YDBA, Wujud Kepedulian Astra International

Prijono Sugiarto, Presdir PT Astra International

Prijono Sugiarto, Presdir PT Astra International

Salah satu peninggalan pendiri Astra, William Soeryadjaya, yang terus dihidupkan dan menjadi simbol cita-cita Astra: Sejahtera Bersama Bangsa, adalah Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Didirikan 2 Mei 1980, YDBA dimaksudkan untuk mewujudkan semangat dan nilai-nilai yang dikandung Catur Dharma Astra, terutama dharma yang pertama, menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

YDBA mempunyai visi menjadi institusi terbaik di bidang pembinaan dan pengembangan UMKM di Tanah Air, dan sekaligus sebagai value chain bisnis Grup Astra dengan penekanan pada penguatan UMKM dan kesejahteraan masyarakat. Misi yang diemban YDBA antara lain, pertama, membina dan mengembangkan UMKM yang terkait dengan bisnis Grup Astra (subkontraktor dan bengkel) ataupun yang tidak terkait. Kedua, membina UMKM dan memberdayakan usaha ekonomi masyarakat di sekitar lokasi jaringan Grup Astra. Ketiga, mengembangkan kewirausahaan dan keterampilan masyarakat sesuai dengan kompetensi yang dimiliki Grup Astra.

Prijono Sugiarto, Presdir PT Astra International menjelaskan, Om William menginginkan Astra bisa menjadi pohon yang rindang di mana orang banyak bisa bernaung di bawahnya, baik saat panas maupun hujan. “Beliau menghendaki Astra bisa menjadi perusahaan nasional yang terdepan dalam memberikan kontribusi kepada bangsa sesuai dengan visi keduanya: To be a socially responsible and environmentally conscious corporation,” ungkapnya.

Untuk merealisasikannya, Astra antara lain mendirikan yayasan sebagai kepanjangan tangan Astra dalam menjalankan kegiatan corporate social responsibility (CSR) secara terprogram, terstruktur dan terukur. YDBA juga menjadi gateway yang efektif bagi Astra untuk menjangkau aspirasi masyarakat dan membantu mereka yang membutuhkan. Astra pun mempunyai program kontribusi publik yang fokus pada empat pilar, yaitu pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan income generating activity-based community development/UKM.

Om William memandang yayasan bukan sebagai pekerjaan sampingan atau hanya CSR gimmick. “Beliau pernah marah ketika mengetahui bahwa anggaran yang dialokasikan terlalu kecil,” ungkapnya. Bagi Astra, yayasan adalah bagian integral dari alasan mengapa Astra didirikan, yaitu mengemban cita-cita untuk Sejahtera Bersama Bangsa. Itu sebabnya, susunan organisasi YDBA pun disi oleh para direksi dan eksekutif perusahaan di lingkungan Grup Astra yang mewakili lini bisnis Astra dalam berbagai peran dan tanggung jawab sebagai pembina, pengawas dan pengurus YDBA. Hal tersebut menunjukkan komitmen dan pentingnya posisi YDBA sebagai bagian penting dari perusahaan.

Menurut Prijono, meskipun dalam perjalanannya Astra mengalami pasang dan surut serta berbagai tantangan perubahan, pihaknya tetap yakin dan percaya dalam mengimplementasikan nilai-nilai Catur Dharma Astra sebagai way of life. “Sesuai dengan goal yang telah dicanangkan Astra sebagai pride of the nation di tahun 2020, kami berusaha konsisten, memiliki komitmen dan keterlibatan yang tinggi, serta menjadi contoh dalam upaya pencapaiannya,” ujarnya.

Komitmen Astra Mengawal YDBA

Bagaimana cara Astra mencurahkan perhatian dan dana untuk kemajuan YDBA? Menurut Prijono, dengan Astra Management System, Astra secara konsisten dan teratur menjalankan roda Plan Do Check Action (PDCA), mempunyai keselarasan kebijakan dan strategi dari corporate centre sampai ke grup, anak perusahaan, cabang dan site yang terpencil sekalipun. Astra juga selalu mengupayakan adanya sinergi antaranak-anak perusahaan (integrated value chain), tak terkecuali yayasannya termasuk YDBA. Pembina dan pengawas pun menjalankan peran dan tanggung jawabnya dengan memberikan pengarahan kepada pengurus YDBA, serta kontrol secara konsisten dan teratur melalui: pertama, perencanaan dan penetapan key performance indicator (KPI). Kedua, penyusunan rencana kerja dan anggaran atau bujet. Ketiga melakukan kajian secara berkala.

F.X. Sri Martono, Ketua Pengurus YDBA menambahkan, dalam siklus PDCA, YDBA memiliki rencana kerja dan anggaran (annual plan) dengan KPI yang di-approved dan dikaji pencapaiannya secara teratur oleh pengawas dan pembina. “Secara berkala, YDBA juga diaudit oleh Group Internal Audit and Risk Management PT Astra International Tbk.,” ungkapnya.

Membesarkan UMKM

Berbicara bagaimana langkah Astra memandirikan UMKM, YDBA membuat roadmap strategi yang dibagi dalam tiga tahapan. Tahap pertama (2012-2014), fokus dalam membangun prestasi berlandaskan kompetensi. Tahap kedua (2015-2017), fokus untuk menjadi mitra terpercaya. Tahap ketiga (2018-2020), fokus untuk menjadi model pengembangan pertumbuhan UMKM di Indonesia. Untuk itu YDBA harus bisa mencapai operational excellence.

Strategi tersebut diturunkan dalam program pelatihan dan pendampingan UMKM terutama dalam manajemen produksi, kualitas, sumber daya manusia, pemasaran, keuangan, environment, health and safety, CSR serta memberikan fasilitasi akses pada alih teknologi, pemasaran dan pembiayaan. Program pelatihan, pengembangan dan pembinaan UMKM tersebut berdasarkan kebutuhan dan arah atau strategi bisnis Grup Astra, serta kebutuhan untuk pengembangan komunitas di sekitar lokasi usaha anak perusahaan Astra. Semua itu tentu harus sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, juga disesuaikan dengan program pemerintah yang relevan.

Program tersebut diturunkan ke dalam modul pelatihan dan pendampingan untuk masyarakat, UMKM pemula, UKM madya, UKM pramandiri dan UKM mandiri, serta diimplementasikan melalui pelatihan di YDBA ataupun di 13 Lembaga Pengembangan Bisnis, 10 Lembaga Keuangan Mikro, 6 koperasi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. “Hingga saat ini, YDBA telah membina 8.916 UKM dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 60.446 orang,” kata Sri Martono.

YDBA juga bekerja sama dengan PT Astra Honda Motor untuk memberikan keterampilan kepada para pemuda putus sekolah atau pencari kerja dengan pelatihan keterampilan mekanik sepeda motor, sehingga mereka bisa bekerja di jaringan bengkel yang ada atau mereka juga bisa membuka bengkel sendiri dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Astra membangun pula rantai pasokan komponen otomotif berbasis YDBA. Memang perusahaan manufaktur Grup Astra membutuhkan subkon untuk memproduksi komponen baik berteknologi sederhana maupun tinggi. Subkon tier dua ataupun tiga yang memproduksi subkomponen, biasanya usahanya masih setingkat UKM (aset bersih di luar tanah dan bangunan di bawah Rp 10 miliar).

Peran YDBA adalah melakukan pembinaan secara intensif untuk meningkatkan kompetensi dan mempercepat peningkatan kinerja melalui Quality, Cost, Delivery, Safety dan Moral. Atas pembinaan yang diberikan, manufaktur Grup Astra akan mendapatkan manfaat berupa terjaganya kualitas produk serta kelancaran pasokan dan proses produksi. “Dengan meningkatnya kompetensi dan performa, menjadi peluang UKM untuk dapat memproduksi komponen yang dikuasai oleh tier di atasnya,” kata Sri Martono .

Intinya, Astra sangat mendukung kewirausahaan sosial sebagai salah satu langkah dalam menyejahterakan masyarakat. Sebagai implementasinya, Astra melalui YDBA bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perdagangan, serta pemerintah pusat dan daerah menjalankan program pengembangan komunitas, menciptakan kemandirian produksi di beberapa desa di Indonesia.

Astra ingin mewujudkan masyarakat/UMKM menjadi mandiri dengan adanya income generating activity yang di dalamnya terdapat kegiatan produksi yang menghasilkan produk, memiliki pasar dan keuntungan dalam bisnis. Tidak hanya itu, kegiatan tersebut juga akan menimbulkan perubahan pada mind set, etos kerja dan kedisiplinan yang akan mendorong UMKM/masyarakat untuk menjadi warga usaha yang baik, menjalankan kegiatan usaha yang mendatangkan penghasilan, yang nantinya akan tumbuh, mandiri dan dapat meningkatkan kesejahteraannya.

Program kewirausahaan sosial dapat berkembang dan berkesinambungan apabila ada kerja sama antara masyarakat dan perusahaan. Jika masyarakat sejahtera dan memiliki penghasilan yang cukup, tentu akan berdampak pada konsumsi lebih atau meningkat. Dan konsumsi tersebut dapat dipenuhi oleh produk/jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Dengan demikian, akan dicapai keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Dede Suryadi dan Herning Banirestu

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.