Menelisik Saham-saham yang Berpotensi Rebound

Di tengah kondisi bursa yang sedang melemah, masih ada harapan sejumlah saham berpotensi rebound dengan cepat. Saham apa sajakah itu?

Oleh : Dede Suryadi

Bursa memang sedang lesu darah. Harga-harga saham di dalamnya terkulai lemas. Tak hanya terjadi di sini, hampir semua bursa di dunia pun mengalami nasib yang sama. Krisis finansial dunia yang menuju ke resesi yang berkepanjangan menjadi kambing hitamnya.

Kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI) menukik tajam, baik dari kaca mata indeks (IHSG), kapitalisasi pasar maupun nilai rata-rata transaksi harian. Tengok saja, dari 2007 hingga saat ini terjadi penurunan. Pada 2007, IHSG sangat digdaya hingga mencapai 2.745,826, kapitalisasi pasarnya Rp 1.988,3 triliun dan rata-rata transaksi hariannya Rp 4,27 triliun. Di 2008, IHSG 1.355,408, kapitalisasi pasar Rp 1.076 triliun dan transaksi harian Rp 4,43 triliun. Nah, di 2009 per 5 Maret IHSG baru bertengger di 1.288,074, kapitalisasi pasarnya Rp 1.037 triliun dan transaksi hariannya Rp 1,56 triliun.

IHSG di BEI sempat mencapai level tertingginya pada 9 Januari 2008 sebesar 2.830,263. Namun, indeks turun drastis ke titik terendahnya pada Oktober 2008, yakni sebesar 1.100. Kalau dibandingkan secara sederhana, dari level tertinggi sekitar 2.800 dan saat ini sekitar 1.300, jelas IHSG telah terpangkas lebih dari 50%. Ini bisa jadi ukuran saham-saham di bursa turun tajam di level yang sama.

Lalu, saham apa saja yang berpotensi rebound dengan cepat? Menurut Hendra Bujang, analis dari Danpac Asset Management, saham yang berpotensi rebound dengan cepat adalah saham emiten (perusahaan) yang paling terkena dampak krisis global ini. Semakin besar tekanan krisis, semakin besar potensi saham perusahaan tersebut rebound dengan catatan kinerja fundamentalnya tidak anjlok di masa krisis ini.

“Artinya, manajemen perusahaan yang bersangkutan dapat mengendalikan dan mengatasi krisis ekonomi yang terjadi,” kata Hendra menggarisbawahi. Tentunya pula, rebound-nya suatu saham bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik eksternal maupun internal, yang memengaruhi persepsi investor. Namun, faktor eksternal sebagai dampak pemulihan ekonomi global lebih berperan dominan atas potensi rebound sebuah saham.

Hanya saja, Haryajid Ramelan, Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia, menekankan, tidak semua saham yang turun tinggi akan kembali menguat. Banyak faktor yang menjadikan saham-saham tersebut sukar naik. “Apalagi, jika sektor maupun industri tersebut mengalami tekanan akibat krisis global, misalnya garmen (tekstil),” ujarnya.

Jika diperhatikan, perusahaan yang paling terkena krisis global saat ini adalah yang berbasiskan bisnis komoditas, mineral, pertambangan, energi, perkebunan, infrastruktur, properti, perbankan dan kemungkinan konsumer. Saham-saham berbasis pertambangan, mineral dan perbankan rata-rata mempunyai tingkat kapitalisasi pasar saham yang sangat besar dan berperan pula sebagai market maker atau index mover.

Seperti kita ketahui, perusahaan-perusahaan berbasis komoditas terutama energi, mineral, pertambangan dan perkebunan mengalami masa kejayaan saat ekonomi global tengah bertumbuh karena energi yang dibutuhkan sangat besar untuk memacu pertumbuhan.

Ekspektasi yang besar terhadap kebutuhan energi dan substitusinya telah mendorong kenaikan seluruh harga komoditas, seperti minyak bumi, batu bara dan minyak sawit mentah (CPO). Kenaikan harga-harga komoditas tersebut akan mendorong peningkatan laba absolut, apalagi jika perusahaan yang bersangkutan dapat meningkatkan kapasitas produksi, sehingga cost of production akan menurun drastis. Dampak lanjutan dari peningkatan laba perusahaan adalah kenaikan estimasi earning per share dan fair value per share yang pada akhirnya akan memicu eskalasi harga pasar saham per lembar.

Hendra memberi alasan bagi sejumlah saham yang berpotensi rebound. Menurutnya, bisnis pertambangan ini merupakan sektor yang memiliki special hedging, yakni scarcity and non replaceable sources. Logisnya, dalam jangka panjang, harga komoditas tetap akan naik.

Lalu untuk sektor energi seperti listrik, batu bara, panas bumi dan air, ke depan, siapa pun penguasa energi ini akan menjadi penguasa dunia, mengingat kebutuhan akan energi setiap hari bertambah. Dengan demikian, sektor energi tetap mempunyai hidden profit tersendiri.

Di sektor properti, seiring dengan makin berkurangnya jumlah lahan sejalan dengan terus hadirnya berbagai perumahan, perkantoran, dan produk properti lainnya, maka logisnya untuk kebutuhan jangka panjang, sektor properti masih menarik dengan catatan: strong balance sheet, strong cash flows dan lower cost of money.

Sementara Haryajid memandang, saham-saham yang berpotensi rebound tidak hanya saham big cap (berkapitalisasi besar). “Saham second liner juga masih memungkinkan untuk menguat,” ia mengungkapkan. Menurutnya, saham dengan kapitalisasi besar umumnya dimiliki oleh investor institusi. Namun, investor ritel pun mengincar saham jenis ini. Saham berkapitalisasi besar memungkinkan untuk dijadikan investasi jangka pendek maupun jangka panjang selama fundamentalnya bagus dan stabil, serta masih aktif melakukan corporate action (membagi dividen, membuat laporan kinerja keuangan).

Hendra menyebut sejumlah saham yang berpotensi rebound karena perusahaan tersebut memiliki fundamental dan prospek bisnisnya masih tetap cerah. Pertama, untuk sektor pertambangan, mineral dan distribusi seperti PT Bumi Resources. “Dengan catatan, KPC (Kaltim Prima Coal) dan Arutmin tidak dilego dan tidak ada kasus susulan yang berpotensi terjadi,” ujarnya menekankan. Menurutnya, Bumi merupakan salah satu perusahaan penghasil batu bara terbesar. Bumi dikabarkan melakukan investasi besar-besaran untuk melipatgandakan kapasitas produksi. Namun, sayangnya, situasi dan kabar miring kerap menghantui perusahaan tersebut.

Lalu, saham PT Timah (berkode TINS), PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA), PT Indotambangraya Megah (ITMG), PT Adaro Energy (ADRO) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) — membidangi distribusi gas. Hendra memberikan catatan, PT Timah merupakan salah satu perusahaan penghasil timah terbesar di dunia. Walaupun pada kuartal III/2008 terjadi penurunan laba per saham sebesar 88,21%, seiring dengan kemungkinan meningkatnya kembali harga timah di pasar internasional, laba Timah pun akan meningkat kembali dan akan berpengaruh terhadap harganya. Adapun PGAS, yang sejalan dengan konversi bahan bakar menjadi gas, akan menuai untung dari kebijakan pemerintah ini.

Kedua, sektor perkebunan, meliputi PT London Sumatra dan PT Bakrie Sumatra Plantations. Ketiga, sektor perbankan, yakni BCA, BRI dan Bank Mandiri. Menurut Hendra, BCA merupakan bank swasta yang memiliki basis nasabah yang besar, dan mempunyai jaringan/kerja sama dengan merchant yang paling luas. Lalu, Mandiri merupakan bank BUMN terbesar yang menjadi pemimpin pasar dalam kredit korporasi.

Meski demikian, investor tetap perlu berhati-hati dengan problem kredit macet (nonperforming loan/NPL)-nya. Sementara itu, BRI adalah bank BUMN yang memiliki core business yang menyasar segmen UKM dan mikro. Segmen ini menghasilkan tingkat return yang lebih tinggi, tapi risiko yang lebih rendah yang terlihat dari rendahnya kredit macet.

Ketiga, sektor kontraktor dan otomotif, meliputi saham PT United Tractor (UT) dan PT Astra International. Keempat, sektor properti, yakni saham PT Ciputra Porperty, PT Ciputra Development dan Summarecon Agung. Hendra menilai UT sebagai salah satu anak perusahaan Astra yang menunjukkan kinerja gemilang. Tahun 2008, perusahaan ini mencatat kenaikan earning per share sebesar 69% dibanding tahun sebelumnya.

Sementara itu, Astra adalah salah satu grup perusahaan terbesar di Indonesia yang memiliki kegiatan bisnis, dari perakitan dan penyaluran mobil dan sepeda motor berikut suku cadang, penjualan dan penyewaan alat-alat berat, pertambangan dan jasa terkait, pengembangan perkebunan, jasa keuangan, infrastruktur hingga teknologi informasi. Seiring dengan membaiknya perekonomian, tentu saja bisnis Astra akan berkembang dan berpotensi meningkatkan laba dan mendongkrak harga sahamnya.

Jika berkaca pada krisis 1997/98, berinvestasi pada saham yang jatuh pada titik terendah memang bisa mendatangkan untung yang sangat besar. Tengoklah saham Astra, per 18 Desember 1998 jatuh ke level terendah: hanya Rp 250/lembar, tapi per 1 Desember 1999, harganya sudah berada pada level Rp 3.700, atau meroket 1.380%.

Astra, yang dibelit utang, ketika itu terus melakukan corporate action, seperti restrukturisasi korporasi (perampingan cost structure) dan utang (financial structure) dengan cara divestasi, penjadwalan kembali utang dan haircut. Ditambah lagi, seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat dan harga produk-produk komoditas internasional – Astra juga memiliki bisnis CPO dan batu bara — saham Astra kembali ke performa puncak. Contoh lainnya, saham Indofood Sukses Makmur, per Agustus 1998 hanya Rp 2.100, tapi pada Desember 1999 telah menembus level Rp 8.200, atau naik 290%.

“Sejarah selalu terulang namun dengan cara dan kejadian yang berbeda,” ujar Hendra. Untuk krisis saat ini, potensi akan terulangnya sejarah bisa saja terjadi. Namun, ia melihat pemulihan krisis global ini tidak terjadi dalam waktu cepat, setidaknya akan memakan waktu 1-2 tahun ke depan. Makanya, ia menyarankan, saat ini lebih aman pegang cash dan logam mulia sebagai alternatif investasi mengingat medan krisis akan bertambah berat ke depan.

Hendy M. Fakhruddin, pengamat pasar modal, menilai, patut dicatat bahwa penurunan kinerja bursa kali ini berbeda dari krisis 1997-98. Kala itu, krisis lebih banyak didorong oleh faktor intenal: krisis perbankan. Sementara krisis kali ini bersumber dari faktor eksternal. Dan saat krisis ini terjadi, kondisi ekonomi Indonesia dan perbankan, termasuk pasar saham, sedang mengalami euforia dan memiliki fundamental yang baik.

Fakta ini menunjukkan bahwa pasar modal kita sudah sangat terintegrasi dengan pasar modal global. Globalisasi informasi menjadikan informasi yang berkembang di bursa-bursa utama dunia secara cepat berpengaruh terhadap pasar saham. Bahkan, dengan krisis ini kita menyaksikan pergerakan harga saham di BEI ”tergantung” pada atmosfer pasar di luar yang tergambar pada Dow Jones, S&P, Nikkei dan Hangseng. ”Jika indeks di bursa-bursa utama naik, hampir dapat dipastikan IHSG mengalami hal yang sama,” kata Hendy.

Krisis finansial juga memberikan pelajaran berharga buat pelaku pasar, bahwa kenaikan harga saham sering didominasi faktor-faktor nonfundamental serta ”selimut” keinginan instan untuk mengejar capital gain, sehingga praktik-praktik seperti margin trading, short selling serta repo menjadi mesin penggerak pertumbuhan pasar. Akibatnya, harga saham tidak lagi mencerminkan kinerja fundamental perusahaan.

Hendy menyimpulkan, potensi harga saham untuk rebound seperti harga saham di awal 2008 akan sulit terealisasi, khususnya pada 2009, karena kondisi pasar masih terus terimbas sentimen krisis global. Lihat saja, ”Sepanjang tahun 2009, IHSG hanya berkisar 1.200-1.400 dengan variasi pergerakan yang didominasi sentimen regional dan lokal,” ujarnya berargumen rentang pemulihannya

Secara teknis, penurunan volume transaksi yang signifikan serta nilai transaksi yang kecil menegaskan bahwa pergerakan indeks tidak kokoh dan mudah tergelincir dalam ”bungkusan” volume transaksi yang kecil. Hal ini karena pergerakan harga saham lebih didorong oleh sentimen dan psikologis pasar. Artinya, harga saham secara umum tidak mencerminkan kinerja fundamental.

Dalam konteks ini, maka pasar akan mengalami rebound secara signifikan kalau dana asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Akan tetapi, ini pun belum pasti kapan waktunya, karena rentang pemulihann krisis global akan panjang.

Riset: Sarah Ratna Herni

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.