Pertumbuhan produk kendaraan roda dua di negeri ini tergolong subur dari tahun ke tahun. Seperti pada 2008, total penjualan sepeda motor, berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia, menembus angka 6,2 juta unit atau naik 19,2% dibanding 2007 (5,2 juta unit).
Dari jumlah itu, tentunya didominasi oleh penetrasi jenis bebek. Sementara itu, jenis motor sport berkapasitas mesin 200 cc ke atas penetrasinya masih kecil, yakni 1,8% dari total pasar motor di 2008. Total pasar motor sport tahun lalu diperkirakan hanya sekitar 110 ribu unit dari semua merek.
Khusus kelas motor 200 cc lebih kecil lagi. Bisa dibilang kelas ini terlalu tanggung. Pasalnya, konsumen yang berdaya beli tinggi lebih memilih mengimpor langsung motor sport ber-cc 600-1000 completely built-up. Seperti di kelas Yamaha ada Royal Star atau Drag Star, R1 atau R6 (kelas 600 -1000 cc).
Kendati demikian, pemain di kelas 200 cc cukup banyak. Malah, persaingannya pun tak kalah kencang dibanding motor bebek. Para pemainnya berupaya saling kebut memperebutkan pasar. Berbagai inovasi dan promosi disiapkan masing-masing pabrikan. Motor yang bermain di segmen sport 200 cc adalah Honda Tiger, Yamaha Scorpio, Kawasaki Ninja, Bajaj Pulsar dan Suzuki Thunder 250 cc yang sekarang tidak diproduksi lagi diganti dengan Thunder 125 cc. Tak mau ketinggalan, Kanzen pun sedang berancang-ancang untuk meluncurkan Kanzen Roadwin 200 (KRW200). “Kami melihat pasar di kelas ini selalu tumbuh, sehingga cukup menarik jika kami ikut meramaikan,” kata Ari Soeroso, Presdir PT Inti Kanzen Motor.
Tentunya, yang merajai pasar di kelas 200 cc ini adalah Tiger dengan penguasaan pasar sebesar 62%, disusul Scorpio (33%). Sigit Kumala, GM Divisi Pengembangan Produk dan Pemasaran PT Astra Honda Motor (AHM) –produsen Tiger – mengatakan, penjualan Tiger semakin kencang. Bahkan, saat penjualan motor sedang sepi, Tiger hingga akhir 2008 membukukan penjualan 71 ribu unit, meningkat signifikan (30,8%) dari penjualan 2007 (54.300 unit). Dan, sejak pertama kali diluncurkan pada awal 1994 hingga 2008 akhir, jumlah Tiger yang sudah mencium aspal sebanyak 336.963 unit. Jumlah ini disumbang dua tipe Tiger, yakni Tiger Case While yang dilego di kisaran Rp 24 juta dan Tiger Spoke Rp 20,9 juta (on the road, Jakarta). Komposisinya 85% Case While dan sisanya Spoke.
Data penjualan tersebut menunjukkan bagaimana penerimaan pasar terhadap Tiger. Malah, Sigit menambahkan, kurangnya pasokan akibat belum maksimumnya kapasitas produksi yang saat ini baru mencapai 6 ribu per bulan. “Akibatnya, pelanggan harus inden,” katanya. Yang pasti, saat ini cengkeraman Tiger sangatlah kuat. Itu sebabnya, kompetitor tak berani bermain di ceruk yang sama persis. Johannes Loman, Direktur Pemasaran AHM, mencontohkan, Scorpio atau Ninja. Mereka memilih lebih sporty. Sementara itu, Tiger lebih elegan dan berbau touring. “Mungkin kompetitor berpikir awalnya ingin masuk ke direction yang sama dengan Tiger. Namun akhirnya mereka memilih direction beda tapi dengan cc yang sama,” ujar Johannes membandingkan.
Lantas, apa sih yang membuat Tiger demikian dicintai? Sebagai pabrikan motor, Honda telah bercokol sejak lama. Tak ayal, emosi konsumen sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Hal ini juga menjadi salah satu faktor digdayanya Tiger. Johannes yakin, dalam benak setiap pecinta motor pasti berangan-angan ingin memiliki Tiger. “Istilahnya motor Tiger jadi dream bike para biker-lah,” ia mengungkapkan. Tiger ini merupakan kelas premium. Karenanya, tingkat prestise seseorang meningkat manakala menunggangi Tiger.
Namun, ikatan emosi yang kuat ini bukan lantas menjadikan pihaknya enggan inovasi. Terlebih, dengan semakin berjejalnya kompetitor di kelas ini. “Setiap tahun sekali, kami selalu ada minor change agar pelanggan tetap senang,” katanya. Adapun untuk perubahan besar, sudah tiga kali dilakukan, antara lain, perubahan desain tangki motor. “Kami terus improve, sehingga desain Tiger sekarang menjadi trend-setter. Jadi, orang akan mudah menerima,” Johannes menambahkan.
Sementara itu, Dyonisius Beti, Vice President PT Yamaha Motor Kencana Indonesia, mengungkapkan, motor kelas 200 cc bukanlah line up utama sehingga promosinya tidak bisa jorjoran seperti jualan motor bebek. “Karena kontribusinya sedikit, untuk iklannya juga minimal,” kata Dyon. Promosi lebih banyak mengandalkan kegiatan off air. Dyon menuturkan, untuk membuat iklan di televisi membutuhkan dana lebih dari Rp 2 miliar, sementara penjualan tidak signifikan. Jadi, promosi lebih banyak ke komunitas. “Kami lebih banyak mengandalkan pelanggan loyal atau komunitas sehingga iklannya cenderung murah,” ungkapnya.
Konsumen di kelas sport ini biasanya diikat dalam satu emosi yang sama. Nah, untuk lebih menghargai pemilik Scorpio misalnya, mereka selalu diundang bila Yamaha ada acara besar seperti touring atau peluncuran model baru. “Peran komunitas sangatlah efektif,” ia menegaskan. Demikian pula Tiger, telah memiliki komunitas sendiri. Malah diklaim saat ini, komunitas Honda Tiger di Indonesia yang terbesar dengan anggota yang loyal dan solid, mencapai lebih dari 150 komunitas Honda Tiger dengan total kurang-lebih 23 ribu anggota di seluruh Indonesia. “Dengan mereka inilah komunikasi kami jalankan, untuk melihat mana kekurangan kami untuk terus kami tingkatkan,” kata Johannes.
Sepertinya, kendati kelas sport ini sangat segmentatif, bukan berarti tak berdenyut. Dari waktu ke waktu pemainnya terus melakukan improvisasi untuk memperkuat cengkeraman pasarnya.
Dede Suryadi dan Sigit A. Nugroho