Calerina Judisari merasakan betul manfaat menimba ilmu di Prasetiya Mulya Business School ketika membesut bisnisnya sekarang. Juga, saat ia jadi kayawan di sejumlah perusahaan. “Saya pikir hingga sekarang basic-nya masih bisa dipakai. Prasetiya Mulya membentuk orang, bukan memberi pelajaran saja. Di sekolah ini saya di-observe ke mana sih talenta saya, misalnya karakternya sebagai problem solver atau apa,” kata alumni MM Pemasaran Prasetiya Mulya ini. Makanya, Calerina tidak merasa menyesal, bahkan bersyukur, mengambil keputusan masuk ke sekolah bisnis yang berdiri pada 1982 itu. Padahal, sebelumnya ia sudah berancang-ancang mengambil S-2 di Amerika Serikat.
Menurutnya, banyak hal yang didapat dari Prasetiya Mulya. Di antaranya, kemampuan memetakan kasus, menganalisis dan memecahkan masalah. Ilmu yang didapatnya juga sangat membantu pada saat penanganan masalah klien. Selain itu, jiwa kewirausahaan juga dibina karena modul-modul Prasmul – demikian Calerina menyebut almamaternya itu — banyak menekankan pada entrepreneurship yang aplikatif. Ditambah lagi, pembuatan materi akhir berupa rencana bisnis (business plan).
Secara umum, pemikiran komprehensif yang didukung ide-ide kreatif untuk selalu mandiri dengan jiwa kepemimpinan yang tinggi mampu memberikan andil dalam menangani pekerjaan untuk membuahkan hasil yang maksimal. “Istilahnya, berlari lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak mengambil MM karena dipersenjatai tool-tool analisis dan kasus yang praktis,” ujar kelahiran 24 Februari 1967 ini membandingkan.
Calerina, yang punya panggilan akrab Ayie, merasa dari sisi karier mungkin prestasinya tidak terlalu cemerlang, tetapi banyak yang melihat pekerjaannya bisa diterima. Selepas dari Prasetiya Mulya, ia bekerja di Matari Advertising. Kariernya di perusahaan periklanan ini dimulai sebagai assistant to chairman. Sebelum keluar dari Matari, ia berhasil mencapai posisi Account Manager untuk klien-klien nonkomersial atau lembaga swadaya masyarakat.
Calerina merasa jatuh cinta pada dunia pemasaran justru sejak kuliah di Prasetiya Mulya. Setelah tiga tahun di Matari, ia pindah ke industri kuliner, bergabung dengan Grup Putra Sejahtera Pioneerindo (PSP)) sebagai Manajer Pemasaran selama lima tahun. Grup PSP memiliki jaringan resto, antara lain California Fried Chicken dan Sapo Oriental. Setelah itu, ia melompat ke industri lain, yaitu broadcasting, dimulai dari Lativi (selama umur Lativi) dan berlanjut ke TVOne. Di stasiun televisi yang dibangun Abdul Latief itu, ia dipercaya menangani promosi kemunculan program Dora & Spongebob di Nick on Lativi maupun program kontroversial Smack Down, serta ikut dalam peluncuran TVOne.
Walaupun kala itu Lativi bisa dibilang sekarat, kakak ipar personel P-Project, Tika Panggabean, ini tetap bisa mengeluarkan ide-ide program menarik dan berhasil di sana, salah satunya Pildacil (Pemilihan Dai Cilik). “Berpikir kreatif dan membuat proposal program yang bagus memang kekuatan saya sebagai lulusan Prasmul,” katanya bersyukur.
Setelah malang melintang menjadi karyawan, Calerina membangun bisnis sendiri pada 2007. Maka, lahirlah Radja Ketjil Restaurant, merek resto yang sengaja ditulis dengan ejaan lama. Karena banyak rekan yang melihat usaha resto yang dimilikinya solid, tak sedikit yang meminta dirinya menjadi konsultan. Maka, ia pun mendirikan konsultan resto yang mencoba membantu para pemilik resto mengembangkan usaha, mulai dari operasional sehari-hari, pemasaran hingga upaya membangun merek (branding). Nah, pada posisi ini, banyak sekali konsep yang harus dipergunakan dicampur dengan kemampuan lapangan.
Selain Radja Ketjil, Calerina juga memiliki resto dengan masakan Indonesia bernama: Sari Banon Restaurant. Saat ini, Radja Ketjil memiliki lima cabang (Tarogong, Plaza Semanggi, PIM 2, Tebet Barat, Alam Sutra) dan rencananya dalam waktu dekat akan dibuka cabang ke-6 di Sunter. Sari Banon saat ini baru ada di Teras Kota dan akan dibuka di Margonda dalam waktu dekat. “Hampir seluruh pelajaran MM bermanfaat dalam posisi yang saya jalani,” ujarnya. Semua ilmu yang didapat itu digabungkan dengan pengalamannya di lapangan. Tak puas sampai di situ, ia juga punya bermimpi membuat sekolah khusus hospitality.
Agus W. Soehadi, pengajar Prasetiya Mulya yang kenal baik dengan Calerina, menilai mantan muridnya itu salah satu lulusan yang bagus. Selain itu, Calerina juga dianggap berhasil dalam karier. Bahkan, wanita lulusan Jurusan Akuntansi Universitas Parahyangan, Bandung, itu berhasil membangun bisnis sendiri yang, menurut Agus, memiliki konsep yang kuat. “Bisnis itu kan harus memiliki diferensiasi, Ayie saya lihat berhasil mengimplementasikannya melalui keunggulan bersaing restoran yang dimilikinya,” ujar pengajar pemasaran itu. Calerina, tambahnya, berhasil melakukan pembedaan dengan kerap mengobservasi beberapa resto yang berbeda agar ia bisa memberikan sesuatu yang berbeda.
Agus juga punya pengalaman, saat dirinya dipercaya Prasetiya Mulya mengembangkan program S-1, Calerina mengajaknya bekerja sama mempromosikan program yang masih baru tersebut di Lativi. Acaranya dinilai bagus oleh Agus karena memperkenalkan bisnis sejak SMA. Saat itu, Calerina membuat program Berbisnis, kompetisi bisnis antar-SMA di Lativi. “Kerja sama kami dengan Lativi itu ternyata bagus. Saya melihat leadership Ayie dengan anak buah bagus, karena anak buahnya begitu loyal,” Agus menegaskan.
Dede Suryadi dan Herning Banirestu