Smiling Club BSM: Memperlancar Urusan Pekerjaan

Dua September 2006 boleh jadi merupakan tanggal bersejarah bagi pecinta sepeda di Bank Syariah Mandiri (BSM). Pasalnya, komunitas Syariah Mandiri Cycling (Smiling) Club resmi berdiri. Komunitas yang kini menyebar di hampir semua kantor cabang BSM ini diakui menjadi ajang keakraban karyawan. Maklum, anggotanya dari komisaris sampai tingkat office boy. “Jadi, di antara karyawan serasa tidak ada jarak,” ujar Suhendar, Ketua Smiling Club.

Ia mengaku dengan aktif di komunitas, kecanggungan hubungan antara bawahan dengan atasan bisa lebih cair. Efek bagusnya, pekerjaan jadi dapat terselesaikan. “Waktu kegiatan kami sering membicarakan pekerjaan,” katanya. Tentu, bukan berarti membawa urusan kantor ke luar. Yang dimaksud Suhendar, lebih pada faktor kemudahan komunikasi saja. “Apalagi kami bekas BUMN yang tentu banyak birokrasi. Dengan Smiling Club, bisa beres di situ,” kata Kepala Departemen Akunting BSM ini.

Ambil contoh ingin menemui direksi, harus menghubungi sekretaris dulu dan beberapa prosedur. Kalau bertemu di komunitas, akan lebih mudah. “Prosedur tetap dilalui, tetapi lebih mudah. Karena ada trust yang terbangun,” Suhendar mengungkapkan. Atau malah, tak jarang urusan antardivisi terselesaikan sambil bersepeda. “Dibahasnya pas bersepeda, ketika besoknya masuk kantor, ya sudah tinggal follow up saja.”

Sejatinya, membangun komunitas hingga bisa mengakrabkan antaranggotanya ini bukanlah perkara mudah. Suhendar merintis komunitas ini hanya dengan dua orang. Pertengahan 2006, bersama seorang temannya, Suhendar menggagas klub pesepeda. Saat momen peringatan hari kemerdekaan Indonesia, ia nekad menggaet Polygon sebagai sponsor. Beruntung Polygon menyambut tawaran ini. “Kami adakan acara fun bike dan fun work untuk karyawan,” ia menambahkan. Dari pihak Polygon menyediakan 30 unit sepeda untuk kegiatan tersebut. “Nah, kami umumkan manajer ke atas tidak perlu bawa sepeda. Akhirnya banyak yang berminat dan acara itu sukses.”

Berkaca dari kesuksesan tersebut, dirinya melihat sebenarnya cukup banyak peminat sepeda, tetapi belum ada wadahnya. “Maka saya dibaiat sebagai ketua Smiling Club ini,” ungkapnya mengenang. Sejak itulah komunitas pesepeda itu rutin melakukan kegiatan. Setidaknya sebulan sekali ada touring. Sebut saja Tangkuban Perahu, Rindu Alam, Gunung Merapi pernah mereka jelajahi. Smiling Club juga sering terlibat kegiatan dengan komunitas sepeda lainnya. Biasanya, ketika touring Smiling Club melakukan kegiatan bakti sosial.

Suhendar mengaku semua aktivitas tersebut mendapat dukungan penuh dari perusahaan. “200% didukung perusahaan,” katanya berkelakar. Sekali touring skala kecil, Smiling Club mendapat biaya berkisar Rp 2-5 juta dari perusahaan. Jumlah akan lebih besar kalau kegiatannya besar. “Semua dana dari perusahaan.” Belum lagi adanya bakti sosial dari sumbangan pribadi para anggota klub.

“Benefit bagi perusahaan pun saya kira banyak dengan adanya komunitas,” ujar Suhendar. Sebab, setiap melakukan aktivitas para anggota mengenakan seragam corporate color. Di luar itu juga bila bersentuhan dengan masyarakat, sehingga Smiling Club dipastikan sedikit mempromosikan BSM. Maka, tak heran banyak pula komunitas yang aktif di BSM. Ada fotografi, adventure (pecinta alam), penggemar motor (Smart), mancing dan pembaca. Semua komunitas tersebut dinaungi dalam wadah BSM Club. “Kami dapat dana rutin dari BSM Club, selain juga dari divisi lain seperti LAZ,” tambah Suhendar.

Bagi Yuniarto Joko P., adanya Smiling Club cukup mewadahi hobinya bersepeda yang sudah ia tekuni sejak 1992. Lebih dari itu, dirinya juga bisa berinteraksi lebih dekat dengan rekan-rekannya dan urusan pekerjaan pun lebih lancar. “Karena adanya trust di antara kami, maka kalau minta sesuatu bisa cepat,” kata Asisten VP Divisi Pembiayaan Komersial BSM ini.

Sementara itu, Eka B. Danuwirana, Kepala Divisi Human Capital BSM, mengakui komunitas dapat mengaktualisasikan diri karyawan secara bebas. Imbasnya ketika di lingkungan pekerjaan, karyawan dapat bekerja lebih optimal dan punya keterikatan yang tinggi dengan karyawan lainnya. “Komunitas bisa meretas jarak dan kesetiakawanan kami lebih tinggi lagi,” katanya. Efeknya, hubungan antarkaryawan lebih terasa cair dan komunikasi lebih mudah terjalin.

Selain itu, melalui BSM Club yang menaungi beberapa komunitas, Eka mengaku lebih mudah dalam pengembangan kompetensi pegawai. Misalnya, seorang pegawai akan dipromosikan. Ketika dia memimpin suatu acara komunitas dan sukses, maka menjadi penilaian tersendiri. “Ini kan menambah referensi kami untuk melihat potensi seseorang,” ujarnya.

Ke depan, Suhendar bertekad menjadikan Smiling Club sebagai ikon komunitas sepeda di perusahaan perbankan. “Karena kelihatannya kami yang paling aktif di antara teman-teman lainnya,” katanya sambil mengungkap sekarang ini Smiling Club memiliki 300 anggota aktif.

Dede Suryadi dan Sigit A Nugroho

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.