Bisnis di Sulawesi Utara dan Gorontalo semakin berkembang. Sejumlah kebijakan diciptakan untuk menarik minat investor agar mau singgah di kedua wilayah itu. Bagaimana perkembangan dan prospeknya?
Oleh : Dede Suryadi
“Kita Samua Basudara” yang artinya kita semua bersaudara. Begitulah moto yang dipegang masyarakat Sulawesi Utara (Sul-Ut) dan Gorontalo. Kendati Gorontalo telah memisahkan diri dengan landasan Undang-undang No. 38/2000 (menjadi provinsi tersendiri), persaudaraan di antara mereka tetaplah terjalin dengan baik. Tak ada rasa permusuhan di antara keduanya. Ini bisa jadi contoh pemisahan daerah tanpa ada darah tertumpah.
Saat ini, perkembangan ekonomi Sul-Ut dan Gorontalo tergolong pesat. Kedua provinsi ini menunjukkan tren meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat, rata-rata di atas 7% dan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.
Mesin perekonomian Sul-Ut dan Gorontalo digerakkan oleh sektor pertanian, khususnya perkebunan kelapa, tanaman pangan, peternakan dan perikanan. Komoditas jagung dan produk perikanan menjadi andalan ekspor Gorontalo sekaligus menjadi penggerak utama ekonomi provinsi yang sering disebut Serambi Madinah ini. Industri pariwisata pun sudah mulai dikembangkan. Salah satu yang sedang dipromosikan adalah objek wisata bahari Taman Laut Olele.
Produk andalan Sul-Ut antara lain turunan kelapa (minyak kelapa kasar, bungkil, karbon aktif, virgin coconut oil), pala, cengkeh, tanaman pangan (wortel, kentang, sawi dan kubis), serta hasil perikanan. Industri pariwisata, khususnya pariwisata bahari dengan beberapa taman laut, menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Bumi Nyiur Melambai ini.
Gubernur di kedua provinsi ini juga terus berpacu menciptakan kebijakan-kebijakan strategis untuk mempercepat gerak ekonomi daerahnya. Gorontalo menggunakan pendekatan agropolitan untuk mengembangkan jagung dan produk perikanan, menciptakan pengelolaan keuangan daerah yang transparan dan akuntabel, dan berbagai kebijakan pelayanan publik yang semakin baik.
Adapun Sul-Ut fokus pada kebijakan-kebijakan strategis daerah untuk menjadikan provinsi ini sebagai “Pintu Gerbang Kawasan Timur Indonesia di Asia Timur dan Pasifik” dengan memanfaatkan dua pintu utama: Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, sebagai tujuan dan pusat distribusi turis mancanegara dan domestik, serta Pelabuhan Internasional Bitung sebagai pusat konsolidasi dan distribusi kargo. Bahkan, penerbangan langsung ke luar negeri dari Manado pun sudah dibuka, seperti ke Singapura, Kualu Lumpur serta Davao-Manila. Dan, dalam waktu dekat akan dibuka penerbangan langsung dari Manado ke Taipeh dan Hong Kong.
Selain sejumlah pebisnis lokal berskala besar yang terus bermunculan, beberapa pengusaha nasional juga mulai berinvestasi di kedua wilayah ini. Di Sul-Ut, misalnya, ada Ciputra, Ronald Korompis dan Edwin Kawilarang. Sementara, di Gorontalo belum terlalu banyak, dan yang baru terdengar adalah Sandiaga Uno yang tengah membangun pembangkit listrik tenaga uap. Investor asing pun sudah mulai menyerbu dua wilayah di ujung utara Sulawesi ini.
“Ke depan, peluang bisnis di Gorontalo akan semakin terbuka untuk sektor pertanian tanaman pangan seperti jagung dan padi, peternakan sapi, perkebunan kelapa, perikanan dan agroindustri,” ujar Noldy Tuerah, ekonom Universitas Sam Ratulangi Manado. Demikian juga, peluang investasi di Sul-Ut sangat terbuka untuk industri pariwisata bahari, industri pemrosesan perikanan dan agroindustri tanaman pangan.
Reportase: Kristiana Anissa dan Sigit A. Nugroho/Riset: Ratu Nurul Hanifah dan Siti Sumariyati
Lebih lengkapnya liat artikel sambungannya:
1. Geliat Bisnis di Bumi Nyiur Melambai
2. Denyut Bisnis di Serambi Madinah
Published on Majalah SWA