Pendakian Lima Sekawan Kembangkan Travelmie

Amien Budiarto, CEO Travelmie

Hobi menjadi inspirasi. Hal ini dirasakan Amien Budiarto dan keempat temannya yang punya hobi berkemah (camping). Lima sekawan itu mendirikan Travelmie, resto dengan suasana perkemahan, lengkap dengan tenda dan aneka perlengkapan kemah lainnya. Sebuah konsep resto yang membawa suasana berkemah di pegunungan ke perkotaan.

Ketika awal didirikan, pada 2014, Travelmie hanya dijajakan dengan gerobak seadanya di lahan parkir sebuah ruang pajang. Dengan menyiapkan tenda-tenda di pinggir jalan, di kawasan Cipondoh, Tangerang, Amien mewujudkan impiannya.

Respon pasar ternyata menggembirakan. Pada Juni 2015, tempat mangkal restonya pindah ke Jalan Kisamaun, Pasar Lama, Tangerang. Di lokasi baru inilah, restonya mulai menuai hasil.

Sampai sekarang, Travelmie sudah memiliki tiga cabang, yaitu di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, serta di Surabaya dan Malang, Jawa Timur. Pundi-pundi penghasilannya pun terus menanjak, dari modal awal Rp 30 juta, sekarang omsetnya ratusan juta per bulan. “Dulu omset kami kecil karena masih jualan di gerobak di bekas showroom. Sekarang, bisa sampai Rp 300 juta per bulan, minimal,” kata Amien yang menjadi CEO Travelmie.

Amien menjaga betul agar suasana berkemah pada Travelmie terus melekat. Untuk itu, di Travelmie disiapkan hammock, tenda, api unggun, walk climbing, dan segala macam yang terkait kemah. Bahkan, di Travelmie Malang ada kabut dan asapnya. Di Pasar Minggu, ada api unggunnya. Adapun untuk menu, salah satu andalannya adalah mi. “Ya sesuai dengan selera pendaki, mi salah satunya. Setiap pendaki pasti kenal betul nikmatnya memasak mi instan di pendakian,” ujar Amien.

Intinya, Travelmie ingin mengobati rasa kangen orang-orang kota yang sudah lama tidak naik gunung. Maka, resto ini membuat sebuah tempat makan dan nongkrong dengan konsep urban camping. “Bisa dibilang urban campingpertama di Indonesia itu di sini. Memang nama urban camping belum terlalu familier, tapi kalau di Eropa bisa menginap di taman, di daerah urban dengan tenda,” kata Amien membandingkan.

Travelmie juga menjangkau segmen pasar yang luas. Bisa anak muda yang ingin naik gunung tapi belum punya waktu, atau mereka yang ingin bernostalgia ke masa muda ketika bergabung dengan komunitas pencinta alam. Target pasarnya adalah komunitas pencinta alam atau pendaki gunung. Bahkan, Travelmie sering menjadi tempat bertemu komunitas tersebut, misalnya saat mereka membuat berbagai acara seperti pelatihan. Untuk pemasaran, Travelmie banyak menggunakan media sosial seperti Facebook dan Instragram. Tak lupa, seperti diungkap di atas, Travelmie menggarap komunitas.

Diakui Amien, setelah mendapat liputan media, banyak daerah yang ingin mengembangkan Travelmie, seperti Yogyakarta, Bali, dan Malang. Untuk itu, dia mulai mewaralabakan Travelmie. Menurutnya, dalam waralaba ini, yang terpenting adalah lokasi karena sangat menentukan. Seperti di Malang, lokasinya dekat kampus, dan di Surabaya lokasinya di kawasan kuliner.

Fasilitas setiap gerai berbeda-beda, sesuai dengan paket waralabanya. Yang di Surabaya, ada glamping. Sementara yang di Pasar Minggu ada climbingkarena orang yang datang ke sini bukan mencari makanannya, melainkan suasana dan gaya hidupnya. “Jadi, bagi mereka yang pernah traveling,rasanya beda. Pas ada info tempat seperti ini, mereka mau banget datang,” ujar Amien sambil menmbahkan, target balik modal dalam membesut bisnis ini adalah dalam 2,5-3 tahun.(*)

Reportase: Akbar Kemas

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *