, untuk supermarket, selain Carrefour dan Grup Tiara Dewata, produk GLF juga tersedia di hampir semua supermarket kawasan wisata Kuta dan Sanur.
Dawn Ellen, ibu rumah tangga asal Australia yang sedang asyik memilih sayur di rak kaca Bintang Supermarket di kawasan Seminyak, Kuta, mengatakan, makanan organik merupakan kebiasaannya sejak masih di Perth. Karena gemar memakan sayuran mentah seperti di negaranya, Dawn merasa lebih aman bila memilih produk-produk organik dibandingkan non-organik.
Menurut Dawn, kualitas dan jenis produk GLF yang tersedia di supermarket itu sangat bagus. Apalagi, sudah dikemas dalam ukuran kecil (rata-rata 200 gram). Ia mengaku sangat terbantu karena selalu mendapatkan produk yang segar. “Sangat lengkap,” katanya singkat. Meski demikian, dibandingkan harga sayuran non-organik, harga sayuran organik jauh lebih mahal.
Memang, Jo mengakui, dari segi harga, produk organik bisa 4-5 kali lipat lebih mahal dari produk non-organik. Ini karena biaya yang harus dikeluarkan untuk bercocok tanam organik mencapai dua kali lipat, sehingga rata-rata biaya yang dikeluarkan GLF mencapai Rp 130 juta/bulan. Menurutnya, GLF menerapkan kontrol mutu ketat terhadap produk-produknya. Hasil produksinya yang tidak lolos standar kriteria otomatis akan dipakai sebagai pupuk atau makanan hewan.
Makanya, kepada para pelanggannya, GLF memberi jaminan kepastian harga dan ketersediaan produk selama satu tahun ke depan. Karena itu, Jo menargetkan penjualannya tahun 2009 hanya sampai angka Rp 250 juta saja per bulan. “Kami tidak ingin tumbuh sendiri,” ujarnya.
Sekarang, Jo berobsesi menjadikan Bali sebagai cikal bakal perbaikan lingkungan karena konsep pertanian organik itu sebenarnya bukan hanya berguna untuk diri sendiri, tapi juga untuk memperbaiki lingkungan. Karena itulah, ia membuka lebar GLF bagi siapa saja yang berminat mengetahui seluk-beluk organik untuk berkunjung. “Kami jadikan GLF sebagai organic centre,” ungkapnya menginformasikan.
Makanya, berbeda dari kebanyakan kebun pertanian yang dikomersialkan, Jo tidak menjual produk pertanian organiknya ke pengunjung yang mendatangi langsung GLF, tapi hanya memberikan pembelajaran tentang seluk-beluk pertanian organik.
Sebagai organic centre, GLF juga menawarkan program outingdan gatheringbagi rombongan dengan menyediakan fasilitas indoor outdoor maksimal 500 orang. Program outingini, menurut Jo, dianggap bisa memberi subsidi silang untuk kelangsungan pertanian organiknya. Apalagi, di saat musim yang tidak menentu belakangan ini akibat perubahan harga BBM, flu burung hingga bom yang telah dua kali meledak di Bali. Ini menyebabkan penurunan jumlah wisatawan yang otomatis juga menurunkan permintaan pasar.
Karena itu, Jo mencoba makin gencar memasarkan ke pasar lokal lewat berbagai supermarket. Namun, ia mengaku perusahaannya tidak pernah merugi sejak mulai beroperasi, malah breakeven point berhasil dicapai pada tahun kedua. ”Organic living as a life style,” kata Jo mantap.***
Published on Majalah SWA