Resto Fusion Padang-Jepang Reza Pradikta

Gerai-Restoran-Suntiang-500x281

Untuk sukses di bisnis kuliner tampaknya memang perlu sesuatu yang berbeda sebagai nilai pembeda sehingga dapat menarik minat pelanggan. Hal ini yang disadari Reza Pradikta ketika ingin mengadu peruntungan dengan mendirikan sebuah resto di Ibu Kota. “Persaingan yang terjadi gila-gilaan, dari merek internasional sampai lokal. Kami harus punya satu konsep yang kuat dan punya daya tarik bagi calon pelanggan, minimal untuk mencoba makan di restoran kami,” kata Reza bersemangat.

Pilihan Reza jatuh pada konsep resto yang menggabungkan (fusion) makanan Padang dengan Jepang. Alasannya, kedua jenis makanan tersebut saat ini tengah digandrungi. Dengan penggabungan itu, Reza ingin menaikkan level masakan Indonesia ke level yang lebih tinggi. “Saya bisa bilang bahwa ada makanan seperti ini (fusion antara makanan Padang dan Jepang) yang pertama kalinya di dunia,” ujarnya dengan harapan pelanggan senang dengan suguhannya.

Reza menyematkan nama Suntiang untuk resto yang baru dibesutnya itu. Suntiang adalah nama mahkota yang dipakai oleh orang Padang ketika menikah. “Konsep kami kan ‘menyunting’ makanan Jepang. Jadi kenapa memakai nama itu dan nama itu hanya digunakan ketika orang menikah, maka kami juga ingin menunjukkan bahwa restoran ini premium,” ujar kelahiran 31 Oktober 1986 ini. Gerai Suntiang pertama dibuka pada November 2013 di Pondok Indah Mall (PIM) 2 Jakarta, karena mal papan atas ini cocok untuk resto keluarga. Harga sewanya memang tidak murah, tetapi trafik pengunjung mal tersebut tergolong ramai dan sesuai dengan target Suntiang yang membidik kelas premium.

Sekarang,Suntiang telah memiliki menu 60 jenis makanan. Yang menjadi ciri khasnya adalah bumbu masakan Padang yang masih otentik karena resep dari keluarga sendiri. “Kami mungkin juga adalah restoran Padang pertama yang ada conveyor belt-nya seperti restoran sushi, tapi di sana tidak akan ditemukan sashimi dan sebagainya. Yang ada masakan campuran Jepang dan Padang,” ujarnya berpromosi.

Adapun menu favoritnya, salah satunya Dendeng Roll, yakni dendeng yang dijadikan roll (seperti sushi) lalu dilumuri saus favorit ala Suntiang. Ada juga Gulai Ramen yang cukup laku. Ini merupakan ramen ala Jepang yang disajikan dengan kuah gulai. Untuk makanan pembukanya (appetizer) ada Gyoza, tetapi isinya bukan seperti yang standar resto Jepang lainnya, melainkan rendang, ayam balado, dan lain-lain yang disajikan dengan saus mayo balado atau gulai.

Harganya pun bervariasi di kisaran Rp 19-93 ribu. Dan yang termahal itu pun adalah menu sharing, misalnya Iga Bakar Cabe Hijau. “Restoran kami sesuai dengan sistem restoran Jepang. Jadi pelanggan mengambil piring makanan yang dia mau di conveyor belt. Harganya itu berbeda-beda, tergantung dari warna piring yang dia ambil,” papar alumni Jurusan Psikologi University of Queensland, Australia ini.

Setelah di PIM 2, Suntiang sudah membuka gerai barunya di Grand Indonesia (GI) Jakarta sejak Juni lalu. “Kami memutuskan membuka lagi di GI, karena respons pasar yang positif, dan kami juga ingin membuka pada segmen pasar yang berbeda.Kan di PIM itu benar-benar family mall, sedangkan GI itu di tengah kota dan banyak perkantoran,” katanya. Sekarang, tingkat kunjungan pelanggan ke restonya rata-rata 200 orang per hari dan kalau weekend bisa sampai 500 orang.

Reza Pradikta

Reza Pradikta

Agar restonya makin diminati pelanggan, Reza rajin berpromosi. Misalnya pada hari Senin ada promo All You Can Eat, yakni mau makan berapa piring pun, cukup hanya bayar Rp 100 ribu saja. Promo dengan kartu kredit pun dilakukannya dengan menggandeng Bank CIMB Niaga dan Danamon. “Kami punya akun Instagram dan Twitter untuk promosi. Kami juga ikut bazar, seperti Jakarta Culinary Fest dan Market & Museum di Grand Indonesia,” kata Reza yang menargetkan membuka dua gerai dalam setahun, dan bahkan membuka peluang menggandeng mitra untuk berekspansi membuat gerai baru.

Tonie Kadi, pengamat bisnis resto, sepakat konsep fusion antaramakanan Padang dan Jepang seperti yang diusung resto Suntiang merupakan hal baru. Cuma, menurutnya, pasti satu jenis makanan yang lebih menonjol dari jenis yang satunya lagi. Di Suntiang, Tonie menduga jenis makanan Padangnya lebih kuat dari jenis masakan Jepangnya.

Yang menarik dari Suntiang adalah penggabungan dua selera pasar yang berbeda. Peminat makanan Jepang biasanya dari kalangan menengah-atas, sementara penggemar makanan Padang umumnya dari kalangan menengah-bawah. “Hal ini menjadi tantangan tersendiri buat resto Suntiang,” ujar Tonie. Ia menyarankan, kalau memang yang disasar pasar menengah-atas, kualitas makanannya harus benar-benar diperhatikan, khususnya makanan Padang. Apalagi resto Padang ataupun resto Jepang dengan harga murah sudah banyak menjamur di berbagai tempat. “Jika ingin terus berkembang, resto Suntiang harus bisa mengimbangi kualitas makanan, rasa, dan harga dengan resto lain di sekitarnya,” lanjut Tonie menutup wawancara.

Dede Suryadi dan Ria Efriani Pratiwi

(Follow and contact Twitter @ddsuryadi. Email: dede.suyradi1@gmail.com)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.