Reksa Dana Saham yang Digdaya

Sejalan dengan naiknya IHSG yang mencapai 75,63% sampai dengan 25 Agustus 2009 , return reksa dana saham pun terkerek. Bahkan, banyak yang melebihi pertumbuhan indeks tersebut. Reksa dana saham apa saja yang tengah moncer?

Oleh : Dede Suryadi

Per 25 Juli 2009, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah menyentuh level 2.380,25 atau meningkat 75,63% dibanding posisi awal tahun yang sebesar 1.350-an. Sejalan dengan menanjaknya IHSG, return reksa dana saham pun meroket, bahkan banyak yang di atas 100%.

Berdasarkan data Infovesta Utama, sedikitnya ada 57 reksa dana saham dari berbagai manajer investasi yang membukukan return sejak awal tahun hingga akhir Juli lalu di atas IHSG. Lima terbesar adalah reksa dana Pratama Saham dari PT Pratama Capital Indonesia yang mencetak return 179,07% dengan nilai aset bersih (NAB) per unit Rp 2.940,94 per 25 Agustus 2009, Batasa Equity Syariah (PT Batasa Capital) sebesar 151,01% (Rp 941,44), Dana Pratama Ekuitas (Pratama Capital) yang membukukan return 147,77%, Trim Kapital Plus 147,06% dan Makinta Mantap (PT Makinta Securities) 140,12% — selengkapnya lihat Tabel.

Menurut Wawan Indrayana, Analis Riset dan Teknis Infovesta Utama, sejumlah reksa dana saham yang return-nya moncer bahkan melebihi 100% biasanya memiliki dana kelolaan yang relatif kecil. Dengan demikian, si manajer investasinya bisa dengan leluasa memperjualbelikan portofolio saham di dalamnya. “Biasanya dana kelolaan mereka di kisaran ratusan miliar dan belum mencapai triliunan rupiah,” katanya. Portofolio saham yang diincar pun lebih banyak saham-saham komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).

Memang, reksa dana saham pada tahun ini berangsur menguat, seiring pula dengan kondisi politik dan keamanan di Indonesia yang relatif stabil, kendati tahun 2009 adalah tahun pemilu (pemilihan anggota legislatif dan presiden). Peristiwa pengeboman dua hotel ternama yang memperoleh sorotan internasional nampaknya juga tidak terlalu mengguncang pasar saham. Kondisi ekonomi makro juga menunjukkan perbaikan, khususnya tingkat inflasi. Indonesia merupakan satu dari sedikit negara di Asia yang masih mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi positif. “Hal-hal di atas yang menyebabkan Indonesia dipandang sebagai tempat investasi pilihan para fund manager asing,” ujar Abiprayadi Riyanto, Presdir PT Mandiri Manajemen Investasi (MII).

MII mempunyai reksa sana saham Syariah Mandiri Investa Atraktif Syariah (MITRA Syariah) yang imbal hasilnya di atas IHSG. Menurut data Infovesta, MITRA Syariah dari awal Januari hingga akhir 25 Agustus 2009 membukukan return 84,86% dengan NAB per unit Rp 959,48.

Abiprayadi mengungkapkan, portofolio MITRA Syariah adalah saham Telkom (TLKM), Unilever Indonesia (UNVR), London Sumatra (LSIP), Astra International (ASII), dan Astra Agro Lestari (AALI). Strategi yang dilakukannya dalam mengelola portofolio reksa dananya adalah senantiasa melakukan monitoring dan balancing secara berkala seiring dengan perkembangan, perubahan dan fluktuasi yang terjadi di dunia pasar modal. Perubahan ini mengakibatkan potensi return dan risiko berubah. Ia mencontohkan, pemantauan terhadap perubahan dan perkembangn itu adalah melakukan penjualan saham yang harganya sudah meningkat tajam dan menggantinya dengan saham-saham yang relatif murah. “Contoh lainnya adalah menganalisis dampak ledakan bom terhadap pasar saham dan melakukan tindakan yang sesuai,” Abiprayadi menerangkan.

Kalau kita menengok pada awal 2009, reksa dana saham ini sempat anjlok seiring dengan melemahnya IHSG. Harga saham-saham anjlok ke posisi yang tidak diperkirakan sebelumnya, yakni lebih dari 50% hanya dalam beberapa bulan, sehingga membuat return reksa dana, khususnya reksa dana saham, merosot. Bahkan, manajer investasi yang paling lihai sekalipun tak bisa merbuat banyak.

Kala itu, PT Schroder Investment Management Indonesia yang selama ini dikenal sebagai manajer investasi andal dan reksa dananya selalu mencetak untung pun tak berkutik. Return-nya dalam setahun terakhir waktu itu anjlok lebih dari 40% untuk reksa dana saham Dana Prestasi Plus. Rata-rata penurunan return dalam satu tahun untuk jenis reksa dana ini diperkirakan 40%.

Malah, karena saat itu kondisinya sangat sulit, ada yang memperkirakan reksa dana saham pada 2009 masih akan mengalami hal yang sama. Sektor riil yang diperkirakan akan mengalami perlambatan pertumbuhan membuat bursa saham tak memiliki insentif untuk bergairah. Tambahan lagi, situasi ekonomi dunia akan jauh lebih buruk keadaannya.

Harapan waktu itu jatuh pada reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana pasar uang, serta reksa dana proteksi yang pada 2008 masih mendatangkan untung. Ketiga jenis reksa dana ini memiliki imbal hasil yang positif, meski memang terhitung kecil. Return-nya bergerak dari 1% hingga paling tinggi 15%. Di tengah situasi yang tak menentu tahun lalu, return itu terbilang besar dan masih pantas disyukuri. Tahun ini, ketiga jenis reksa dana itu masih memiliki prospek, tentu saja keuntungannya tidak besar.

Dalam perjalanannya di 2009, mimpi buruk para investor reksa dana saham mulai sirna seiring dengan membaiknya harga saham di lantai bursa. Lihat saja, reksa dana saham per Februari 2009 berhasil meraup untung sebesar Rp 19 triliun atau naik 26% dari total dana kelolaan reksa dana yang saat itu sekitar Rp 73,44 triliun. Dan pada Maret 2009, berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan, total dana kelolaan reksa dana mencapai Rp 77,39 triliun atau naik 5,39% ketimbang bulan sebelumnya.

Dua bulan kemudian (Mei 2009), Bapepam-LK mecatat, total NAB reksa dana mencapai Rp 92,12 triliun. Rinciannya: NAB reksa dana saham mencapai Rp 29,59 triliun, naik 53% dari posisi Rp 19,85 triliun pada awal tahun. Sementara itu, NAB reksa dana terproteksi Rp 29,95 triliun, campuran Rp 12,48 triliun, pasar uang Rp 3,1 triliun, serta pendapatan tetap Rp 13,23 triliun.

Tak pelak, membaiknya indeks saham membuat Philip Kotler, tokoh yang kerap disebut sebagai The Father of Modern Marketing, dalam kunjungannya ke Bursa Efek Indonesia (BEI) waktu itu pun memuji kemampuan pemulihan pasar modal Indonesia sebagai salah satu yang tercepat di dunia. Waktu itu, IHSG sudah tembus di level 2.100.

Lalu per 1 Juli 2009, Bapepam-LK kembali mencatat total dana kelolaan reksa dana mencapai Rp 96,8 triliun. Dari angka itu, dana kelolaan reksa dana saham Rp 31,7 triliun, naik 59% dibanding awal tahun. Dana kelolaan reksa dana saham ini sudah melampaui reksa dana terproteksi yang sebesar Rp 30,2 triliun. Total NAB reksa dana terproteksi ini hanya tumbuh 3% dari NAB per akhir Desember 2008 yang Rp 29,3 triliun. Tentunya, kenaikan dana kelolaan reksa dana saham itu berhubungan erat dengan kenaikan nilai asetnya yang sejalan dengan melesatnya IHSG.

Memasuki Agustus tahun ini, total dana kelolaan reksa dana menjadi Rp 101,68 triliun, kendati turun dibanding akhir Juli 2009 yang sebesar Rp 103,66 triliun. Dari jumlah itu, dana kelolaan reksa dana saham mencapai Rp 35,69 triliun (per 7 Agustus 2009). Memang dana kelolaan reksa dana saham mendominasi dilihat dari total NAB reksa dana secara keseluruhan. Bandingkan dengan reksa dana pendapatan tetap yang dana kelolaannya tercatat hanya Rp 14,16 triliun (per 7 Agustus), reksa dana campuran Rp 13,55 triliun, reksa dana terproteksi Rp 29,74 triliun, dan reksa dana ETF pendapatan tetap Rp 782,69 miliar.

Sementara, NAB empat jenis reksa dana lain yaitu reksa dana pasar uang Rp 4,08 triliun, indeks Rp 18,79 triliun, ETF saham Rp 74,17 triliun, dan syariah Rp 3,56 triliun. “Total dana kelola reksa dana saham akan tetap mendominasi hingga akhir tahun ini yang diperkirakan akan mencapai Rp 40 triliun atau menguasai 40% dari total dana kelola industri reksa dana,” ujar Wawan memprediksi. Demikian juga return-nya akan meningkat karena IHSG sampai akhir tahun diprediksi bakal bertengger di level 2.500.

Wajar saja, Wawan begitu optimistis. Alasannya, tingkat kepercayaan investor terhadap industri reksa dana semakin meningkat jika terlihat dari jumlah unit penyertaan yang beredar. Pada awal Januari 2009, jumlah unit penyertaan yang beredar sebesar 60,98 miliar dan naik 5,5% menjadi 64,34 miliar pada 7 Agustus 2009. Tercatat pula, sejak awal Januari sampai 7 Agustus 2009 terdapat 588 reksa dana, termasuk 71 di antaranya yang efektif selama 2009. Jumlah reksa dana tersebut dikelola oleh 77 manajer investasi yang asetnya tersimpan di 16 bank kustodian.

Namun, Adler Manurung tetap berpesan, kendati reksa dana, khususnya reksa dana saham, sedang digdaya, para investor tetap harus prudent dalam berinvestasi. Misalnya, kenali dengan baik para menajer inevstasinya dan isi portofolio saham di dalam reksa dana saham tersebut. “ Ke depan reksa dana saham ini akan tetap cerah dan lebih mengutungkan dibanding reksa dana jenis lain,” kata pengamat pasar modal ini.

Abiprayadi juga memberi masukan untuk investor yang tetap berinvestasi di reksa dana saham: melakukan investasi dollar cost averaging, yaitu melakukan investasi dengan porsi yang sedikit secara rutin dalam jangka panjang. “Sehingga pada saat reksa dana saham kembali ke NAB semula atau melebihi NAB semula akan mengalami imbal hasil yang sangatlah optimal,” kata Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana itu.

Riset: Sarah Ratna Herni

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *