Performa Ciamik Si Anak Emas PLN

Tahun 2011 merupakan milestone terpenting bagi PT Indonesia Comnets Plus (Icon+). Sebagai anak perusahaan PT PLN (Persero), Icon+ berhasil menjadi salah satu pemain kunci penyedia layanan telekomunikasi dan Internet di Indonesia. Bahkan  Icon+ mampu mengukuhkan diri sebagai pemain berkelas internasional dengan berhasil memperoleh sertifikasi standar internasional untuk layanan Carrier Ethernet dari Metro Ethernet Forum (MEF) di Singapura. Icon+ menjadi salah satu dari 6 perusahaan penyedia telekomunikasi dan Internet yang menyabet sertifikasi MEF.

Menjadi pemain kelas global memang target perusahaan ini. “Kami tidak mau hanya dikenal jago kandang, kami juga harus go international,” kata Muljo Adji AG, Dirut Icon+ yang mulai melirik perusahaan berskala internasional sebagai mitra.

 

Ketatnya persaingan di industri telekomunikasi dan layanan Internet di Indonesia, tak membuat Icon+ gentar untuk memosisikan diri sebagai pemain nomor wahid. Icon+ menargetkan mampu meningkatkan pendapatan hingga Rp 1,1 triliun dan menghimpun 2.000 mitra kerja. Untuk mengejar target itu, pihaknya siap menggelontorkan dana investasi sebesar Rp 629 miliar.

 

Kesuksesan Icon + diraih bukan dalam tempo sekejap. Awalnya, perusahaan ini hanya penyedia layanan jaringan untuk induk perusahaannya, mulai dari sistem keuangan, gangguan hingga pengembangan jaringan.  Kemudian, melebarkan sayapnya dengan mengembangkan beberapa produk untuk kebutuhan industri dan korporat.

 

Hingga berusia 11 tahun, pertumbuhan bisnis perusahaan terus meningkat signifikan setiap tahun. Icon+ mampu menggaet 700 mitra kerja, dengan pertumbuhan lebih dari 50%. Tak heran, perusahaan yang banyak digawangi mantan petinggi PLN ini, berhasil menyaingi pemain lain dari perusahaan pelat merah ataupun swasta. “Perusahaan kami mulai sehat di tahun kedua dan terus berkembang pesat hingga sekarang,”  ujar Adji, panggilan  dekat Muljo Adji AG.

 

Mitra kerja Icon+ antara lain Unilever, Adira Finance, Biznet, Astra International, bank-bank besar, dan hampir seluruh operator telekomunikasi. Dari 700 mitra kerja, 80% berasal dari perusahaan UMKM, sisanya  perusahaan berskala besar.

 

Untuk menjalankan bisnisnya, Icon+ menggunakan jaringan kabel milik PLN. Jaringan serat optik Icon+ mencapai 27.300 km yang mencakup seluruh Pulau Jawa, Bali dan Sumatera. Perusahaan membagi dua unit bisnis yakni core business dan non-core business. Layanan core business meliputi Clear Channel, IP VPN, Metronet, dan Internet Corporate. Layanan non-core business terbagi menjadi dua jenis: service dan content. Layanan service antara lain Internet, telephony, VICON, call centre. Sementara layanan content meliputi: AP2T, SOPP, MGT, UKP4 Dashboard.

 

Kontribusi pendapatan terbesar perusahaan berasal dari induk perusahaan, yakni mencapai 35%, sisanya dari operator telekomunikasi, perbankan, dan manufaktur.  Adapun layanan Clear Channel menyumbang pendapatan hingga 35%, disusul IP VPN (28%), Internet Corporate (8%), sisanya terbagi rata pada layanan lainnya.

 

Kunci keberhasilan Icon+, menurut mantan Sekretaris Perusahaan PLN  ini  adalah kemampuan melakukan sinergi dengan perusahaan yang memiliki model bisnis yang sama. Icon+ bekerja sama eksternal dengan kompetitor, turut membangun peningkatan informasi dan komunikasi  di Indonesia.

 

Selain melakukan sinergi keluar, Icon+ juga menguatkan fondasi di dalam struktur organisasi. Koordinasi antara direktorat keuangan, operasional, niaga, dan SDM menjadi motor penggerak bisnis Icon+. Total SDM Icon+ saat ini mencapai 317 karyawan. Perusahaan juga mempekerjakan 750 karyawan outsource.

 

Kunci sukses lainnya adalah visi bisnis jangka panjang Icon+. Adji mengklaim, kemajuan Icon+ dilatarbelakangi adanya pengembangan bisnis secara berkesinambungan. Icon+ memetakan dua pilar penting dalam perusahaan. Pertama, dari sisi operasional, di mana seluruh awak perusahaan harus bisa meningkatkan keandalan kualitas jaringan dan layanan dengan membentuk Service Level Agreement. Pilar kedua, investasi. Perusahaan merancang strategi jangka panjang, pola pengembangan bisnis, investasi kompetensi SDM, dan membuat road map untuk tahun 2016. “Kami tidak mau seperti perusahaan lain. Setelah mendapat duit, lalu ‘bubar’ atau menjual aset,” mantan Deputi Direktur Transmisi Jawa dan Bali ini menegaskan.

 

Sinergi eksternal dan internal yang dijalankan perusahaan terbukti mendongkrak peningkatan bisnisnya. Awal tahun berdiri, pendapatan Icon+ hanya sebesar Rp 15 miliar. Tahun berikutnya meningkat 30%-50%. Tahun 2011, Adji optimistis pendapatan mampu menembus Rp 745 miliar.

 

Meski mengalami kemajuan pesat, perjalanan bisnis Icon+ tidaklah mulus tanpa hambatan. Krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat serta perang tarif antaroperator telekomunikasi sempat menggoyahkan kinerja perusahaan. Tahun 2009 pendapatan perusahaan sempat melorot 3,8% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 475 miliar.

 

Kondisi tersebut menuntut Adji melakukan internal empowerment dengan berefisiensi di segala unit bisnis dan divisi, penyempurnaan proses bisnis, serta keterbukaan komunikasi seluruh manajemen. Hasilnya, tahun 2010 pendapatan Icon+ kembali terkerek 2,7% menjadi Rp 488 miliar dan meroket 52% di tahun 2011. Tak heran, Icon + menjadi anak emas PLN, sebagai induknya.

 

Menurut Juharmo, Deputi VP Dukungan dan Interkoneksi Telkomsel,  yang sudah 7 tahun menjadi salah satu mitra strategis Icon+, kerja sama antara Telkomsel dengan Icon+ dilatarbelakangi untuk mempercepat penyediaan infrastruktur pendukung  Telkomsel, khususnya dalam menyediakan media transmisi berbasis fiber optik di lokasi-lokasi yang belum tersedia oleh Grup Telkomsel/Telkom. Bentuk kerja samanya adalah business to business (B2B). “Sampai saat ini layanan yang diberikan cukup baik sesuai dengan  Service Level Agreement yang telah disepakati,” ujarnya.

 

Juharmo berharap,  ke depan  Icon+ bisa lebih meningkatkan kualitas layanan dan jaringannya. Ia menyarankan, “Icon + harus berani jemput bola, artinya harus berani a head coverage capacity sebelum pelanggan membutuhkan. Serta yang terpenting adalah menyajikan dengan harga yang kompetitif.”

 

 

Dede Suryadi dan Ario Fajar

Riset: Siti Sumariyati

 

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *