Melejit di Tengah Impitan Krisis

Krisis global telah mengguncang berbagai sektor, tak terkecuali dunia keuangan dan investasi. Namun, PT Panin Sekuritas Tbk. (PS), di tengah banyaknya perusahaan sekuritas yang melempem, ia malah menangguk untung besar. Tengok saja, per September 2009 profit PS mencapai Rp 136 miliar, padahal di akhir 2008 hanya Rp 36 miliar.

Handrata Sadeli, Presdir PS, tak menampik perusahaan sekuritasnya itu juga terkena imbas krisis global di 2008. Buktinya, tahun 2008 ia menargetkan perusahaannya mampu membukukan laba bersih Rp 80 miliar, tetapi kenyataannya cuma Rp 36 miliar. Bahkan pencapaiannya itu menyusut dibanding profit tahun 2007 yang mencapai Rp 86 miliar. “Jadi, target 2008 memang tidak tercapai tapi kami masih profit,” ujar pria yang telah berkecimpung di pasar modal sejak 1989 ini.

Akan tetapi, di 2009, saat belum genap setahun tutup buku, PS tumbuh fantastis. Handrata pun membuka resep jitunya. Menurutnya, kemampuan PS bertahan di kala krisis itu disebabkan prinsip perusahaan ini yang konservatif dalam mengelola investasi. “Sejak dulu, Grup Panin memang dikenal sangat konservatif. Banknya (Bank Panin) juga sudah dikenal cukup konservatif. Biasanya yang konservatif itulah yang bisa bertahan menghadapi kondisi krisis,” ujar kelahiran Bandung 12 November 1952 ini menjelaskan.

Prinsip konservatif yang selalu dipegang PS terlihat pula dalam hal dana minimum yang dibutuhkan untuk membuka akun investasi oleh nasabah, yaitu Rp 25 juta. Tidak seperti sekuritas lain, ada yang mematok Rp 5 juta. Keunggulan lain yang dimiliki PS, pengalamannya yang cukup panjang (berdiri tahun 1989), dan go public sejak tahun 2000. Selain itu, permodalan PS pun cukup besar. Saat ini, aset PS lebih dari Rp 1 triliun dengan pertumbuhan rata-rata 20%-30% per tahun. Total jumlah nasabahnya mencapai 8 ribu, baik nasabah koporat maupun ritel.

Lalu, jaringan PS sekarang cukup luas, yakni memiliki 12 cabang, termasuk kantor pusat yang berada di Jakarta. Cabang luar kota berada di Bandung, Medan, Padang, Pekanbaru, Pontianak dan Surabaya. Tahun depan, PS berencana membuka cabang di Palembang, kemudian menyusul beberapa kota lain, seperti Denpasar, Makassar dan Semarang.

Winston Sual, Wapresdir PS, menambahkan, secara keseluruhan performa PS memang baik. Alasannya, prinsip kehati-hatian selalu dipegang sehingga ketika terjadi penurunan kondisi pasar, PS tidak turun terlalu dalam. “Saat orang-orang berpikir untuk survive, kami sudah aman,” ia mengungkapkan. Sebagai contoh, pada November 2008, lanjut Winston, jangankan sekuritas, bank saja bisa bangkrut. Makanya, harus ada bailout seperti kasus Bank Century. Begitu pula di perusahaan sekuritas lain, banyak yang tidak siap menghadapi kondisi krisis. “Saat pasar rebound dan mereka masih bingung, kami sudah dapat berpikir untuk memaksimalisasi keuntungan,” kata Winston bangga.

Memang, di masa sulit akhir 2008 itu, PS masih tetap melakukan pengembangan usaha dengan meluncurkan online trading dan menambah cabang. “Mungkin saat itu, orang lain masih bingung mau ke mana, tapi karena posisi kami sangat sehat, kami bisa melihat arah market dengan tepat,” ia menambahkan. Menurut Winston, tahun 2009 posisi reksa dana PS lebih baik dibanding sebelum krisis. Saat ini, sekitar 75% dana kelolaannya diinvestasikan di saham.

“Jadi kenapa kinerja kami bisa luar biasa? Karena kami punya filosofi terkait kecepatan kami melihat tren atau arah pasar di 2009,” Wilson menegaskan. Bisa jadi, perusahaan sekuritas lain juga mampu melihat tren pasar, tetapi PS bisa mengambil tindakan lebih cepat karena kondisi perusahaan sedang sehat waktu itu. “Likuiditas kami terjaga. Keadaan nasabah kami tidak berbahaya, dan kami juga tidak terkena kerugian akibat transaksi margin,” ia menerangkan.

Dede Suryadi dan Kristiana Anissa

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.