Peluang Untung di Saham Agro

Saham agrobisnis menjadi primadona di bursa. Dua tahun terakhir, kenaikan indeks saham agro mampu mengungguli IHSG. Bagaimana prospeknya?

Oleh : Dede Suryadi

Kabar gembira datang dari Gabungan Kelapa Sawit Indonesia. Kini, Indonesia menguasai 80% seluruh produksi sawit alias crude palm oil (CPO) dunia. Sebelumnya, penguasa di bisnis ini adalah Malaysia yang mampu memasok 60% kebutuhan sawit dunia. Negara-negara yang biasanya berlangganan ke Malaysia, seperti India dan Cina, beralih ke Indonesia. Begitu pun dengan negara-negara di Eropa, di antaranya Jerman dan Inggris, kini menjadi pelanggan sawit kita. Tak hanya itu, Amerika Serikat juga telah membuka pasar bagi sawit setelah sekian lama tak menerima jenis komoditas ini, dan Indonesia dipilih sebagai pemasoknya.

Peningkatan harga minyak mentah juga menciptakan sumber permintaan baru bagi sawit sebagai bahan baku biodiesel. Padahal, tanpa kondisi ini pun, sebenarnya permintaan terhadap produk sawit terus meningkat seiring dengan naiknya populasi dunia. Pasalnya, komoditas ini juga digunakan sebagai bahan dasar berbagai produk, seperti kosmetik, bahan makanan, pelumas hingga yang sedang hangat dibicarakan sebagai bahan bakar alternatif, yakni biodiesel.

Tingginya harga minyak mentah juga memberikan dampak signifikan bagi produk karet. Soalnya, dengan peningkatan harga minyak mentah, harga produk substitusi berupa karet sintetis akan turut melonjak. Dengan demikian, permintaan terhadap karet alam pun semakin terdongkrak. Dalam catatan PT Limas Centric Indonesia Tbk. (Limas), pada 2004 saja pangsa pasar karet alam dalam perdagangan karet dunia mencapai 42%, sedangkan karet sintetis 58%. Berarti pangsa pasarnya meningkat 3% dari tahun sebelumnya yang hanya 39% (61% karet sintetis).

Kondisi itu memicu saham agrobisnis di Bursa Efek Jakarta (BEJ) bergerak naik lebih cepat. Terlebih, pasar saham kini juga sedang booming, ditandai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menembus level 1.500 — angka tertinggi dalam sejarah bursa di negeri ini. Dari sisi likuiditas, dalam tiga tahun terakhir memang terdapat peningkatan volume transaksi saham sektor agrobisnis. Pada 2004, tercatat pertumbuhan transaksi di sektor ini mencapai 110%, dan pada 2005 volume transaksi sedikit turun (penurunannya hanya 11%). Namun, akhir-akhir ini transaksi saham agro memperlihatkan peningkatan lagi. Selama periode 20-27 April lalu saja tercatat sebanyak 286,53 juta lembar saham perkebunan telah dipindahtangankan investor dengan nilai transaksi Rp 321,28 miliar.

Indeks saham sektor ini memang terus meroket, bahkan lebih tinggi dibanding kenaikan IHSG. Tengok saja, dari data Sarijaya Sekuritas terungkap, pada 2004 indeks sektor agro naik 70,29% menjadi 303,8 dibanding 2003 (178,4), sedangkan pada 2005 naik 66,39% menjadi 505,5. Sementara itu, selama Januari-April 2006 indeks saham agro naik 35,97% dari 500,23 menjadi 680,15. Bandingkan dengan IHSG. Pada 2004 hanya naik 44,55% menjadi 1.000,2 dan pada 2005 juga cuma naik 16,23% (menjadi 1.162,6). Pada empat bulan pertama tahun ini baru naik 18,83% dari 1.232,32 menjadi 1.464,41.

Dari sejumlah saham agro di BEJ, yang menjadi primadona adalah saham PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk. – berkode UNSP; PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI); dan PT London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP). Saham-saham tersebut memang mampu memberikan gains yang menggiurkan kepada investor. Tengoklah, sepanjang 2004 harga saham AALI naik 87,87% dari Rp 1.650 menjadi Rp 3.100 per lembar. Sementara itu, sepanjang 2005 harga saham anak perusaahaan Grup Astra ini naik 58,06% menjadi Rp 4.900, dan di awal Mei 2006 terkerek lagi ke posisi Rp 6.600. Lalu, saham UNSP sepanjang 2004 naik 169,56% menjadi Rp 310; tahun 2005 naik 33,87% menjadi Rp 415; dan di awal Mei lalu melonjak ke angka Rp 860. Peningkatan yang tajam juga terjadi pada saham LSIP. Tahun 2004 LSIP memang hanya naik 32,55% (dari Rp 1.075 menjadi Rp 1.425), tapi tahun 2005 meroket hinga ke level Rp 2.950 (naik 107,01%), sedangkan posisi di awal Mei 2006 Rp 3.900. “Trennya masih naik, meski akan ada koreksi,” tutur M Alfatih, analis dari Sarijaya Sekuritas.

Hendra Syamir, Manajer Riset dan Pengembangan Limas, sependapat bahwa ketiga saham tersebut menjadi primadona di sektor saham agro. “Tentu saja ketiga saham itu baik untuk dikoleksi,” katanya memberi masukan. Namun, jika melihat pada pergerakan harga ke belakang, UNSP mungkin yang lebih menjanjikan. Sebab, selain perolehan capital gains histories yang cukup tinggi, pertumbuhan penjualannya pun termasuk tertinggi dibandingkan dengan AALI dan LSIP.

Sebenarnya, sektor agro ini terdiri atas beberapa subsektor, antara lain: perkebunan, perikanan, peternakan dan lainnya. Namun, transaksi di sektor agro ini didominasi oleh saham perkebunan, yakni mencapai 70%. Selanjutnya, diikuti oleh saham perikanan (6%), peternakan kurang dari 1%, dan sisanya 21% ada di subsektor lainnya. Saham agro di luar perkebunan kelihatannya kurang diminati investor, mengingat pertumbuhan penjualan dan earning per share (EPS)-nya kurang bagus. Bandingkan dengan para emiten agro bidang perkebunan, dengan terus membaiknya komoditas CPO dan karet di pasar dunia, memicu peningkatan penjualan perusahaan yang bergerak di bisnis ini hingga rata-rata 25% per tahun dalam dua tahun terakhir. Dan peningkatan penjualan di tahun ini diperkirakan melambungkan EPS saham-saham agro paling tidak lebih dari 13 kali.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa dalam investasi tidak ada yang 100% bisa menggembirakan. Karena itu, Hendra tidak menyarankan investor untuk hanya bermain pada satu saham, tetapi selalu dalam bentuk portofolio agar gains yang diperoleh bisa maksimal. “Skenario saya, susun dengan target beat the market dengan mengombinasikan berbagai alternatif investasi. Selain saham agro, portofolio investasi juga diisi oleh saham-saham lain di luar agro, obligasi pemerintah, obligasi swasta dan time deposit,” ungkapnya. Ia mencontohkan, untuk pencapaian posisi teroptimal dengan tujuan beat the market, alokasi investasinya: 2,27% ke saham AALI; 14,36% saham LSIP; 23,79% saham UNSP; 18,67% di obligasi korporat (bisa juga ke reksa dana yang didominasi obligasi korporat); dan 40,91% ke saham-saham di luar agro.

Untuk return, tergantung pada holding period. Untuk saham AALI, LSIP dan UNSP, dapat dilihat bahwa semakin lama periode saham itu dipegang, maka akan semakin besar pula peluang investor untuk dapat mengalahkan indeks (IHSG). Untuk AALI misalnya, saham ini berpeluang 87% mengungguli perkembangan IHSG jika dipegang selama setahun. Kemudian, LSIP memiliki peluang sebesar 85%, sedangkan UNSP hampir 100%.

Meski tiga emiten di atas cukup menjanjikan, tak semua investor mengoleksinya. Dana Pensiun BNI hanya mengkoleksi dua saham agro: saham AALI dan LSIP. “Kami memiliki AALI sejak dua tahun lalu, sedangkan LSIP baru tahun ini,” ujar Eddy Siswanto, Direktur Investasi Dana Pensiun BNI, sambil menambahkan, dana yang diinvestasikan pada saham agro ini 9% dari total dana di saham yang senilai Rp 200 miliar.

Eddy mengakui, saham agro termasuk saham unggulan di bursa. Menurutnya, bisnis agro tidak rentan terhadap perubahan kurs US$. Malah, kalau nilai tukar US$ menguat, kinerja perusahaan yang bergerak di industri ini makin kinclong lantaran banyak komoditasnya yang diekspor. Apalagi sekarang, pasar internasional membutuhkan banyak CPO, termasuk AS sudah mulai mengimpornya, dan Malaysia yang selama ini merajai pasokan CPO di pasar dunia juga menyusut kemampuannya. Belum lagi saat ini sedang ada wacana untuk mencari alternatif pengganti bahan bakar minyak dengan biodiesel yang bahan dasarnya dari CPO. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di tingkat dunia.

Secara fundamental, para emiten agro tergolong solid. UNSP misalnya, tahun 2005 membukukan kenaikan pendapatan 26,8% menjadi Rp 883,3 miliar dan laba bersihnya naik 20,6% menjadi Rp 115,7 miliar. Kenaikan pendapatan lebih disebabkan peningkatan penjualan karet yang memberikan kontribusi 51% terhadap total pendapatan UNSP. Sementara itu, pada triwulan I/2006, laba bersih naik 43,9% menjadi Rp 215,95 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu, dan pendapatannya naik 259% menjadi Rp 52,12 miliar.

Lalu, LSIP pada 2005 membukukan kenaikan pendapatan 10,8% menjadi Rp 1,83 triliun dan laba bersihnya mencapai Rp 355,7 miliar. Padahal, tahun 2004 perusahaan ini masih merugi Rp 247,2 miliar. Sementara itu, pada kuartal I/2006 pendapatan LSIP naik 48% dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 505,32 miliar, dan laba bersih naik 6% menjadi Rp 62,46 miliar. Yang menarik AALI. Sepanjang 2005 mengalami penurunan kinerja, meski sangat tipis. Pendapatan perusahaan ini tahun lalu turun 2,9% menjadi Rp 3,70 triliun, dan laba bersihnya menyusut 1,3% menjadi Rp 790 miliar. Namun, pada kuartal I/2006 pendapatannya melonjak 20,4% dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 872,9 miliar, sedangkan laba bersihnya naik 10,3% menjadi Rp 182,2 miliar. Hebatnya lagi, gejolak di dalam akibat ketidakpuasan pekerjanya relatif sedikit, sehingga membuat perusahaan di bisnis ini bisa lebih eksis.

Saham sektor agro sangat menguntungkan untuk investasi. Di samping mendapatkan capital gains, pemegang saham agro juga bisa menangguk untung dari pembagian dividen. “Dalam setahun keuntungannya bisa mencapai 20%,” Eddy menegaskan. Alhasil, melihat pertumbuhan penjualan dan tren permintaan dunia terhadap produk-produk agro, dalam kurun waktu 1-2 tahun, saham-saham agro masih menjanjikan keuntungan. Akan tetapi, untuk periode yang lebih panjang, perlu dilakukan evaluasi ulang.

Published on Majalah SWA, 18 Mei 2006

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.