Kemampuan Gustinus Bayuaji di bidang teknologi informasi (TI) tak diragukan lagi. Pasalnya, hampir 13 tahun ia berkarier di bidang ini, tepatnya di Internet. Dan, Indosat menjadi pilihannya meniti karier selulus dari Institut Teknologi Bandung Jurusan Informatika, tahun 1996. Tak heran, dalam ajang Best e-Corp, Ajie – begitu biasa Gustinus Bayuaji dipanggil – dinobatkan sebagai Future IT Leader di urutan ketiga.
Kini, Ajie menjabat sebagai Manajer Pengembangan TI PT Indosat Mega Media (IM2). Ia memimpin tim beranggota 7 orang yang bertanggung jawab atas pengembangan jaringan infrastruktur dan peranti lunak TI yang dibutuhkan oleh para pengguna IM2. Untuk itu, ia juga harus mampu bekerja sama dengan tim kerja lainnya yang ada di IM2, agar hasil yang dikembangkan oleh divisinya itu sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan para pengguna produknya.
Menurutnya, skill of networking yang baik itu patut dimiliki oleh seorang pemimpin. Mengapa? Karena, bagaimanapun, pihaknya harus mampu menyesuaikan dan menyeimbangkan kebutuhan anggota timnya dengan tim dari luar, baik masih dalam perusahaan yang sama maupun dari luar perusahaan. “Meskipun begitu, kami yang paling tahu seberapa besar kapasitas dan kompetensi anggota tim kami,” ujarnya.
Bagi Ajie, ada dua kunci utama yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin TI, yaitu inovasi berkelanjutan dan keterampilan manajemen efisiensi. “TI adalah produk yang kami jual ke user. Tanpa inovasi, pelanggan dijamin akan meninggalkan,” ungkapnya. Sementara itu, manajemen efisiensi diperlukan karena bagaimanapun, ia bekerja tidak bisa lepas dari kebijakan perusahaan yang selalu ingin memberikan dan mendapatkan hasil yang optimal tanpa harus menurunkan standar kualitas produk dan layanan.
Selain itu, Ajie menambahkan, seorang pemimpin – chief information officer (CIO), chief executive officer (CEO), ataupun chief financial officer (CFO) – dalam melakukan perencanaan, implementasi, operasional, serta evaluasi kerja, kinerja dan bisnis, harus sejalan dengan proses bisnis keseluruhan. Kadang kala, itu semua masih berdiri sendiri-sendiri. Padahal, semua itu merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. TI sendiri baginya bukan sebagai supporting business belaka, tetapi seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnis itu sendiri.
Apalagi di zaman yang sudah TI multimedia merambah ke seluruh sektor industri. “Sebagai CIO harus mampu menyakinkan betapa pentingnya peran TI dalam proses bisnis keseluruhan kepada tim non-TI yang lain. Di sinilah kemampuan komunikasi persuasif dengan data, fakta, dan analisis yang valid akan dibutuhkan,” katanya panjang-lebar.
Dalam pandangan Mohammad Amin, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis IM2, Ajie mempunyai kemampuan manajerial, organisatoris, reporting, perencana dan negosiator yang lebih baik dibanding kawan-kawan selevelnya yang juga manajer. Dalam menyampaikan laporan kerjanya, Ajie termasuk konsisten, bahkan bisa jauh lebih cepat dari tenggat (batas waktu) yang diwajibkan dibanding koleganya. “Ia juga sosok yang apa adanya,” ujar Amin yang juga atasan Ajie di IM2.
Sementara itu, Engkun W. Juganda, juri ajang Best e-Corp, menilai Ajie mempunyai pengalaman yang berharga dalam membantu mengembangkan produk-produk baru di IM2. Namun, Engkun memberi masukan, agar Ajie sebaiknya mulai melihat bagaimana TI ke depan dapat menjadi motor penggerak dalam pengembangan produk baru, bukan lagi sebagai pendukung. Untuk ini, diperlukan pengetahuan dan pemahaman mengenai strategi bisnis yang lebih luas di bidang TI.
“Untuk menjadi pemimpin yang mumpuni, ia harus mempunyai pandangan dan rasa percaya diri sebagai seorang top management perusahaan yang sejajar dengan top management di bidang lain, seperti keuangan, pemasaran, operasional, yang biasanya dianggap sebagai motor penggerak perusahaan,” Engkun menegaskan.
Dede Suryadi dan Tutut Handayani