Telkom Terapkan CSR One Pipe Education System

Telkom Fondation

Sebagai BUMN telekomunikasi di Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) tidak hanya menjalani aktivitas operasional bisnis tapi juga turut serta memberikan kontribusi dalam membangun bangsa.

Untuk itu, Telkom menjalankan Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pendidikan demi melahirkan generasi masa depan yang berpendidikan dan melek akan teknologi. Salah satu bentuk komitmen Telkom untuk dunia pendidikan adalah mendukung pelaksanaan konsep pendidikan terintegrasi atau yang dikenal dengan nama One Pipe Education System (OPES) yang tengah intensif dilakukan oleh Telkom Foundation.

Arif Prabowo, Vice President Corporate Communication Telkom mengatakan, Telkom berusaha mendukung majunya pendidikan di Indonesia yang direalisasikan melalui pendirian Telkom University (TeIU) sejak 2013, serta pelaksanaan OPES mulai Januari 2014. “OPES dan TeIU adalah bentuk mahakarya kami bagi dunia pendidikan Indonesia,” kata Arif.

OPES merupakan puncak aktivitas tanggungjawab sosial perusahaan pada bidang pendidikan dasar menengah yang sudah dilakukan sejak 1977 (melalui TK Sandhykara Bandung), sekaligus pendidikan tinggi yang berdiri sejak 1990 (melalui STT Telkom). Dengan konsep OPES, siswa diproyeksikan masuk sekolah TK/playgroup, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Telkom Foundation.

Hingga tahun ini, pendidikan dasar menengah Telkom Foundation mengelola 10 ribu siswa pada 31 TK dan playgroup, 1 SD, 1 SMP, 3 SMK pariwisata, dan 7 SMK Telkom. Sekolah-sekolah tersebut ada di 32 kota di Indonesia yang terbentang dari yang terbarat, yakni Pematang Siantar, Sumut hingga paling timur, yakni Papua.

Setiap tahun, lulusan sekolah yang ada di Telkom Foundation rata-rata mencapai 3.700 orang yang terdiri dari Iulusan SMA dan SMK Telkom 1.899 orang, lulusan SMP 296 orang, dan lulusan SD 85 orang. Sementara Empat TK Telkom Schools dan 27 TK Sandhy Putra di seluruh Indonesia juga melaporkan telah mewisuda 1.370 lulusan.

Angka mi digenapi dengan tiga pendidikan tinggi milik Telkom, yakni selain TeIU, ada Akademi Telekomunikasi Jakarta dan Sekolah Tinggi Teknik Telematika Purwekerto. TeIU hingga November 2014 telah melahirkan sedikitnya 29.602 lulusan. Salah satu lulusannya bernama Dodi Qory Utama baru saja meraih juara dua dalam ajang University Mobile Challenge 2015 di Barcelona, Spanyol.

Ketua Telkom Foundation Dwi Sasongko Purnomo menambahkan, salah satu bentuk konkret implementasi OPES adalah alumnus SMA dan SMK Telkom maupun SMK Pariwisata se-Indonesia, dapat langsung meneruskan studi pendidikan vokasional ke program Diploma Ill (tiga tahun) di Fakultas Ilmu Terapan (FIT) Telkom University.

Alumni dapat masuk jalur seleksi tanpa tes sepanjang mendapatkan rekomendasi dan Kepala Sekolah SMA/SMK masing-masing, penyetaraan/ekuivalensi mata pelajaran yang pernah diperoleh di SMK dengan mata kuliah dan peminatan sesuai program studi, serta pengurangan biaya pendidikan Uang Partisipasi Penyelenggaraan Pendidikan (UP3) sebesar 50%.

“Kami juga sudah merintis kawasan pendidikan terintegrasi, yang disebut Tehcnoplex, seperti di Bandung, Batam, dan Makassar. Di Makassar Technoplex, peresmiannya dilakukan Senin 13 Oktober 2014 oleh Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbud Bapak Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng,” katanya.

Telkom Foundation berkomitmen mewujudkan OPES ini agar potensi dan aset yang dimiliki bisa makin optimal dalam membangun Indonesia yang lebih baik. (Dede Suryadi)

Spread the love

1 comment for “Telkom Terapkan CSR One Pipe Education System

  1. rella febrianta
    Juli 19, 2016 at 4:26 am

    sistem informasi telekomunikasi yang digunakan didunia pendidikan pada saat ini belum menjamah lingkungan seluruh individu terutama door in to door secara segmen pasarnya memang diakui telah memiliki trend apalagi dekade pemerintahan yang ada di indonesia dengan pencanangan era pasar bebas sehingga logaritma inform telekomunikasi ini menjadi semacam kebutuhan yang mendesak apa lagi dengan kemunculan google yang berdampak positif bagi perkembangan dunia pendidikan,namun sayang ini hanya dimanfaatkan sebahagian kalangan saja selebihnya banyak konten-konten negatif yang tak dapat dibendung keberadaannya atas persaingan informasi yang dalam merebut pangsa pasar sejauh inipun upaya pembenahan terus dilakukan oleh pemerintah.
    ada semacam ide yang mungkin dapat dikembangkan oleh berbagai khalayak terutama sistem pendidikan yang berbasis tekhnologi ini terutama dalam hal pembelajaran berupa kurikulum sekolah ataupun akademis berbasis online kerumah-rumah mungkin hal semacam ini bukanlah semudah membalik telapak tangan.tapi dengan upaya pro falitas yang menyerahkan sesuatu terhadap para ahli akademis atau pendidikan ini cukup memberi dampak yang sangat positif bahkan baru-baru ini ada semacam pesantren (pendidikan agama) secara online door in to door dibeberapa daerah yang tak tertutup kemungkinan akan diikuti oleh pelaku lainnya sehingga upaya memberi suatu nuansa religius pendidikan akan sangat berarti di bidang informasi dan tekhnologi nantinya khususnya menyangkut pendidikan,artinya dimasa yang akan datang kontrol sosial akademis (pendidikan) di rumah akan menjadi trend dimasa yang akan datang.
    wassalam
    rella febrianta
    contact person 082277434707

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.