Reksa Dana Syariah Sedang Merekah

Sepanjang tahun ini, reksa dana syariah tumbuh tiga kali lipat. Jumlah produknya pun bertambah. Seperti apa perkembangan dan prospeknya?

Dede Suryadi

Tahun ini, reksa dana syariah (RDS) tergolong moncer kinerjanya. Data Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyebutkan nilai aktiva bersih (NAB) RDS dari awal Januari hingga 7 Agustus 2009 mencapai Rp 3,56 triliun, atau meningkat 101,1% dari NAB akhir 2008 sebesar Rp 1,77 triliun. Dan, sampai dengan 7 Agustus 2009 itu, proporsi jumlah RDS mencapai 7,69% dari total reksa dana yang aktif, sedangkan di akhir 2008 baru mencapai 6,59%.

Sementara itu total reksa dana, baik syariah maupun konvensional, pada periode yang sama NAB-nya mencapai Rp 101,68 triliun atau naik 34,10% dibanding posisi awal Januari 2009 (Rp 75,82 triliun). Kendati, kalau dibandingkan, posisi 7 Agustus itu lebih rendah dibanding posisi Juli 2009 yang sebesar Rp 103,66 triliun.

Selain NAB meningkat, jumlah produk RDS pun bertambah. Dari awal tahun hingga 7 Agustus 2009, terdapat 8 RDS baru yang memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK. Dengan demikian, secara kumulatif terdapat 44 RDS, atau meningkat 18,9% dibanding akhir 2008 yang berjumlah 37. Sementara itu, dilihat dari total industri reksa dana sampai dengan 7 Agustus 2009 tercatat 588 reksa dana termasuk 71 di antaranya yang efektif selama 2009. Jumlah reksa dana tersebut dikelola oleh 77 manajer investasi yang asetnya tersimpan dalam 16 bank kustodian.

Memang, kalau diperhatikan dari data tersebut, penetrasi RDS dibanding total industri reksa dana masihlah kecil. Eko Pratomo, Presdir PT Fortis Investments, mengatakan, pangsa pasar RDS ini sebesar 3%. Kendati masih kecil, Eko melihat instrumen investasi ini sedang tumbuh. Bahkan, dari awal tahun hingga saat ini telah tumbuh tiga kali lipat.

Kondisi RDS tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu. Pada 2008, NAB RDS justru turun hingga 17,72% dari Rp 2,20 triliun pada 2007 menjadi Rp 1,81 triliun. Demikian juga total NAB industri reksa dana juga turun 18,74% dari Rp 91,50 triliun pada 2007 menjadi hanya Rp 74,35 triliun di 2008. Tentunya, penurunan ini akibat krisis keuangan global yang sedang melanda saat itu. Namun, selama 2008, Bapepam-LK mencatat terdapat 37 RDS, yang berarti meningkat dibandingkan 2007 yang sebanyak 26 RDS.

Sejatinya, prospek pertumbuhan RDS masihlah besar di Indonesia. Kendala yang dihadapi selama ini adalah masalah edukasi serta terbatasnya instrumen dasar (underlying) yang sesuai dengan prinsip syariah. Akan tetapi, dengan program pemerintah yang diawali dengan penentuan daftar efek syariah, kemudian dikeluarkannya obligasi sukuk ritel maupun global, dan juga program lelang obligasi sukuk, peluang untuk segmen syariah akan semakin terbuka.

Menurut data Fortis, dari 37 RDS yang tersedia sekarang, 13 di antaranya adalah RDS campuran. Yang lain, RDS saham, pendapatan tetap, dan terproteksi. Dari sisi jumlah yang diterbitkan, RDS terproteksi adalah yang paling banyak dikeluarkan tahun ini, seiring dengan semakin tersedianya instrumen investasi syariah, khususnya sukuk yang diterbitkan pemerintah. “Saat ini ada 6 reksa dana terproteksi syariah,” kata Eko menginformasikan.

Jika diperhatikan return-nya, yang tertinggi adalah RDS saham dibanding tiga jenis RDS lainnya. Ambil contoh Si Dana Saham Syariah yang dikeluarkan Batavia Prosperindo Aset Manajemen, berdasarkan data Infovesta per Agustus 2009, return-nya setahun mencapai 130,8%. Pencapaian Si Dana ini dalam periode tersebut adalah tertinggi di antara RDS saham lainnya. Bandingkan dengan return RDS campuran yang rata-rata berkisar 30%-90% (belum menyentuh 100%). Namun, return RDS campuran jauh lebih baik dibanding RDS pendapatan tetap yang rata-rata return-nya di bawah 20%.

Ambil contoh lagi Fortis. Hingga saat ini Fortis mempunyai dua jenis produk RDS, yaitu Fortis Equitra Amanah (RDS campuran) dan Fortis Pesona Amanah (RDS saham). Dikatakan Eko, Fortis Equitra Amanah merupakan RDS campuran yang unik karena, selain menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam berinvestasi, juga berusaha memberikan kepada investor potensi kenaikan dari pasar saham, dan secara bersamaan mengupayakan adanya pembatasan risiko melalui penerapan metode kuantitatif. Metode ini untuk menjaga penurunan nilai investasi investor tersebut dalam kurun setahun dan tidak melebihi batas tertentu jika terjadi penurunan di pasar saham.

Adapun batas maksimum potensi penurunan Fortis Equitra Amanah untuk setiap tahun adalah diupayakan tidak melebihi 5%. Sepanjang Januari-akhir September 2009, Fortis Equitra Amanah memberikan kinerja 35,26% dengan nilai dana kelolaan Rp 165,8 miliar. “Ketika tahun 2008 terjadi penurunan IHSG dan Jakarta Islamic Index hingga lebih dari 50%, Fortis Equitra Amanah hanya mengalami penurunan sekitar 4%,” ujarnya

Sementara, untuk Fortis Pesona Amanah, sampai dengan akhir September 2009, kinerjanya sebesar 102,72% dengan nilai dana kelolaan Rp 159,65 miliar. Padahal, Jakarta Islamic Index (JII) yang jadi basis investasi RDS pada periode yang sama, kinerjanya hanya sebesar 85,73%. “Kedua reksa dana tersebut saat sekarang mengontribusikan 1,6% dari total dana kelolaan kami di akhir September 2009 yang mencapai Rp 20,4 trilliun,” kata Eko membeberkan.

Kendati paling tinggi return-nya dibanding RDS jenis lain, RDS saham relatif lebih rendah kinerjanya kalau dibandingkan dengan reksa dana saham konvensional. Artinya, banyak reksa dana saham konvensional yang kinerjanya di atas Si Dana Saham Syariah. Kita bandingkan dalam periode yang sama (Agustus 2007 berdasarkan data Infovesta), reksa dana saham konvensional yang kinerjanya tertinggi selama setahun adalah Pratama Saham dari PT Pratama Capital Assets Management yang mencapai 177,91%.

Memang, harus diakui karakter reksa dana konvensional dan syariah tidaklah sama. RDS memiliki koridor sendiri yang memberi batasan ketat dalam berinvestasi, sehingga tak bisa masuk ke sektor-sektor yang berbasis suku bunga, seperti bank dan perusahaan pembiayaan, perusahaan rokok, serta hotel.

Rujukan investasi (underlying) RDS adalah JII dari Bursa Efek Indonesia dan Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan Bapepam-LK. Ada perbedaan antara JII dan DES. JII memasukkan daftar sahamnya berdasarkan bisnis emitennya yang bukan perusahaan berbasis bunga, rokok atau hotel. Sementara itu, DES lebih dalam lagi: tak hanya melihat bisnis perusahaannya, tetapi juga kondisi keuangannya. Perusahaan yang masuk dalam daftar JII belum tentu bisa masuk dalam DES kalau perusahaan itu, misalnya, banyak utangnya. Baik JII maupun DES dievaluasi secara berkala.
“Batasan pada reksa dana syariah cukup ketat,” kata Ahmad Gozali, perencana keuangan dari Safir Senduk & Rekan, menegaskan. Namun, dengan pembatasan yang cukup ketat ini, nilai kehati-hatian para manajer investasi dan investor akan lebih tinggi.

Ia mencontohkan, seperti ke mana dananya akan diinvestasikan. Kalau reksa dana konvensional, tentu saja hanya menggunakan pertimbangan tingkat keuntungan untuk mengatur portofolio investasi. Sementara, RDS juga harus mempertimbangkan kehalalan suatu produk keuangan selain tingkat keuntungannya. Jika RDS membeli saham, yang dibeli harus saham perusahaan yang sudah dinyatakan sesuai dengan syariat yang masuk ke dalam JII. Obligasi yang boleh dibeli pun hanya obligasi syariah. Begitu juga dengan deposito, hanya yang diterbitkan oleh bank syariah.

Malah investasi dalam bentuk syariah mempunyai banyak kesamaan dengan investasi dalam bentuk Socially Responsible Investment, di mana ada beberapa nilai-nilai kemanusiaan yang harus dijaga pada kedua jenis investasi tersebut. Hal ini membuat investasi dalam bentuk syariah tidak hanya dipandang menarik dari sisi keagamaan, tetapi juga dari sisi sosial, sehingga dapat dijadikan alternatif investasi bagi investor nonmuslim. Ini juga salah satu yang membuat RDS makin berkembang dan diminati investor.

Selain itu, underlying investasi RDS semakin banyak. Selain saham-saham yang terhimpun dalam JII dan DES, juga penerbitan obligasi berbasis syariah, baik yang dikeluarkan oleh negara maupun perusahaan, semakin banyak. Artinya, persoalan industri RDS kekurangan basis instrumen investasi yang memenuhi kaidah syariah sudah mulai terkikis. Inilah yang membuat Grace Wiragesang, Head of Marketing PNM Investment Management, optimistis bahwa industri RDS syariah berpeluang tumbuh lebih tinggi lagi. Malah, ia mempunyai data: hingga Mei 2009, RDS telah tumbuh 200%.

Grace mengatakan, dana kelolaan RDS di PNM hingga pertengahan September 2009 telah mencapai Rp 410 miliar. Nilai ini setara dengan 29,29% dari total dana kelolaan PNM Investment Management yang mencapai Rp 1,4 triliun. Dengan melihat perkembangan RDS yang makin menarik, PNM pun akan merilis tiga RDS lagi tahun ini. Sayang, Grace belum bersedia membocorkan produk barunya itu.

Eko memberikan kiat berinvestasi di RDS. Menurutnya, dalam berinvestasi, baik di syariah maupun konvensional, yang paling penting dan tetap harus diperhatikan adalah investor memahami tujuan investasinya, serta berapa lama jangka waktunya ia komit untuk berinvestasi. Selain itu, penting juga diperhatikan: pemahaman investor akan tingkat risiko yang dapat diterima dan tingkat risiko produk yang akan dibelinya.

Hal ini menjadi sangat krusial untuk menghindari adanya perbedaan (gap) antara ekspektasi dan hasil sesungguhnya yang mungkin diterima. Di samping itu, untuk mengoptimalkan hasil investasi, investor perlu membuat suatu portofolio yang terdiversifikasi dan mempertimbangkan penerapan mekanisme investasi yang reguler (dollar cost averaging) dalam jangka panjang, karena hal ini dapat membantu mengoptimalkan hasil investasi guna mengatasi tingkat volatilitas pasar yang selalu terjadi.

Riset: Dumaria Manurung

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.