Gaya Adrian Benahi Piero

Awalnya, Adrian Riyadi tak ada minat meneruskan bisnis sepatu yang dibangun oleh sang ayah, Harijanto, di bawah bendera PT Unimitra Kharisma (UK). Bahkan Adrian setengah dipaksa oleh orang tuanya buat mengembangkan UK yang memproduksi sepatu merek Piero. Apalagi, saat itu UK tengah limbung dengan segudang masalah akibat Harijanto sudah tak bisa fokus di UK. Ia lebih mengembangkan bisnis sepatu yang lain, yakni PT Adis Dimension Footwear – yang memasok sepatu merek Nike.

“Tidak mudah juga meyakinkan Adrian,” ujar Harijanto mengenang. Bahkan, hampir patah arang ia merayu anaknya itu. Namun siapa sangka, meski awalnya setengah terpaksa, Adrian yang didapuk sebagai Direktur Pengelola UK, ternyata mampu membenahi Piero dari ambang kehancuran. Perlahan tetapi pasti, merek Piero mulai menanjak lagi dan segudang permasalahan di UK pun berangsur terkikis.

Pada awal 2007, setelah Adrian menyelesaikan pendidikannya di Academy of Art San Francisco, ia langsung bergabung dengan Piero. Pertama kali bergabung di UK, ia masuk ke tim komunikasi pemasaran. “Saya memilih di divisi ini dulu, karena paling dekat dengan latar belakang saya,” katanya memberi alasan, dan memang saat kuliah ia fokus di bidang periklanan.

Kelahiran 16 Juni 1985 ini menilai, kala itu kegiatan promosi Piero kurang menggigit, bahkan bisa dibilang tidak ada. Aktivitas untuk membangun merek sangat kurang. Pasalnya, Harijanto menganggap merek Piero sudah cukup dikenal. Jadi, tidak perlu jorjoran dalam membangun merek. “Tapi kan tidak bisa begitu. Promosi untuk merek harus terus dilakukan supaya pelanggan makin loyal,” ujar Andrian, yang mengaku pandangannya itu bertentangan dengan ayahnya. Maka, tak berapa lama berselang, ia mengajukan berbagai program promosi. Semua program itu disetujui meski harus melalui perdebatan panjang.

Program unik pun dilakukan, antara lain, Pieronation. Ini merupakan gimmick, di mana pelanggan Piero mengirimkan foto narsisnya bersama sepatu Piero, yang setiap bulan diambil tiga pemenang guna memperoleh sepasang sepatu. Adrian juga memanfaatkan jaringan Internet buat mendekatkan diri ke pelanggan. Selain meng-update situs, Piero juga rajin memperbarui Facebook-nya. “Pokoknya kami menaruh orang khusus buat menangani website kami,” ia menjelaskan. Dengan demikian, bila ada keluhan konsumen langsung mendapat jawaban. Kemudian, menjadi sponsor di berbagai ajang olah raga pun makin banyak dilakukan.

Pada penjualan dan distribusi yang tidak di-maintain dengan baik sebelumnya, Adrian juga membuat perbaikan. Ia membenahi gerai Piero di beberapa kota. Tidak saja dari segi displai, tetapi juga bagaimana awak gerai melayani pelanggan. “Kami menatar para penjaga gerai supaya bisa menjelaskan produk Piero,” katanya. Tidak cukup itu saja, bahkan Adrian juga mendatangi langsung kota-kota di mana Piero dijual. “Saya tanya apa kemauan mereka, sekaligus memetakan selera pasar di tiap daerah,” ungkapnya. Sebab kenyataannya, selera sepatu di tiap daerah selalu berlainan.

Tak hanya itu, sejak satu tahun belakangan, pihaknya sudah memutuskan kerja sama dengan distributor. “Kami akan distribusikan sendiri supaya lebih enak mengontrolnya,” kata Adrian seraya menambahkan, ada tiga tim di daerah Indonesia Timur, Tengah dan Barat untuk menangani penjualan. Gerai milik Piero pun akan ditambah dari sekarang yang jumlahnya baru 50-an di seluruh Indonesia.

Adrian mengubah pula arah bisnis Piero. Citra Piero sebagai sepatu sport ingin ditinggalkan. Ia mengarahkan Piero menjadi sepatu fashion. “Arah merek Piero lebih ke fashion performance, bukan lagi sport performance,” ia menegaskan. Jadi, tampilan Piero lebih kasual. Adrian beralasan, sepatu kasual semakin banyak digunakan ketimbang sport. Ini terbukti sebagaimana kasus di beberapa negara, yang menunjukkan bahwa sepatu kasual lebih laku. Tentunya, dengan perubahan citra ini, sasaran pasar Piero pun berubah dengan membidik usia 18-25 tahun.

Setelah cukup paham di divisi komunikasi pemasaran, Adrian mulai mendalami proses produksi. Di sini, lagi-lagi ia menemukan kejanggalan. “Ada proses produksi yang mestinya dijalani, tapi ditinggalkan,” tutur Adrian. Akibatnya, produk tidak sempurna.

Maka, ia pun membuat tim desain produk yang dikhususkan untuk mendesain sepatu. “Sebelumnya, saya sendiri yang mendesain sepatu. Tapi, setelah saya bentuk tim desain, merekalah yang melakukan,” katanya. Sekarang, yang ia tekankan dalam desain adalah produk diterima pasar. Dan satu lagi yang ditekankannya, yakni memperbanyak model. “Sebelum saya masuk, paling satu tahun hanya ada 30-an model. Sekarang ada 50-an model,” ujarnya menginformasikan.

Sementara itu, sang ayah berkomentar, apa yang didapat Adrian masih jauh dari hebat. Pasalnya, masih banyak yang harus dikembangkan dari Piero. Walau demikian, Harijanto tidak memungkiri keuletan putra sulungnya itu. Ia mengakui, di tangan Adrian, UK mampu bangkit dari masa keterpurukan. “Memang sekarang jauh lebih baik dibanding ketika saya tinggal dulu,” ungkap Harijanto. Selama dua tahun anaknya memegang kendali, Piero lebih inovatif dan produknya bertambah banyak.

Perlahan, Harijanto mulai melepaskan anaknya. “Sekarang saya hanya membantu dari strategisnya,” katanya, dan Adrian pun masih sering meminta pertimbangannya. Ini terutama soal bagaimana menjual. Menurutnya, Adrian masih harus banyak belajar bagaimana menjual produknya. “Produk sudah bagus, tapi belum bisa menjual dengan bagus,” tuturnya blak-blakan. “Tetapi saya yakin dalam lima tahun ke depan, pertumbuhan Piero akan bagus,” ia menambahkan. Dan, Adrian sendiri berobsesi untuk membuat merek sepatu yang bisa dijual hingga ke luar negeri.

Dede Suryadi dan Sigit A. Nugroho

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.