Urang Bandung Sukses Kibarkan Bisnis Fashion di New York

Mengibarkan merek fashion sendiri di New York, Amerika Serikat (AS), seperti yang dilakukan Lqica Anggraini Raden, bukanlah hal mudah. Perlu perjuangan keras agar bisa eksis di salah satu kota yang menjadi pusat mode dunia tersebut. Namun, ternyata merek Radenroro, yang diambil dari nama belakang Lqica, kini sudah mampu bersaing dengan merek-merek fashionternama lainnya.

Merek Radenroro pun sudah bergerilya ke berbagai butik di AS, semisal di Arkansas, California, Georgia, Ilinois, Minesota, South Carolina,Virginia, dan tentunya New York sendiri. Tak hanya itu, Radenroro juga pernah singgah di butik-butik fashion di Jepang, Puerto Rico dan Dubai..

Butuh tiga tahun bagi Luqi — pangilan akbrab Liquica — agar mereknya bisa dikenal di tingkat internasional. “Perjuangannya sangat keras dan banyak pengorbanan, waktu, tenaga, dan uang,” kenang istri Andrei yang kini tinggal di Manhattan, New York ini.

Setelah sukses dengan kegigihannya itu, tahun ini Luqi seperti pulang kampung karena Radenroro bisa mejeng di fashion department store kelas atas Harvey Nichols, milik Mitra Adiperkasa (MAP)di negeri ini.Bahkan labelnya turut dipamerkan di MAP Fashion Week, disejajarkan dengan berbagai brand internasional seperti Loewe, Max Mara, Dorothy Perkins, Givenchy, Mark&Spencer dan Nine West.

“Karena Indonesia adalah asal saya dan saya melihat perkembangan fashion di Indonesia sangat pesat dan Indonesia banyak juga dikunjungi para foreigners dari segala penjuru dunia terutama yang datang untuk urusan bisnis. Di samping itu, estetik Radenroro pun cocok dengan image Harvey Nichols,” ungkapnya memberi alasan.

Memang, dunia fashion telah menjadi jalan hidup bagi lulusan Fashion Institute of Technology New York ini. “Saya sudah diberkati dengan bakat sehingga secara alamiah, fashion sudah menjadi jalan hidup saya. Saya suka sketching fashion dari kecil,” kata kelahiran Bandung 1 Juli, 33 tahun lalu itu.

Sebelum mendirikan bisnis fashion sendiri, Luqi mengawal kariernya dengan bekerja sebagai graphic dan multimedia design selama satu tahun. Kemudian di bisnis fashion bekerja sebagai sebagai graphic artist selama sekitar empat tahun. Keduanya di Manhattan, New York.. Pengalaman menjadi profesional menjadi bekal tersendiri ketika menapaki membangun sendiri bisnisnya.

Setelah dirasa bekalnya memadai, Liquica meluncurkan labelnya, Radenroro, pada Sepetmber 2008. Nama Radenroro selain karena itu bagian dari nama dirinya, juga terdengar menarik (eksotis) di telinga org asing. “Selain itu, kami ingin tetap mempunyai ciri khas yang berbau Indonesia,” kata anak dari pasangan Mayjen TNI (purn) Anton Herrybiantoro dan Inge Halimah ini.

Modal yang digelontorkan pun tak sedikit. Menurutnya, investasi di bisnisnya itu ia keluarkan dari kantongnya sendiri sebesar US$ 400 ribu. “Itu belum termasuk biaya website, graphic artist, accountant, lawyer dan lainnya karena saya dan suami melakukan semua itu berdua,” ujarnya. Menurutnya, untuk membuka bisnis fashion di AS paling tidak dibutuhkan US$ 1 juta.

Dalam desainnya, Radenroro yang dikhususkan bagi kaum hawa kelas atas ini, Luqi mengedepankan keunikan, timeless, dan menggunakan bahan mewah yang dikerjakan oleh ahlinya. Selain itu, dirinya kerap memilih warna-warna yang tidak identik dengan wanita, seperti pink atau ungu. Sebaliknya, ia justru memakai warna-warna maskulin, seperti hitam, khaki, abu-abu pucat, atau warna-warna army dan navy serta marun.

Lalu kesulitan apa yang dihadapi? “Sulit sekali, saya tidak merekomendasikan siapa pun untuk memulai bisnis fashion di AS. Selain sulit dan membutuhkan biaya, waktu dan tenaga yang banyak, orang-orang di fashion tidak terlalu baik,” katanya sambil mencontohkan, beberapa toko kadang tidak membayar pesanan mereka. Selain itu, kompetisi pun dirasa berat terutama dengan pebisnis fashion lainnya yang memiliki modal yang kuat serta didukung oleh artis-artis ternama dunia. Intinya, tidak gampang membuat brand sendiri bisa dikenal di negeri orang. “Kita harus siap mengorbankan hal-hal yang kita impikan karena semuanya dicurahkan pada bisnis ini,” katanya menyimpulkan.

Tapi semua itu telah Luqi lalui. Kini bisnisnya makin berkembang dengan mampu memproduksi dua kali setahun, yaitu saat spring/ summer dan fall/winter sebanyak 35 styles dan memprodusi sekitar 500 pieces per sesi. “Radenroro price ritelnya US$ 200 – 600/piece in stores,” ungkapnya berpromosi.

Fetty Kwartati, Corporate Secretary MAP, mengatakan, perusahaan tertarik bekerja sama dengan Radenroro karena, “Kami melihat produk Radenroro menjaga kualitas dan unsur tren yang lebih ‘abadi’. Jadi tidak hanya ‘in’ untuk sesaat,” katanya. MAP pun akan melakukan berbagai macam aktivitas marketing untuk mempromosikannya, contohnya menggelar Fashion Show Radenroro yang digelar bebarengan MAP Fashion Week pada Maret lalu.

Sementara itu, Sony Muchlison berpandangan, bagi merek Radenroro agar dapat melejitkan karyanya di Indonesia harus memiliki strategi PR yang baik agar terangkat oleh media massa. “Soalnya, orang Indonesia melihatnya siapa yang sedang diekspos besar-besaran maka kesanalah dia pergi, jadi dia (Radenroro) haruslah di kenal masyarakat dulu,” ujar pengamat mode sekaligus dosen di Institut Kesenian Jakarta itu.

Selain itu, Sony juga memberi masukan bahwa psikologis orang Indonesia menyukai busana mahal yang terlihat kemahalannya. Maka, desain Radenroro harus menyesuaikan dengan kondisi psikologis orang Indonesia. Tak lupa, Sony juga memberi masukan bahwa segmen upper class Indonesia lebih menyukai desain custom made ketimbang ready to wear. Hal tersebut lantaran konsumen di segmen tersebut tidak suka disamakan dengan orang lain.

Dede Suryadi dan Eddy Dwinanto Iskandar

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.