Saat ini, indeks harga saham yang menjadi indikator tren pasar dan acuan bagi para pelaku di pasar modal makin banyak. Indeks mana saja yang sering jadi acuan?
Dede Suryadi
Pada penutupan perdagangan saham sesi satu pada Kamis (26/2/2009) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 11,70 poin atau minus 0,90% menjadi 1.288,40. Sementara indeks LQ45 melorot 1,14%, indeks Kompas100 terkoreksi 1,08%, Jakarta Islamic Index (JII) melemah 0,44% dan indeks Bisnis-27 juga terkoreksi 1,48% poin menjadi 114,17.
Penurunan sejumlah indeks tersebut terseret koreksi saham sektor perbankan, konsumer dan perkebunan. Pergerakan indeks tersebut masih banyak dipengaruhi pergerakan indeks di bursa regional dan global sejalan dengan masih minimnya sentimen positif dari dalam negeri. Pada sesi perdagangan ini, 35 saham naik, 64 saham turun dan 50 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 1,34 miliar dengan nilai transaksi Rp 742,9 miliar dari 20.952 kali transaksi.
Kehadiran indeks-indeks tersebut memudahkan para pelaku pasar modal baik para analis, manajer invesasi maupun investor untuk membaca tren bursa saham. Maksudnya, pergerakan indeks menggambarkan kondisi pasar pada suatu saat, apakah pasar sedang aktif atau lesu. Dengan demikian, juga akan membantu mereka menganalisis perkembangan pasar.
Di samping itu, saham-saham yang dimasukkan dalam indeks tersebut pun bisa dipertimbangkan untuk masuk portofolionya. Sebagaimana dipaparkan di atas, dari keempat indeks, ternyata JII yang penurunannya paling kecil. Artinya, rata-rata saham-saham yang ada dalam JII penyusutan nilainya lebih sedikit dibanding dengan indeks lainnya. Tentu saja, ada saham yang sama bisa masuk ke perhitungan semua indeks karena dasar pemilihannya umumya tak beda jauh.
Pergerakan indeks menjadi indikator penting bagi para investor untuk menentukan apakah mereka akan menjual, menahan atau membeli saham. Karena harga saham bergerak dalam hitungan detik dan menit, angka indeks pun bergerak turun-naik dalam hitungan waktu yang cepat pula.
Selain sejumlah indeks yang disebut di atas, masih ada lagi indeks lainnya seperti indeks Sektoral yang diperkenalkan sejak 2 Januari 1996. Indeks ini merupakan sub-indeks dari IHSG di mana semua saham yang tercatat di BEI diklasifikasikan ke dalam 9 sektor menurut klasifikasi industri yang telah ditetapkan BEI, yang diberi nama Jasica (Jakarta Industrial Classification). Lalu, ada lagi indeks Papan Utama, indeks Papan Pengembangan, dan indeks Individual (indeks harga saham masing-masing emiten).
Tentu, setiap indeks memiliki kriteria tersendiri. Misalnya, indeks LQ45 yang hadir sejak Februari 1997 terdiri atas 45 saham dengan likuiditas tinggi, yang diseleksi melalui beberapa kriteria pemilihan dan juga mempertimbangkan kapitalisasi pasar. Penggantian saham di dalamnya dilakukan setiap 6 bulan sekali, yaitu pada awal Februari dan Agustus. Kemudian, JII yang diluncurkan pada 3 Juli 2000 menggunakan 30 emiten yang masuk dalam kriteria syariah dan termasuk saham yang memiliki kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi. JII dikaji setiap 6 bulan, yaitu pada Januari dan Juli atau berdasarkan periode yang ditetapkan Badan Pengawas Pasar Modal-Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).
Lalu, indeks Kompas100 yang mulai diperkenalkan pada Juli 2007 menggunakan 100 saham yang dipilih dengan mempertimbangkan faktor likuiditas, kapitalisasi pasar dan kinerja fundamental saham-saham tersebut. Pergantian saham dan evaluasi dilakukan 6 bulan sekali, yaitu pada Februari dan Agustus. Adapun indeks Bisnis-27 yang hadir paling bontot sejak 27 Januari 2009, terdiri atas 27 saham kategori blue chip dengan likuiditas tinggi serta didasarkan pada parameter kinerja fundamental dan teknis. Evaluasi dan pergantian emitennya juga dilakukan seperti Kompas100. Sementara IHSG yang pertama kali diperkenalkan pada 1 April 1983 menggunakan semua emiten yang tercatat sebagai komponen perhitungan indeks. Per Desember 2008 ada 396 emiten yang tercatat di dalamnya.
Setiap masa evaluasi selalu ada saham yang datang dan pergi. Contohnya, pada akhir Januari tahun ini indeks LQ45 dan Kompas 100 secara bersamaan mendepak keluar saham-saham Grup Bakrie seperti PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR), PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL), PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG). Sementara itu, saham yang menjadi penghuni barunya adalah PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) dan PT Elnusa Tbk. (ELSA).
Pada prinsipnya, seluruh indeks yang ada di BEI menggunakan metode perhitungan yang sama, yaitu metode rata-rata tertimbang berdasarkan jumlah saham tercatat. Perbedaan utama antar-indeks adalah jumlah emiten dan nilai dasar yang digunakan untuk penghitungan indeks. Misalnya, indeks LQ45 menggunakan 45 saham untuk perhitungan indeks, sedangkan JII menggunakan 30 saham. Indeks-indeks tersebut ditampilkan terus-menerus melalui display wall di lantai bursa dan disebarkan ke masyarakat luas oleh data vendor melalui data feed.
Bermunculannya berbagai indeks sejalan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan dan kebutuhan untuk memberikan informasi yang lebih lengkap kepada masyarakat mengenai perkembangan bursa. Salah satu informasi yang diperlukan tersebut adalah indeks harga saham sebagai cerminan pergerakan harga saham di bursa.
Sebagai contoh, pada akhir 1994, IHSG masih berada pada level 469,640, dan sempat mengalami penurunan pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1997. Namun pada tahun 2000-an IHSG mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Per 9 Januari 2008, IHSG mencapai level tertinggi sepanjang sejarah pasar modal di negeri ini yang ditutup pada level 2.830,263 atau meningkat sebesar 502,65% dibandingkan penutupan tahun 1994.
Lalu, indeks mana saja yang paling banyak digunakan oleh para pelaku pasar modal? Muhammad Alfatih, analis dari BNI Securities, mengatakan, tentu IHSG akan menjadi acuan pertama untuk diperhatikan karena indeks ini mewakili seluruh saham yang ada di bursa. Namun, kalau ingin lebih spesifik, bisa melihat indeks lainnya sepeti indeks Sektoral dan LQ45.
Apalagi kalau ingin membentuk sebuah portofolio, indeks selain IHSG akan menjadi acuan. Seperti mereka yang akan membentuk portofolio syariah, JII menjadi acuan utamanya. Pasalnya, JII sangat memperhatikan kinerja perusahaan yang masuk kategori syariah dan memiliki debt equity ratio yang rendah. Makanya, saham-saham yang masuk JII adalah saham-saham sehat.
Alfatih sendiri sebagai seorang analis lebih banyak melihat IHSG, LQ45 dan indeks Sektoral. Di luar itu, indeks tentang Indonesia yang sering dipakai oleh para investor asing juga jadi perhatiannya. Baginya, untuk menganalisis sebuah saham tak cukup hanya mengandalkan indeks semata, masih banyak faktor lain yang harus dilihat. Sementara untuk indeks-indeks lain, Alfatih mengaku jarang menggunakannya. Apalagi, sebagai analis teknis dirinya memiliki keterbatasan waktu untuk mengambil keputusan. “Kalau saya tak menggunakan indeks Kompas100 atau Bisnis-27, itu karena keterbatasan waktu saja.”
Senada dengan Alfatih, Hendra Bujang, analis dari Danpac Asset Management, juga mengaku jarang menggunakan indeks selain IHSG. LQ45 atau indeks Sektoral. “Barangkali indeks-indeks yang baru itu lebih cocok untuk para investor pemula,” ujar Hendra menduga. Selain itu, juga masih perlu terus disosialisasi dan perlu waktu sehingga bisa menjadi acuan.
Sementara itu, Alexmarco, yang sudah 15 tahun jadi trader, hanya melihat IHSG untuk melakukan aksi jual-beli saham di bursa. Menurutnya, dengan IHSG, dirinya bisa membaca arah tren pasar. Misalnya, kalau IHSG turun lebih karena sentimen pasar, biasanya indeksnya akan naik lagi. “Kalau saya beli sambil tutup mata saja, pasti akan untung,” katanya sambil tertawa. Ia menambahkan, indeks-indeks lainnya seperti Kompas100 atau Bisnis-27 sangat cocok untuk mereka yang berinvestasi di reksa dana.
Hardi, seorang investor, mengaku lebih memilih LQ45 karena indeks ini mudah dicermati, dikeluarkan oleh BEI yang berpengalaman dan ahli di bidangnya, serta sudah hadir cukup lama dibanding Kompas 100 dan Bisnis-27. Namun, sebagai perbandingan, ia juga mencermati kedua indeks keluaran media harian tersebut.
Tentunya, sejumlah indeks di bursa akan digunakan sesuai dengan kebutuhan para pelaku di pasar modal itu sendiri. Bagaimanapun, indeks bisa membantu menentukan keputusan yang tepat untuk bertransaksi agar tak merugi.
Riset: Sarah Ratna Herni
Published on Majalah SWA, Maret 2009