Sandyakalaning Saham Rokok?

Sejumlah regulasi yang mempersempit ruang gerak dan munculnya kesadaran gaya hidup sehat memengaruhi kinerja industri rokok. Bagaimana prospek sahamnya dan masihkah menarik?

Dede Suryadi

Ibarat dua sisi mata uang, industri rokok dibutuhkan tetapi di sisi lain ruang geraknya dibatasi. Bagaimana tidak, industri rokok selama ini memberikan pemasukan cukai yang sangat besar bagi pemerintah. Industri rokok, pada 2008, menyumbang cukai Rp 57 triliun. Jumlah produksi rokoknya pun mencapai 240 miliar batang per tahun.

Selain itu, juga menyerap tenaga kerja yang tak sedikit karena, selain pabrik rokok besar, masih ada ribuan pabrik rokok lainnya. Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia mencatat hingga akhir 2008 di Indonesia terdapat 3.931 industri rokok. Rinciannya: 6 industri skala besar, 25 industri skala menengah, dan 3.900 industri skala kecil. Sekitar 400 ribu orang bekerja langsung di industri rokok nasional. Lalu, petani tembakau dan cengkeh masing-masing 2,4 juta dan 1,5 juta orang. Industri rokok juga menopang 4,8 juta pedagang grosir dan eceran. Rokok juga menghidupi sejuta tenaga kerja pendukung seperti percetakan dan transportasi. Sementara belanja iklannya mencapai Rp 1,4 triliun.

Kendati demikian, Pemerintah Indonesia memperketat regulasi industri ini, di antaranya pita cukai rokok makin mahal, larangan iklan rokok di televisi, dan yang terbaru adalah pengesahan Rancangan Undang-Undang Retribusi Daerah dan Pajak Daerah yang memberi hak kepada pemerintah daerah untuk memungut pajak peredaran rokok 10%-15%. Belum lagi pemerintah pun memasukkan sektor rokok dalam Daftar Negatif Investasi. Artinya, investor tak bisa lagi mendirikan pabrik rokok di republik ini. Tak hanya itu, sekarang terdapat suatu paradigma atau concern di masyarakat modern bahwa konsumsi rokok akan sangat merugikan kesehatan.

Karena alasan-alasan inilah, para pengusaha top Indonesia mulai menggeser bisnisnya dari usaha rokok ke bidang lain yang dinilai lebih longgar dengan prospek ekonomi lebih menjanjikan di masa depan.

Setelah keluarga Putera Sampoerna melepas seluruh sahamnya di PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HM Sampoerna) kepada Philip Morris — produsen rokok Marlboro, kini giliran Grup Rajawali milik Peter Sondakh melepas seluruh sahamnya di perusahaan rokok PT Bentoel Internasional Investama kepada British American Tobacco Plc. (BAT).

Rajawali melepas seluruh sahamnya di Bentoel kepada BAT sejumlah 56,96% dengan harga Rp 873 per saham, sehingga bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 3,35 triliun. Sebelumnya, BAT pun pernah diisukan membeli saham milik keluarga Rachman Halim, pendiri PT Gudang Garam Tbk, tetapi dibantah pihak keluarga Wonowidjojo (pemilik Gudang Garam).

Meskipun aturan pem­­ba­tasan merokok terus ber­mun­culan, produsen rokok nasional ternyata masih mampu mencetak laba. Hal ini pun menjadi alasan inv­estor asing masih terus me­ngin­car pabrik-pabrik rokok di In­donesia.

Tengok saja, pada semester I/2009, Gudang Garam dan HM Sampoerna sama-sama membukukan kenaikan la­ba bersih cukup tinggi. Laba Gudang Garam bahkan melonjak hingga 60%, dipicu turunnya beban po­kok penjualan. Prestasi pabrik ro­kok kebanggaan warga Kediri, Jawa Timur, itu menyalip kenaikan laba pesaing terberatnya, HM Sampoerna, yang meraih kanaikan laba bersih 28% yang didorong peningkatan penjualan.

Pada semester I ini, pen­jualan Gudang Garam bisa dikatakan stagnan, yakni sebesar Rp 15,065 triliun, sedangkan tahun sebelumnya sebesar Rp 15,056 triliun. Hanya saja, perusahaan ini bisa menekan be­ban pokok penjualan menjadi Rp 11,8 triliun dari Rp 12,63 triliun. Bandingkan dengan penjualan HM Sampoerna yang pada periode ini tercatat sebesar Rp 18,6 tri­liun atau naik dari tahun sebelum­nya yang Rp 16,6 triliun. Namun, di sisi lain, beban pokok penjualan perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Philip Morris itu juga naik men­jad­i Rp 13 triliun dari sebelumnya Rp 12 triliun.

Saat ini terdapat empat perusahaan rokok yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni Gudang Garam dengan kode saham GGRM, HM Sampoerna (HMSP), PT Bentoel International Investama (RMBA) dan BAT Indonesia (BATI). Gudang Garam diperdagangkan di BEI dengan volume yang cukup kecil. Pada awal Januari 2008, saham perusahaan ini diperdagangkan dengan harga pembukaan Rp 3.500/lembar dan akhir Desember 2008 ditutup pada level Rp 4.250, atau naik 21,43% dibanding awal Januari 2008. Pada awal Januari 2009, harganya Rp 4.500 dan pada 4 November 2009 ditutup pada harga Rp 15.550, atau melonjak 245,5%.

Sementara itu, saham HM Sampoerna juga kurang likuid sejak diakuisisi Phillip Moris International. Maklum, sahamnya yang dipegang publik hanya sekitar 2,5%. Pada awal Januari 2008, saham HM Sampoerna berada pada harga Rp 7.400 dan pada akhir Desember 2008 Rp 8.100, seiring dengan krisis global atau naik 9,46%. Adapun di awal Januari 2009, nilai sahamnya Rp 10.250 dan awal November 2009 ditutup pada harga Rp 10.000, atau turun 2,44%.

Lalu, saham Bentoel yang pada awal Januari 2008 berada di level Rp 330, di akhir Desember tahun yang sama posisinya naik 57,58% ke harga Rp 520. Sementara, pada awal Januari 2009 harganya Rp 370 dan awal November tahun ini Rp 650, atau naik 75,68%.

Saham BAT Indonesia merupakan saham yang jarang diperdagangkan di BEI, di awal Januari 2008 harganya Rp 4.300, dan ditutup pada harga Rp 5.000 di akhir Desember 2008, atau naik 16,28%. Namun, sejak awal November 2009, harga saham BAT Indonesia tidak diperdagangkan, dan saat terakhir diperdagangkan pada 27 Oktober 2009 harganya Rp 5.350.

Menurut Hendra Bujang, pengamat pasar modal, jika akan berinvestasi pada industri rokok, saham Gudang Garam dapat dipertimbangkan. Gudang Garam, selain merupakan pemain besar yang menguasai jaringan dan pangsa pasar penjualan di Indonesia, sahamnya juga relatif lebih likuid ketimbang kompetitornya, HM Sampoerna dan BAT Indonesia. Fundamental keuangan dan pengalaman bisnis yang telah lama teruji merupakan salah satu opsi yang menjadikan saham ini patut dicermati. “Namun, sebagai catatan, tidak ada rekomendasi untuk long term position, hanya untuk short term trading sembari menunggu momentum dan timing yang tepat,” kata Hendra mewanti-wanti.

Senada dengan Hendra, Akhmad Nurcahyadi, analis dari BNI Securities, mengatakan, memang saat ini satu-satunya saham rokok yang masih menarik adalah saham Gudang Garam. Namun, tidak semua sekuritas mengoleksi saham ini. Saham-saham rokok lainnya bahkan sudah tidak dilirik. Menurutnya, saham Gudang Garam masih menarik karena secara fundamental emiten ini tergolong masih kinclong selama tidak diperdagangkan pada harga Rp 17.000 ke atas karena itu sudah masuk harga wajarnya. Animo pasar terhadap GGRM ini masih lumayan, terlihat dari awal tahun ini sampai sekarang sahamnya tumbuh signifikan.

Akhmad memandang secara keseluruhan saham rokok tidak lagi menjadi preferensi bagi para pelaku pasar modal. Ini akibat masa depan industri ini semakin menyempit karena banyaknya pembatasan seperti regulasi pemerintah dan tren dunia yang membatasi konsumsi rokok. Selain itu, beberapa saham rokok, selain Gudang Garam, sudah menyentuh harga wajarnya. “Kalau toh masih menarik, itu dalam artian keuntungan dividen, bukan capital gain. Namun, rada jarang investor yang hanya mengharapkan dividend gain,” ujarnya.

Memang, hingga saat ini belum ada sentimen positif yang mampu menarik minat investor untuk berinvestasi dalam saham-saham sektor rokok. Bagi Hendra, sentimen-sentimen positif yang dapat memicu perhatian investor dalam sektor rokok adalah rencana akuisisi atau merger untuk meningkatkan nilai perusahaan, penetrasi pasar yang bertujuan menambah pangsa pasar dan pencapaian keuntungan. Namun, sejauh ini, belum ada sinyal-sinyal aksi korporat seperti itu, cuma ada pelaporan hasil kinerja keuangan per kuartal masing-masing emiten.

Berbicara tentang prospek saham-saham rokok, baik Hendra maupun Akhmad melihat saham rokok ke depan adalah flat dengan kecenderungan menurun dalam jangka panjang. Dengan semakin tingginya tingkat pendidikan dan kesadaran akan arti kesehatan, secara logis akan terjadi penurunan dalam hal konsumsi rokok. Dan, sejauh tidak ada aksi korporat yang siginifkan atau terobosan bisnis yang fenomenal, misalnya dalam hal produk baru dan pembukaan pasar baru atau ekspor. “Maka, diperkirakan bisnis ini akan segera memasuki titik jenuh,” kata Hendra yakin.

Seorang investor yang tak bersedia disebutkan namanya mengaku, sebelumnya ia memiliki saham Bentoel dan Gudang Garam. Saham Bentoel sudah lama ia lepas karena dianggap tak menarik lagi. Sementara, saham Gudang Garam rencananya akan ia lepas dalam waktu dekat. “Mendingan berinvestasi ke sektor lainnya yang lebih menarik,” kata Hendro. Ia berpandangan industri rokok akan makin melempem di masa mendatang.

Kekhawatiran Hendro bukan tanpa alasan. Pasalnya, sejumlah regulasi siap menghadang industri rokok ini. Di antaranya peraturan mengenai biaya promosi dan distribusi yang bisa dideduksi untuk perusahaan rokok berlaku retroaktif mulai 1 Januari 2009. Untuk perusahaan dengan penjualan di atas Rp 5 triliun, biaya promosi tak boleh melampaui Rp 1 triliun.

Lalu, pemerintah berencana membatasi produksi rokok mulai 2015 agar tidak melebihi 260 miliar batang. Tujuan pembatasan itu adalah untuk memperbaiki kesehatan masyarakat dan mendorong produsen rokok mendiversifikasi produksinya dan memperkuat ekspor. Tak ketinggalan, pemerintah akan menaikkan tarif cukai berkisar 10% tahun depan. Bahkan, ditengarai pemerintah akan terus menaikkan cukai pada tahun-tahun selanjutnya seperti pada masa lalu, karena besarnya kebutuhan untuk mendanai defisit.

Dengan demikian, lengkaplah sudah, ruang gerak industri rokok ini semakin sempit. Belum bisa dibayangkan bagaimana wajah industri ini ke depan. Jika sudah demikian, investor pun tentu tak akan melirik lagi saham rokok di pasar modal.

Riset: Dumarian Manurung

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.