Geliat Bisnis di Bumi Nyiur Melambai

Sulawesi Utara (Sul-Ut) kini berbenah. Jalan utama yang menghubungkan Bandara Internasional Sam Ratulangi dengan pusat Kota Manado tengah dilebarkan. Yang menarik, anggota TNI pun turut membantu agar pembenahan jalan itu bisa kelar tepat waktu. Tak hanya itu, hotel terbesar yang baru dibangun di Manado, Grand Kawanua Novotel Convention Center, juga sedang dirampungkan

Wajar jika Sul-Ut berbenah. Pasalnya, provinsi ini bakal jadi tuan rumah sejumlah perhelatan internasional. Tanggal 11-15 Mei 2009, misalnya, Manado akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) yang akan dihadiri 121 negara dan Coral Triangle Initiative (CTI) Summit yang akan dihadiri 7 kepala negara (Filipina, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini, Kepulauan Salomon, Indonesia dan Australia). Inisiatif digelarnya WOC datang dari Gubernur Sul-Ut Sinyo Harry Sarundajang.

Akan digelarnya acara-acara internasional itu berdampak uar biasa terhadap denyut bisnis di Bumi Nyiur Melambai ini. Setidaknya telah berdiri 9 hotel baru dengan total investasi hampir Rp 3 triliun. Hotel Grand Kawanua milik pengembang Wenang Permai Sentosa, anak perusahaan AKR Land Development, akan menjadi hotel utama tempat digelarnya WOC dan CTI.

Memang, Gubenur Sul-Ut bertekad membuat provisni ini menjadi tujuan MICE (meeting, initiative, convention and exhibition) di Indonesia dan menjadi destinasi turis mancanegara setelah Bali. “Kami menargetkan Sul-Ut menjadi Bali Kedua (Second Bali),” ujar Sarundajang. Selain itu, ia juga memfokuskan kebijakan-kebijakan strategis untuk menjadikan Sul-Ut sebagai “Pintu Gerbang Kawasan Timur Indonesia di Asia Timur dan Pasifik” dengan memanfaatkan dua pintu utama: Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado sebagai tujuan dan pusat distribusi turis mancanegara dan domestik serta Pelabuhan Internasional Bitung sebagai pusat konsolidasi dan distribusi kargo.

Menjadi pintu gerbang itu akan makin mudah dicapai bila kawasan ekonomi khusus (KEK) di Sul-Ut bisa terwujud. “Kami sedang berjuang dengan Bitung dulu menjadi KEK,” katanya. Dengan KEK ini, Sul-Ut akan menjadi pintu gerbang kawasan Asia Timur. Ditambahkan Steven Liow, Kepala Humas Provinsi Sul-Ut, KEK ini sudah tiga tahun dinantikan, tapi belum ada hasilnya yang berupa undang-undang KEK untuk Sul-Ut. “Sebenarnya yang jadi masalah apa. Kami sudah memperjuangkan berkali-kali,” katanya penuh semangat.

Menurut Steven, KEK yang diinginkan adalah kawasan Minahasa-Bitung-Manado (Mibindo); Manado menjadi kota perdagangan, Bitung kota pelabuhan, dan Minahasa kota industri. Mibindo akan jadi metropolitan yang didukung kawasan perdagangan, industri dan perikanan laut. “Ini perlu kebijakan khusus, termasuk fiskal, pelayanan dan perizinan. Sarana dan prasarana daerah harus diperhatikan, jangan bertumpuk di daerah Jawa saja,” ujarnya. Maka, ia mengimbau pemerintah segera merealisasi KEK bagi Sul-Ut melalui UU sebagai payung hukumnya. “KEK target kami tahun ini,” katanya menegaskan.

Saat ini Pemerintah Sul-Ut terus mendorong hadirnya investasi di wilayah ini. “Kami memberikan kemudahan dari sisi perizinan. Kiat-kiat pelaksanaannya ada di regulasi tentang Kapet (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu) Sul-Ut,” kata Sarundajang. Salah satunya, Pemerintah Sul-Ut terus membangun infrastruktur, seperti transportasi (jalan) dan telekomunikasi. Hal ini pun dirasakan para pengusaha di sini. “Dukungan pemerintah terhadap kaum pebisnis adalah dengan terus mengembangkan infrastruktur,” kata Bernardino Moningka Vega, Ketua Kadin Sul-Ut.

Bagaimana dengan investasi di Sul-Ut? Tonny C.M. Korah , Kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal Provinsi Sul-Ut, mengatakan, investasi di provinsi ini pada 2005-08, baik PMA maupun PMDN, menunjukkan perkembangan. “Total investasi dari 2005 sampai 2008 hampir Rp 30 triliun,” katanya. Salah satu investasi yang mencorong adalah di sektor perhotelan, mendekati angka Rp 3 triliun untuk 9 hotel baru. Tentu saja, hadirnya sejumlah hotel baru berimplikasi pada sektor-sektor penunjangnya seperti sektor makanan (buah-buahan dan sayur-sayuran), plus penyerapan tenaga kerja.

Menurut Tonny, para investor menyambut baik prioritas Pemda Sul-Ut mengembangkan empat sektor unggulan: pertanian, perikanan, pariwisata dan agroindustri. Sektor perikanan dan turunannya, seperti pengalengan ikan, memang masih mendominasi daerah ini. Secara keseluruhan investasi PMA pada 2005-08 mencapai US$ 174,9 juta (42 proyek) dari rencana sebesar US$ 286,5 juta (62 proyek). Investasi PMDN pada periode yang sama mencapai Rp 987,9 miliar (15 proyek) dari rencana Rp 1,13 triliun (19 proyek). Di 2009, sudah ada rencana investasi PMA sebesar US$ 28,5 juta berupa pembangkit listrik tenaga air dan minihidro dengan investor dari Inggris, serta jasa akomodasi (cottage) yang investornya dari Belanda.

Hanya saja, kalau diteliti lebih jauh, investasi baik PMA maupun PMDN di provinsi ini menurun. Misalnya, realisasi PMA pada 2005 mencapai US$ 54,68 juta (18 proyek), sedangkan di 2008 hanya US$ 7,88 juta (tiga proyek). Lalu, realiasi PMDN pada 2005 sebesar Rp 484,23 miliar (tiga proyek) dan di 2008 hanya Rp 38,44 miliar (tiga proyek).

Terlepas dari angka itu, yang pasti pemerintah Sul-Ut berupaya ramah terhadap para investor. Ini terbukti dengan hadirnya kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu yang berjalan sejak tiga tahun lalu. Pelayanan seperti ini juga ada di tingkat kota dan kabupaten untuk menampung investor yang ingin menggelontorkan modal di bidang ritel, properti, dan lainnya.

Harun Hajadi, Direktur Pengelola Grup Ciputra, pengembang perumahan Citraland Manado, mengatakan, pihaknya tertarik berinvestasi di wilayah tersebut karena potensi pasarnya bagus dan belum ada perumahan yang dikembangkan secara baik di Manado. Di area seluas 55 hektare, Ciputra telah membangun sekitar 600 unit rumah dengan kisaran harga Rp 350 juta sampai di atas Rp 1 miliar per unit, sekolah dan water park. “Hingga akhir 2008, kami telah mengeluarkan dana sekitar Rp 500 miliar dalam proyek tersebut, termasuk akuisisi lahan sejak 2003.”

Pihak perbankan masih melihat potensi yang terkait pertanian dan agroindustri patut didukung pendanaannya. Apalagi, saat ini perbankan sangat selektif dalam penyaluran pembiayaan akibat krisis global. Menurut Xaverius Mapandy, Dirut Bank Sulut, pada dasarnya semua bank ingin membiayai segenap sektor. Hanya saja, melihat kondisi krisis ini tentunya perbankan harus berani memilah-milah sektor mana yang layak dan yang tidak layak.

Menurut Xaverius, untuk jangka panjang sektor yang menunjang kebutuhan 9 bahan pokok akan tetap menjadi pilihannya. Kebutuhan ini terkait dengan sektor pertanian. Selain itu, karena melihat potensinya, pariwisita juga merupakan sektor yang prospektif di wilayah ini. Apalagi, dengan adanya sejumlah event internasional yang akan digelar. “Di tahun 2009, kami mencoba merencanakan pertumbuhan kredit sebesar 18%. Outstanding kredit kami saat ini Rp 1,6 triliun,” ungkapnya.

Memang, sektor pariwisata tetap jadi tulang punggung Sul-Ut. Hanya saja, Bernardino mewanti-wanti agar pemerintah benar-benar serius mengembangkan ekoturisme ini, salah satunya dengan dukungan pembangunan infrastruktur seperti jaringan telepon dan listrik yang memadai. “Lima tahun ke depan tergantung pada bagaimana keseriusan pemerintah,” ujarnya menegaskan. Dan, yang lebih penting lagi yang perlu diperhatikan adalah pasca-WOC. Sebab, biasanya seusai acara, tidak ada lagi pemantik untuk menggairahkan wisata.

Bernardino juga berpesan agar pengembangan bisnis wisata tidak meniru Bali. Ia khawatir pencontekan konsep wisata Bali membutuhkan effort yang besar. Pengusaha properti dan pariwisata ini melihat gelagat swasta ataupun pemerintah yang ingin menyikapi Sul-Ut seperti Bali. “Kalau seperti Bali, memerlukan infrastruktur dan investasi yang besar,” katanya. Bisnis wisata di Bali atau Yogyakarta lebih berorientasi pada pencapaian volume. Karakter ini berbeda dari Sul-Ut, yang lebih ke arah ekoturisme yang berorientasikan sustainable development, pelestarian alam yang berkesinambungan.

Noldy Tuerah, ekonom Universitas Sam Ratulangi Manado, memberi masukan tentang hal-hal yang mesti dilakukan agar perekonomian Sul-Ut terus berkembang. Pertama, pengembangan infrastruktur seperti pelabuhan, jembatan, jalan dan air minum. Kedua, pembangunan pembangkit tenaga listrik. Ketiga, peningkatan koordinasi pelayanan perizinan seperti kepastian hukum. Lalu, keamanan yang kondusif, penambahan frekuensi penerbangan domestik dan internasional, serta peningkatan pelayanan imigrasi, pabean dan karantina.

Namun, Noldy pun mengakui pesatnya perkembangan ekonomi Sul-Ut. Pertumbuhan ekonominya yang sebesar 7,88% dan pendapatan per kapitanya, Rp 9.453.240, pada 2008 mencerminkan hal itu.***

Dede Suryadi

Published on Majalah SWA

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.