Transformasi Ari dari Bisnis TI ke Bisnis Sosial

Bukan hanya Putera Sampoerna Foundation (PSF) yang melakukan transformasi dari lembaga filantropi yang “sekadar” melakukan karitas menjadi lembaga yang juga menjalankan bisnis sosial, melainkan juga praktisi di dalamnya, yaitu Ari Kunwidodo, yang bertransformasi dari pelaku bisnis teknologi informasi menjadi bisnis sosial.

Mulai bergabung dengan PSF pada pertengahan 2011, tugas Ari adalah menjadi Direktur Penjualan yang bertugas ‘menjual’ program sosial yang telah diagendakan. Sebagai tahap awal, Ari banyak melakukan edukasi dan menyebar informasi tentang transformasi PSF tersebut kepada masyarakat. “Tujuan kami adalah mengejar keberlanjutan (sustainability) program yang sudah berjalan agar tidak berhenti di tengah jalan,” ungkapnya.

 

Intinya, Ari bertanggung jawab mencari dukungan dana, baik dari donatur korporasi maupun perorangan, swasta ataupun pemerintah. Untuk itu, ia menjalankan strategi penjualan layaknya perusahaan bisnis pada umumnya. Pengalaman puluhan tahun di perusahaan TI menjadikan Ari piawai mengemas program-program penjualan. Maklumlah, pria kelahiran Cimahi 23 Mei 1963 ini pernah menjadi petinggi di berbagai perusahaan sebelum bergabung dengan PSF. Lulusan Matematika Institut Teknologi Bandung 1986 ini sudah puluhan tahun berkecimpung di industri TI. Pernah lama di Microsoft dan menjadi Direktur Enterprise Services Group dan Direktur Pemasaran, lalu menjabat sebagai Direktur OEM, dan terakhir sebelum ke PSF Ari juga pernah didapuk menjadi Direktur Pengelola Astrindo Senayasa, perusahaan distributor peranti keras komputer.

 

Bagi Ari, dari sejumlah pengalaman dan prinsip-prinsip komersial yang didapatkannya, sebenarnya prinsip yang diterapkan di PSF sama saja. PSF adalah lembaga bisnis sosial. “Dalam perjalanannya, kami mengarah kepada apa yang kami sebut sebagai social bussiness, bahwa apa yang kami jalankan sebagai bisnis memiliki nilai sosial yang akan kami berikan kembali kepada masyarakat,” ujarnya menegaskan.

 

Saat ini, PSF memiliki sekitar 400 donatur individual dan korporasi. Dari jumlah itu, secara kuantitas didominasi donatur ritel yang mencapai 300 donatur. Namun dari segi nilai, donatur korporasi berkontribusi 90% dari total pendapatan PSF. Donatur korporasi di antaranya PT HM Sampoerna, Exxon, British Petroleum, Trakindo, Connoco Philips, Bank Mandiri, Bank Niaga, Bank Permata dan Bukopin. Adapun donatur perorangan (yang diraih melalui perusahaan) di antaranya berasal dari BCA, Citibank, BII, Coca Cola, Foodism, Hard Rock FM, Cosmopolitan FM, I Radio dan Lotte Mart.

 

Ke depan, Ari akan tetap mengoptimalkan donatur – Ari menyebutnya pasar — ritel dan korporasi. Namun, ia akan fokus menggarap pasar ritel yang pendapatan setiap bulannya lebih stabil dan cenderung positif. Berbeda dengan pasar korporasi yang sangat bergantung pada dana program CSR mereka. Apalagi, pendapatan dana dari perusahaan negara (BUMN) baru bisa teralisasi pada kuartal III dan IV setiap tahun.

 

Untuk menggarap pasar ritel, pihaknya mengoptimalkan platform infrastruktur, yaitu kesiapan tim ritelnya yang menyangkut bisnis dan pemasaran. “Kemudian, kami punya back-arm support seperti infrastruktur aplikasi. Setelah itu, tinggal mengoptimalkan produk-produk kami melalui pemasaran yang baik,” ujar Ari. Menurutnya, strategi itu sudah berjalan dengan baik dan sekarang dikemas dengan lebih solid.

 

Seiring dengan masifnya penggunaan media digital, PSF pun berupaya menyesuaikan strateginya. Berdasarkan hal itu, pihaknya juga akan meluncurkan beberapa program melalui interaktif dan device-based. “Nanti akan ada aplikasi yang akan segera kami rilis ke pasar,” ungkapnya. Contohnya di perangkat BlackBerry, nanti akan ada aplikasi PSF untuk donasi. Dalam aplikasi itu terdapat beberapa produk, contohnya ring back tone, yang bisa di-download dan dana hasil RBT digunakan untuk biaya pendidikan. “Untuk donasi ritel ini, yang ditekankan adalah kreativitas.”

 

Timotheus Lesmana, pengamat CSR, berpandangan terlepas dari perdebatan mengenai definisi dan konseptual tentang lembaga filantropi dan bisnis sosial, dari segi bisnis, apa yang dilakukan PSF merupakan terobosan yang bagus untuk yayasan. Namun, terobosan ini harus tetap dievaluasi jika menginginkan capaian yang maksimal. “Tergantung programnya karena yang dia jual adalah program. Kalau programnya tidak menarik, akan sulit meraih donatur,” ujar Timo, panggilannya sehari-harinya.

 

Timo melihat apa yang dilakukan Ari merupakan strategi mencari klien untuk menggunakan jasanya. Namun, ia juga menilai program yang dijalankan Ari harus dijaga agar berkelanjutan. “Misalnya, program untuk guru sekarang berhenti,” ujar Timo mengkritisi. Hal ini bisa menjadi masalah yang harus diperhatikan di kemudian hari, agar apa yang ditargetkan PSF bisa berjalan dengan baik.

 

Dede Suryadi dan Denoan Rinaldi

 

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *