Optimistis, Realistis dan Hati-hati di Tahun Naga Air

Para pelaku bisnis memiliki pandangan beragam menghadapi kondisi bisnis di 2012. Semua tecermin dalam survei yang dilakukan Deka Research Marketing dan SWA.

Seperti sudah ditulis dan dipresentasikan dalam berbagai seminar, perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh di atas 6% pada 2012. Prediksi yang kurang-lebih sama juga dinyatakan para pelaku bisnis yang ditemui SWA, walaupun mereka menambahkan catatan, kenaikan tingkat kepercayaan konsumen tidak akan sebesar dari 2010 menuju 2011.

Fakta ini jelas menggembirakan. Para pelaku bisnis optimistis kondisi bisnis di Indonesia masih akan lebih baik dibandingkan dengan kondisi perekonomian global yang belakangan sangat rentan terhadap perubahan. Bahkan, menurut mereka, dampak krisis perekonomian global pun dapat dengan mudah dibendung melalui kebijakan ekonomi antisipatif yang hati-hati.

 

Optimisme yang terpancar di kalangan pelaku bisnis terhadap kondisi eksternal itu memengaruhi proyeksi bisnis dan strategi yang mereka jalankan di tahun 2012 ini. Intinya mereka sepakat, dengan prinsip kehati-hatian dan keyakinan adanya perbaikan sosial politik, serta penegakan hukum yang transparan dan bertanggung jawab, perekomonian Indonesia bakal bergerak fantastis.

 

Semua itu disimpulkan dari hasil survei Prediksi Bisnis Para Pelaku Bisnis oleh Deka Marketing Research bersama Majalah SWA. Survei yang sudah berlangsung tujuh kali ini untuk pertamakalinya dilengkapi dengan indeks kepercayaan (confidence index) dari pelaku bisnis. Jadi, berdasarkan pendekatan pada tiga pilar — ekonomi, sosial-politik dan penegakan hukum — diperoleh hasil confidence index dalam menjalankan bisnis di 2012.

 

Dengan demikian, berbeda dengan hasil-hasil sebelumnya, kali ini diperoleh gambaran sejauh mana tingkat kepercayaan pelaku bisnis terhadap perkembangan yang akan terjadi. Dapat dilihat juga, sejauh mana keyakinan para pelaku bisnis dalam memandang bisnis di 2012.

Survei dilakukan dengan mewawancarai 63 responden pelaku bisnis yang berasal dari kalangan chief executive officer (CEO) atau direksi dan paling rendah di level general manager. CEO atau direksi adalah responden terbanyak karena mereka inilah pengambil keputusan dalam perusahaan, dengan mempertimbangkan faktor eksternal dan internal perusahaan.

 

Para narasumber datang dari beragam industri yang memiliki omset bisnis dari Rp 50 miliar hingga Rp 25 triliun per tahun. Antara lain, telekomunikasi, manufaktur, transportrasi dan distribusi, properti, service (TI), pest control, kontraktor. industri otomotif, keuangan (perbankan, asuransi, jasa keuangan), media, perdagangan, agribisnis dan perhotelan.

 

Untuk melihat tingkat keyakinan mereka, responden diminta memberikan skor keyakinan yang tersebar antara nilai 0 dan 100. Semakin besar nilai yang dicantumkan, makin optimistis dia menyongsong 2012. Sebaliknya, jika semakin kecil nilai yang diberikan, responden melihat kondisi 2012 akan lebih buruk dibanding 2011.

 

Dari hasil penilaian responden, ada tiga kelompok jawaban yang menunjukkan tingkat keyakinannya. Responden dengan skor keyakinan di atas 75 dikelompokkan sebagai segmen optimistis. Mereka yang memberikan nilai 61-74 termasuk segmen realistis. Adapun responden yang mencantumkan nilai di bawah 60 masuk ke segmen hati-hati (cautious). Berdasarkan pengelompokan ini, diperoleh komposisi: segmen optimistis sebanyak 24%, realistis 57%, dan hati-hati 19%.

 

Dalam survei terungkap bahwa para pelaku bisnis yang menjadi responden memperkirakan kondisi ekonomi global masih bergejolak di tahun depan. Gejolak ini akan memengaruhi ekonomi Indonesia secara signifikan. Maka, meski perekonomian Indonesia diprediksi bakal tumbuh di atas 6%, para pelaku bisnis masih sedikit khawatir terhadap perekonomian global.

 

Hal ini terlihat dari perbandingan survei dengan tahun lalu. “Tahun lalu (2010-11) ada kenaikan kepercayaan hingga 30 poin. Saat ini menurun 5 poin menjadi hanya meningkat 25 poin,” ujar A. Rahim Jabbar, Penasihat Teknis Deka. Artinya, mereka yakin kondisi bisnis akan meningkat, tetapi tingkat kepercayaan dalam menghadapi 2012 sedikit menurun dibanding ketika menilai 2011 terhadap 2010.

 

Kondisi ekonomi ini ditanggapi berbeda oleh setiap segmen responden. Segmen optimistis beralasan pada 2012 akan terjadi peningkatan daya beli yang berakibat pada menguatnya ekonomi domestik. Selain itu, mereka pun yakin ekonomi Indonesia tidak terpengaruh krisis ekonomi global. Di sisi lain, pemerintah akan membuat proteksi terhadap krisis ekonomi global. Segmen optimistis pun yakin infrastruktur akan membaik dan arus investasi banyak masuk ke Indonesia.

 

Segmen realistis menganggap pemerintah belum melakukan tindakan konkret di tahun 2012, dan adanya ketidakpastian karena krisis Eropa dan Amerika. Mereka juga masih bersikap wait and see terhadap kinerja menteri-menteri baru.

 

Lain lagi dengan segmen hati-hati yang menganggap Indonesia akan terkena dampak kondisi krisis Eropa dan Amerika yang mengakibatkan turunnya daya beli serhingga konsumsi domestik juga turun.

 

Mengenai kondisi sosial-politik, mereka lebih optimistis dibanding tahun 2010-11 yang hanya naik 4 poin. Pada 2012, mereka sangat yakin. Terbukti dengan kenaikan kepercayaan hingga 8 poin. Hal yang sama juga terjadi pada kondisi hukum yang naik 10 poin. “Ini membuktikan bahwa mereka percaya kondisi ekonomi dipengaruhi ekonomi global. Sedangkan kondisi sosial, politik dan hukum, para CEO menatap penyelenggara pemerintahan mampu menjaga kestabilan,” kata Rahim.

 

Namun, secara garis besar para pelaku bisnis yakin perekonomian Indonesia tahun depan akan tumbuh. Hanya saja, tingkat kepercayaan sedikit menurun dibanding optimisme tahun sebelumnya. Malah, perkiraan pertumbuhan bisnis dan anggaran pengeluaran perusahaan juga mengalami peningkatan. Jika ditilik dari responden berdasarkan omset, terlihat rata-rata penjualan (dalam jumlah rupiah) naik 23%, laba (rupiah) naik 18%, penjualan (unit) naik 20%, promosi naik 14%, R&D naik 8%, pendidikan dan pelatihan SDM naik 15%, dan belanja modal naik 21%.

 

Sementara dari sisi segmen (optimistis, realistis, hati-hati), pertumbuhan rata-rata penjualan (dalam bentuk rupiah) naik 23%, laba (rupiah) naik 18%, penjualan (unit) naik 20%, promosi naik 14%, R&D naik 8%, pendidikan dan pelatihan SDM naik 15%, dan belanja modal naik 21%. “Di situ kelihatannya perusahaan akan meningkatkan profit. Dan, mereka juga mulai sadar bahwa SDM memegang peran penting dalam bisnis,” Rahim menuturkan.

 

Untuk mewujudkan hal tersebut, para pelaku bisnis sepakat menempuh tiga strategi utama. Pertama, meningkatkan mutu. Kedua, memperbaiki pelayanan. Dan ketiga, menanggapi pasar lebih cepat. “Selain itu, dengan investasi modal sendiri, pelaku bisnis dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, serta perluasan pasar domestik,” katanya. Semua itu, lanjutnya, bertujuan meningkatkan pertumbuhan bisnis rata-rata sebesar 18%-20%.

 

Sementara itu, survei lain bertajuk “Pandangan CEO terhadap Kondisi Bisnis 2012” berhasil memotret pandangan dan prediksi bisnis para CEO. Sebanyak 36 CEO dari berbagai perusahaan dan industri yang berbeda memberikan jawabannya, yang intinya siap menyongsong tahun 2012.

 

Terungkap dari temuan riset, 69% CEO optimistis kondisi bisnis 2012 akan lebih baik dibanding tahun 2011 meski persentasenya lebih kecil dibanding dengan 2011 terhadap 2010 sebesar 89%.

 

Selain itu, juga terungkap target utama para CEO pada 2012. Lalu, tantangan eksternal dan internal yang akan dihadapi serta strategi yang akan dilakukan dari berbagai sektor bisnis yang digeluti. Terungkap pula rencana pengembangan bisnis di 2012. Para CEO bersepakat melakukan ekspansi bisnis (sebanyak 66,67%), konsolidasi bisnis (13,89%), dan akan melakukan keduanya (19,44%).

 

Sejalan dengan hasil survei di atas, Bagus Santoso, pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, berkeyakinan, para pebisnis punya pandangan yang optimistis tentang prospek bisnis di 2012. Hal tersebut berkaitan dengan kepercayaan sebagian pebisnis yang mengaitkan tahun 2012 dengan Tahun Naga Air yang menurut ramalan prospeknya akan sangat cerah. “Business is a matter of mood. Jika mood pebisnis optimistis, semua hasilnya juga positif. Sebaliknya jika mood pebisnis pesimistis, bisnis secara keseluruhan juga akan lesu,” ungkap Bagus. Ia juga meyakini prediksi pertumbuhan ekonomi 6,4% dari pemerintah cukup realistis.

 

Selain itu, ia memperkirakan probabilitas ekonomi dan bisnis Indonesia 2012 terhadap krisis tampaknya cukup kecil. Tahun 2012 ini juga akan banyak peluang bisnis yang terbuka, terutama yang berkaitan dengan pemanjaan perilaku konsumtif masyarakat. “Namun, pebisnis jangan over confidence dengan merambah bisnis-bisnis yang core-competence-nya tidak mereka kuasai,” ujar Bagus memberikan masukan.

 

Hiramsyah S. Thaib, Presiden Direktur PT Bakrieland Tbk., sependapat. Menurutnya, tidak banyak hal yang perlu dikhawatirkan dalam menyongsong 2012. Satu hal yang perlu dikhawatirkan adalah kemampuan pemerintah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur. Kecepatan dalam membangun infrastruktur sangat membantu menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi dan akan menjadikan perkonomian Indonesia stabil.

 

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kemampuan pemerintah dalam mengelola subsidi bahan bakar minyak (BBM). Dengan anggaran subsidi BBM tahun ini yang cukup besar (Rp 130 triliun), hal ini sangat tergantung pada harga minyak mentah. Apabila harga minyak dunia meningkat terus, hal itu akan menjadi ancaman bagi Indonesia. Hal tersebut juga akan mengurangi rasa percaya diri masyarakat kita.

 

Meskipun begitu, Hiramsyah melihat adanya upaya yang cukup baik dari pemerintah dalam menjawab tantangan-tantangan saat ini. Terlebih dengan disahkannya RUU mengenai pembebasan lahan, ia berharap pembangunan infrastruktur akan semakin dipercepat. Sehingga,  kondisi bisnis di Tahun Naga akan semakin kondusif seperti yang diprediksikan dalam survei Deka dan SWA ini.

 

Dede Suryadi

Reportase: Ario Fajar, Kristiana Anissa dan Sigit A. Nugroho

Riset: Rachmanto Aris D.

 

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *