100 Perusahaan Eksportir Terbesar Indonesia

Demi mengetahui lebih jauh perusahaan eksportir skala besar di negeri ini, SWA melakukan survei 100 Indonesian Largest Exporter. Siapa saja mereka? Apa kehebatan mereka sehingga mampu menembus pasar dunia?

Hasil survei Majalah SWA terhadap perusahaan eksportir skala besar cukup menggembirakan. Tak kurang dari 100 perusahaan eksportir terbesar — dilihat dari nilai ekspor 2010 — berhasil dijaring. Tak hanya tahun lalu, nilai ekspor 2008 dan 2009 juga menjadi bahan pertimbangan.

 

Di urutan tiga teratas ekportir terbesar di negeri ini, PT Wilmar Nabati Indonesia (Grup Wilmar) ada di posisi pertama. Perusahaan modal asing (PMA) penghasil minyak sawit mentah (CPO) ini membukukan nilai ekspor tertinggi selama 2010, yaitu US$ 2.942.689.608 atau sekitar Rp 26,5 triliun (kurs Rp 9 ribu/US$). Naik 60% dibanding tahun sebelumnya (2009) yang sebesar US$ 1.814.481.462. Hanya saja, pencapaian di 2009 itu turun 15,8% dibanding 2008 yang sebesar US$ 2.141.855.474.

Posisi kedua ditempati PT Adaro Indonesia. PMA pertambangan batu bara ini membukukan nilai ekspor US$ 1.749.363.540 (2010), US$ 1.828.524.868 (2009) dan US$ 1.220.442.002 (2008). Adapun posisi ketiga diduduki PT Musim Mas. Perusahaan dalam negeri ini (PMDN) pengolahan CPO ini membukukan nilai ekspor US$ 1.614.739.578 (2010), US$ 1.175.858.705 (2009) dan US$ 1.455.744,116 (2008) – pemenang lainnya, lihat Tabel.

Garibaldi Thohir, Presiden Direktur PT Adaro Indonesia, mengungkapkan, perusahannya dimiliki PT Adaro Energy Tbk., yang 65% sahamnya kepunyaan pengusaha nasional. Menurutnya, ini merupakan salah satu pencapaian terbaik dari salah satu perusahaan tambang batu bara di Indonesia. Padahal, sebelum 2005, sebagian besar saham Adaro dimiliki perusahaan Australia.

Dengan 16.100 karyawan dan 50 pekerja subkontraktor, Adaro kini semakin berkembang karena memasok produknya ke pasar yang sangat besar, baik lokal maupun global. Tak mengherankan, Adaro merupakan pengekspor batu bara terbesar yang dimiliki Indonesia saat ini.

“Produk kami memiliki nilai lebih jika dibandingkan dengan produk perusahaan tambang lainnya. Produk kami memiliki konten sulfur yang rendah dan kadar abu yang juga rendah,” kata pria yang akrab disapa Boy Thohir itu. Dengan keunggulan tersebut, produk batu bara Adaro memiliki branding tersendiri, yaitu envirocoal.

Branding “envirocoal” ini terus digaungkan sebagai keunikan tersendiri Adaro dalam memasarkan produknya. Adaro tidak memiliki agen dalam pemasaran produknya karena kegiatan itu dilakukan secara langsung melalui kantor perwakilan di beberapa negara dengan menggunakan upaya branding “envirocoal”.

Negara tujuan ekspor Adaro pun semakin meningkat. Tercatat 16-18 negara di dunia memercayainya sebagai pemasok batu bara bagi mereka. Pembangkit listrik di Amerika Serikat (New York), negara-negara Eropa dan negara-negara Asia adalah pelanggannya.

Di Asia, Adaro memiliki pasar premium, antara lain Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Hong Kong. Bahkan untuk Hong Kong, Adaro memasok 60% pembangkit listrik di sana. Padahal, di negeri itu, standar environmental-nya sangat ketat.

Nilai ekspor Adaro pun selalu meningkat, kecuali di 2010. Pada tahun tersebut, ekspor Adaro menurun yang dipengaruhi krisis ekonomi global pada 2008, sehingga saat itu terjadi fluktuasi harga.

Jagoan ekspor lainnya yang masuk 100 Indonesian Largest Exporter versi SWA di antaranya PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMART), di urutan 8. Sementara di posisi 20 ke atas, antara lain PT Selamat Sempurna Tbk. (urutan 26), PT Trimitra Baterai Prakarsa (28). Di posisi 40 ke atas di antaranya PT Insera Sena-Polygon (47). Adapun posisi ke-100 adalah PT Mahligai Indococo Fiber.

Harry Hanawi, Chief Operating Officer Downstream SMART, mengatakan, perusahaannya memproduksi CPO secara terintegrasi mulai dari hulu sampai hilir. Anak perusahaan Grup Sinar Mas ini memproduksi CPO mulai dari membuat bibit, menyediakan perkebunan kelapa sawit, membuat CPO, mengilang (refinery), hingga mendistribusikannya di dalam dan luar negeri.

Nilai penjualan perusahaan ini meningkat 9% dari US$ 914 juta pada 2009 menjadi hampir US% 1,1 miliar pasa 2010. “Jika dilihat dari total penjualannya, naik 9%. Namun kalau dilihat nilai ekspornya, naik 20%. Sedangkan persentase ekspor pada 2009 sebesar 71% dan pada 2010 naik menjadi 78%,” Harry memaparkan. Jadi, kalau dilihat dari angka-angka tadi, SMART fokus menggarap pasar ekspor.

Pada kategori CPO, terjadi penurunan ekspor pada 2010 jika dibandingkan dengan 2009. Ini mengindikasikan SMART lebih memfokuskan ekspor produk turunan dibanding CPO. Ini juga untuk menunjang program pemerintah agar para pengusaha lebih fokus pada hilirisasi.

Di kategori minyak goreng, volume penjualan ekspor minyak goreng mendekati 11.000 ton. Ekspor minyak goreng tersebut paling banyak ke Filipina dengan porsi 43% dari total ekspor, diikuti Afrika sebesar 39%. Sisanya, minyak goreng diekspor ke Maladewa, negara-negara Timur Tengah, Timor Timur dan Bulgaria, walaupun persentasenya kecil.

Di kategori produk turunan lainnya dari CPO, yaitu margarin, pasar ekspor terbesarnya adalah Afrika (70%), diikuti Korea. “Korea itu pasar yang sudah high end,” kata Harry. SMART sejak 2009 masuk ke pasar Korea. Dan untuk 2010-11, pasokan ke Korea sudah mencapai 1.600 ton.

SMART pun baru saja memasuki pasar Jepang. ”Berbagai merek SMART sudah teregistrasi di 16 negara dan masih dalam proses registrasi di 27 negara,” lanjut Harry. Misalnya, terdapat beberapa merek minyak goreng SMART yang beredar di luar negeri. Yang terbesar ada di Filipina, seperti Mitra dan Menara. SMART telah membuat iklan televisi di Filipina yang menggunakan talent dari negeri itu. Ada sejumlah merek minyak goreng SMART yang ditujukan untuk berbagai segmen, yaitu Filma, Kunci Mas, Menara dan Mas Ku. “ “Kami selalu mencari peluang atau pasar baru,” tutur Harry.

Sementara itu, PT Selamat Sempurna Tbk. mengusung empat strategi yang dijalankan untuk menembus pasar global, yaitu memperkuat distribusi, rajin berpromosi, gencar mengembangkan merek, dan memetakan persaingan. Produsen filter otomotif ini sudah mendaftarkan produknya yang bermerek Sakura di 90 negara tujuan ekspor, di Asia Pasifik, Eropa, hingga Amerika.

Dari kapasitas produksi yang mencapai 1,9 juta per tahun, sebanyak 72% adalah pasar ekspor. “Terbatasnya pasar domestik membuat kami mengambil strategi lain. Salah satunya, ekspansi ke luar negeri,” ujar Ang Andri Pribadi, Direktur Selamat Sempurna. Menurutnya, industri otomotif dunia berkembang cukup pesat. Ini merupakan peluang emas bagi Selamat Sempurna untuk menjadi perusahaan besar.

Yang juga mayoritas produksinya diekspor ke luar negeri adalah PT Trimitra Baterai Perkasa. Perusahaan ini dianggap sebagai salah satu pengekspor aki terbesar di Indonesia, dengan 85% produksinya diekspor hampir ke seluruh benua, terutama Eropa. “Memang orientasi awal perusahaan kami adalah sebagai perusahaan pengekspor aki,” kata Benny Bayang, Direktur Operasional Trimitra. Berdasarkan hasil survei SWA, nilai ekspor perusahaan ini di tahun lalu sebesar US$ 109.566.055.

Perusahaan yang mereknya juga berkibar di luar negeri adalah Polygon. Tingginya permintaan sepeda setiap tahun tidak disia-siakan oleh PT Insera Sena, produsen Polygon. Sebagai merek asli Indonesia, Polygon berhasil menembus pasar ekspor ke lebih dari 13 negara. “Kami tak mau dibilang jago kandang saja, tapi bertekad bisa menjadi merek besar di dunia,” kata Peter Mulyadi, Manajer Promosi Insera Sena.

Kapasitas produksi Polygon saat ini mencapai 1.800 unit per hari atau setara dengan 54 ribu unit setiap bulan. Dari jumlah tersebut, 70% untuk pasar ekspor dan sisanya untuk kebutuhan dalam negeri. Saat ini Polygon memiliki 155 model dan 347 varian (ukuran). Insera juga menjadi original equipment manufacturer (OEM), antara lan untuk merek Scott, Kona, Kuwahara dan Miyata. Kapasitas produksi OEM Insera mencapai 500.000 unit setiap tahun. Pembuatan dan perakitan dilakukan di pabriknya di Sidoardjo, Jawa Timur.

Tak ketinggalan yang unggul di pasar ekspor adalah PT A.W. Faber-Castell Indonesia. Hadir sejak awal 1990-an, perusahaan ini mampu merajai industri pasar pensil di Indonesia, bahkan di tingkat regional. “Penjualan ekspor kami meningkat dari tahun ke tahun, terutama dari 2006 sampai 2010. Selama periode tahun tersebut, kami mampu memproduksi dan mengekspor pensil sebanyak 2,6 juta gross atau senilai US$ 27 juta,” ujar F.X. Gianto Setiadi, Direktur Faber Castell Indonesia.

Kalau ditarik benang merahnya, para jagoan ekspor ini memiliki kesamaan, yaitu fokus mengembangkan pasar ekspor dan terus mencari peluang di pasar global. Mereka juga memiliki diferensiasi produk sehingga bisa unggul di pasar internasional.(*)

Dede Suryadi

Reportase: Ario Fajar, Denoan Rinaldi dan Radito Wicaksono

Riset: Rachmanto Aris D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *