The Most Trusted Companies Pilihan Analis dan Investor

Para investor dan analis punya pilihan sendiri tentang perusahaan mana yang menerapkan good corporate governance terbaik. Ini terekam dalam survei Indonesia Most Trusted Company.

Dede Suryadi dan Kristiana Anissa

Majalah SWA melakukan survei terhadap 100 analis dan investor. Mereka diminta menilai 10 dari semua perusahaan publik (emiten) yang paling mereka ketahui telah menerapkan good corporate governance (GCG) dengan baik. Parameter penilaiannya meliputi masalah transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan fairness dari perusahaan publik tersebut. Setiap variabel dibobot berdasarkan tingkat kepentingannya untuk menghitung indeks peringkat GCG. Hanya perusahaan yang dinilai oleh minimal 25 responden yang dimasukkan dalam pemeringkatan survei ini.

Survei yang bertajuk Indonesia Most Trust Company 2010 ini menghasilkan 15 emiten yang melaksanakan GCG terbaik versi analis dan investor. Posisi pertama dalam lima besar berdasarkan hasil survei yang dilakukan selama 6 September-22 Oktober 2010 ini diduduki PT Astra International Tbk. (ASII). Emiten ini membukukan indeks GCG 81,88. Dari lima variabel yang diukur, Astra membukukan nilai di atas 80 untuk empat variabel – skor variabel fairness 78,1.

Lalu, di posisi kedua ada PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) yang membukukan indeks GCG 81,32. Posisi selanjutnya, Bank Central Asia (BBCA) dengan indeks GCG 81,27, Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) yang memperoleh skor 80,97, dan Bank Mandiri Tbk. (BMRI) yang indeksnya 80,76 (selengkapnya lihat Tabel).

Arief Istanto, Chief Corporate Communication Astra, mengatakan, sebagai perusahaan publik, pihaknya akan selalu berupaya menaati segala peraturan dan memberikan yang terbaik kepada stakeholders-nya. Juga, memenuhi semua persyaratan GCG. Tidak hanya dari sisi bisnis, tetapi juga dari sisi komitmen sosial dan lingkungan hidup. Selain itu, semua yang berkaitan dengan produk, layanan, sumber daya manusia dan proses — faktor-faktor lain yang membentuk GCG yang baik — juga harus dilakukan secara bertanggung jawab. “Yang kami harapkan, setiap informasi yang kami sampaikan dapat diterima dengan baik untuk dipertimbangkan dalam berinvestasi di saham Astra,” ujar Arief.

Harga saham Astra di bursa terkait persepsi investor terhadap semua itu. “Kami tidak bisa dan tidak pernah ikut campur dalam situasi pasar saham di bursa, karena itu adalah murni atas kondisi supply dan demand,” ia mengungkapkan. Tanggung jawab perusahaannya hanya sebatas memberikan informasi yang transparan dan sesuai dengan aturan otoritas pasar modal ke pihak yang membutuhkan di bursa, seperti analis dan investor. “Jadi, sikap investor adalah keputusan mereka atas informasi yang ada,” ujarnya menyimpulkan.

Demikian juga Indofood, secara transparan melaksanakan kepatuhan yang diatur pasar modal. Terkait hal tersebut, direksi dan komisaris Indofood selalu melakukan pertemuan rutin dalam rangka memastikan pelaksanaan GCG di perusahaan. Apalagi, Indofood terikat dengan ketentuan dari tiga pasar modal, yaitu pasar modal Indonesia, pasar modal Singapura, dan pasar modal Hong Kong.

Franciscus Welirang, Direktur Indofood, mencontohkan, ada beberapa laporan yang terkait risk management, transaksi benturan kepentingan, dan sebagainya yang mungkin di pasar modal yang satu tidak diminta, tetapi harus ada di pasar modal yang lain. Karena itu, Indofoof menjalankan berbagai prinsip kepatuhan yang diatur setiap pasar modal tersebut. “Jadi, mungkin investor melihat itu,” ungkap Franky, panggilan akbrabnya.

Soal dampak penerapan GCG terhadap harga saham Indofood di pasar modal, Franky berharap memperoleh apresiasi dari para investor. “Karena, tujuan kami sendiri memang untuk meningkatkan value pemegang saham,” katanya menegaskan.

Dalam sudut pandang analis saham, GCG yang baik juga membuat sebuah perusahaan lebih mudah dianalisis, karena semua informasi yang berkaitan dan signifikan terhadap kinerja perseroan diungkapkan lebih awal dan transparan. Bagi investor sendiri, hal itu akan menjadi pertimbangan untuk berinvestasi di saham dalam jangka panjang, misalnya pada reksa dana atau hedge fund, terutama hedge fund asing.

Mengomentari tentang emiten mana yang telah menerapkan GCG dengan baik, Edwin Sinaga, analis dari Finan Corpindo Nusa, menegaskan, di Indonesia tidak ada indeks yang mengukur harga saham dari emiten yang penerapan GCG-nya baik. Namun ia menilai, saham-saham yang termasuk dalam LQ45 tergolong telah memiliki GCG yang baik, termasuk beberapa BUMN yang tergabung di dalamnya.

“GCG itu berarti informasi yang disampaikan ke dalam dan ke luar transparan dan tidak ada yang ditutup-tutupi, dan harus disampaikan dengan sebaik-baiknya agar investor pun dapat mengambil keputusan yang baik,” ujar Direktur Utama Finan Corpindo itu. Sehingga, akhirnya investor dapat berinvestasi untuk jangka menengah-panjang, dan pasar modal Indonesia menjadi lebih stabil dan terhindar dari fluktuasi yang berlebihan.

Analis pasar modal David Cornelis menambahkan, analis dan investor tentu sangat mengharapkan adanya tata kelola perusahaan yang baik, terutama pada transparansi perusahaan (disclosure dan audit atas perusahan secara independen), juga responsibility perusahaan tentang kegiatan operasional dan bisnisnya, selain faktor akuntabilitas.

Banyak hal yang harus diimplementasikan emiten dalam rangka acuan GCG ini. Salah satunya adalah taat (comply) terhadap sistem, prosedur, fungsi dan (pencapaian) target-target yang sudah ditetapkan bersama dengan selalu melakukan check and balance, serta memberikan informasi terkait apa yang sudah dan akan dilakukan perusahaan kepada publik dalam prinsip independensi dan transparansi.

“Yang terpenting juga adalah independensi emiten terhadap faktor-faktor eksternal, tidak terkait afiliasi dan faktor-faktor ‘hubungan spesial dengan siapa’. Semua harus dilakukan dalam keterbukaan dan pengambilan keputusan dilakukan secara objektif bagi kepentingan perusahaan dan tujuan bersama, yaitu maximize shareholder wealth (memberi value added dan social welfare),” ujar David.

Ia menekankan, yang penting semua lini (good corporate citizen) di perusahaan bersatu dalam tata kelola perusahaan, dengan target mengutamakan nilai perusahaan yang optimal (high return with sustainable growth) dengan efisien dan kompetitif dalam industrinya. Selain itu, memberi kemudahan akses bagi investasi dari luar perusahaan, baik lokal maupun luar negeri. Dan yang terpenting, bebas dan bersih dari tuntutan hukum apa pun.

Bagaimana pandangan para investor? Sebagai investor yang mengamati pergerakan harga saham setiap hari, Paul Heru Utomo tergolong investor yang berinvestasi dalam jangka pendek. Biasanya dalam memilih saham perusahaan sebagai portofolio investasinya, ia memilih yang kondisi keuangannya bagus atau menunjukkan perusahaan tersebut mampu menghasilkan laba.

Paul mengakui Astra salah satu emiten dengan GCG bagus. Selain Astra, emiten yang GCG-nya bagus menurutnya adalah perusahaan-perusahaan dalam Grup Astra, seperti PT United Tractors Tbk. (UNTR), PT Astra Grafia Tbk. (ASGR) dan PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI).

Saat ini ia memiliki sekitar 25 lot saham Astra. “Saya hanya membeli saham Astra kalau harganya sedang bagus. Karena, saham Astra mahal, dan keuntungan yang diperoleh tidak seimbang dibandingkan kalau membeli saham yang lebih murah,” ujarnya. Misalnya, saham lain bisa membeli dengan harga Rp 5.000 untungnya Rp 50, sedangkan pada saham Astra, membeli Rp 50 ribu dan untungnya juga Rp 50. Meskipun saham Astra mahal, Paul menilainya tergolong cukup likuid. Ia biasanya mengoleksi saham Astra dengan jumlah 20-30 lot.

Seorang investor yang tidak bersedia disebutkan namanya menyatakan setuju dengan hasil survei, bahwa Astra dan Indofood dinilai sebagai emiten dengan GCG yang bagus. Kendati demikian, sebagai investor ritel, ia cenderung tak terlalu mempertimbangkan sisi GCG sebagai dasar mengoleksi saham dalam portofolio investasinya.

Emiten dengan GCG bagus umumnya adalah perusahaan dalam Grup Astra, tetapi ia sendiri tidak memiliki saham Astra karena dinilainya terlalu mahal baginya. Ia sudah sempat mendulang profit dari saham Indofood, tetapi tidak bersedia menyebutkan jumlah nominalnya. Pria yang mulai berinvestasi sejak akhir 2007 ini mengungkapkan, kini ia masih memiliki saham Indofood dan berharap harganya naik sehingga ia dapat segera melepasnya. Namun, hingga saat ini harga saham Indofood belum naik dan masih di bawah Rp 5.000.

Tak salah, perusahaan yang jadi pemenang dalam survei Indonesia Most Trusted Companies memang jadi incaran para analis dan investor.

Riset: Rachmanto Aris D.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *