Potret Bisnis Syariah: Perlu Upaya Lebih Serius

Konsep syariah sudah merangsek ke segala lini bisnis cukup lama. Namun, penguasaan pasarnya belum terlalu besar. Apa saja kendala yang dihadapi dan bagaimana perkembangannya sekarang?

Dede Suryadi

Bisnis syariah bukanlah barang baru di negeri ini. Malah, hampir semua bank menengah dan besar kini telah menawarkan sistem syariah, baik yang masih sebatas unit usaha syariah maupun yang sudah menjadi bank umum syariah. Saat ini ada 10 bank unit syariah, 24 unit usaha syariah dan 148 bank perkreditan rakyat syariah (BPRS), dengan 1.539 jaringan kantor dan 5.641.087 rekening.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per Oktober 2010, aset bank umum syariah, unit usaha syariah dan BPRS total berjumlah Rp 88,5 triliun, dana pihak ketiga (DPK) Rp 68,01 triliun, dengan pembiayaan sebesar Rp 65,04 triliun.

Menurut Adiwarman Karim, pendiri Karim Business Consulting, memang jumlah nasabah bank syariah baru 5 jutaan. Adapun jumlah nasabah asuransi syariah 3,5 juta dan reksa dana syariah 0,5 juta. Namun, “Jumlah tersebut dua kali lebih banyak dari penduduk Singapura,” katanya membandingkan.

Adiwarman menambahkan, dari segi aset, pertumbuhan perbankan syariah lebih dari 30%. Bankir syariah di Indonesia pun paling banyak di dunia, yakni ada 500 ribu bankir, dan itu pun masih bisa tumbuh. Jumlah ulama yang paham syariah, yang masuk dalam dewan pengawas syariah, ada 250 orang. “Kesuksesan ini tidak pernah diangkat,” ujarnya.

Lalu, mengapa bisnis keuangan syariah di Indonesia masih kecil? Mengapa di Malaysia lebih besar? Jumlah penabung di Malaysia, yang individual, jika diekuivalenkan dengan rupiah, hanya Rp 43,9 triliun. Yang besar di Malaysia, nasabah dari pemerintah (government link companies), lembaga keuangan, dan perusahaan (korporasi). “Di Malaysia, besarnya DPK itu karena dukungan pemerintah. Jadi, bukan karena masyarakat perorangannya yang percaya pada bank syariah seperti di Indonesia,” katanya.

Adiwarwan meyakini, bisnis syariah akan berkembang pesat. Sampai dua tahun mendatang, pertumbuhan aset akan selalu di atas 30%. “Apalagi, kini didukung UU Perbankan Syariah yang menyatakan unit usaha syariah yang sudah berdiri paling lama 15 tahun atau sudah memiliki aset 50% dari bank induknya wajib memisahkan diri untuk menjadi bank umum syariah,” ia menerangkan.

BI memproyeksikan pertumbuhan aset perbankan syariah 2010 paling pesimistis 26% dan paling optimistis bisa tumbuh 81%. Jika skenario optimistis terwujud, nilai aset perbankan syariah di 2010 akan mencapai Rp 124 triliun. Tahun lalu, aset perbankan syariah Indonesia Rp 61,4 triliun yang meningkat cakup signifikan dibanding Rp 49,55 triliun pada 2008. Kendati demikian, market size perbankan syariah dalam percaturan perbankan nasional tergolong masih kecil, di bawah 5%.

Menurut Riawan Amin, Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia, apa yang pernah ditargetkan BI — pangsa pasar perbankan syariah sebesar 5% — belum tercapai. Saat ini baru 2,8% dari total pangsa pasar perbankan di Indonesia. Memang, angka 2,8% adalah suatu kemajuan. Namun, apakah itu suatu kemajuan yang wajar setelah 18 tahun? “Ini bukan di negara komunis atau negara liberal, tapi ini di negara berpenduduk muslim yang katanya terbesar di dunia. Apakah tumbuhnya itu pantas? Buat saya, tidak pantas,” ujar Riawan menilai.

Saat ini, pertumbuhan aset bank syariah sebesar 26% dari aset yang hanya Rp 85,9 triliun, sedangkan aset perbankan nasional mencapai sekitar Rp 2.000 triliun. “Itu bukan sesuatu yang menyenangkan,” katanya menegaskan. Memang ada pertumbuhan aset dari 2009 ke 2010 lebih dari Rp 14 triliun. “Itu patut disyukuri, tetapi tidak patut dibanggakan,” katanya lagi. Hal ini karena partisipasi orang Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini masih rendah. “Buktinya, 97% uang masih di bank konvensional.”

Diakui Riyanto, Dirut Bank Syariah Bukopin (BSB), kecilnya pangsa pasar perbankan syariah — termasuk kecilnya kontribusi setiap bank syariah terhadap industrinya seperti BSB — merupakan tantangan tersendiri bagi para bankir syariah. “Share BSB terhadap industri perbankan syariah nasional masih sekitar 3%,” ungkapnya. “Angka ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi BSB untuk terus meningkatkan pangsa pasarnya.”

Meski begitu, kinerja keuangan BSB selama tiga tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang semakin baik, dengan pertumbuhan rata-rata aset sebesar 76% per tahun, pembiayaan 257% per tahun, dan DPK 179% per tahun. Kinerja tersebut terutama dicapai setelah dilakukannya langkah strategis berupa penggabungan unit usaha syariah Bank Bukopin ke dalam Bank Syariah Bukopin pada Juli 2009, dan ekspansi secara paralel.

Berbicara aset, hingga Agustus 2010 aset BSB telah mencapai Rp 2,07 triliun dengan jumlah pembiayaan Rp 1,5 triliun dan DPK Rp 1,4 triliun, serta laba yang dibukukan Rp 8 miliar. “Aset tersebut cukup besar karena saat ini jumlah nasabah BSB lebih dari 100 ribu, baik nasabah deposito, giro maupun tabungan,” kata Riyanto.

Permasalahan kecilnya pangsa pasar tak hanya terjadi di perbankan syariah, tetapi juga di asuransi syariah. Ronny A. Iskandar, Direktur Operasional PT Asuransi Takaful Keluarga (ATK), mengungkapkan bahwa secara umum saat ini hanya 6% dari jumlah penduduk Indonesia yang menjadi pemegang polis asuransi jiwa, baik konvensional maupun syariah. “Syariah sampai dengan tahun ini kontribusinya masih kecil sekali, hanya 2%-3%,” ujar Ronny yang juga menjadi Pjs Dirut ATK.

Jumlah ini sangat kecil karena rendahnya kesadaran masyarakat untuk berasuransi, apalagi syariah. Sejatinya, potensi bisnis asuransi syariah sangat besar, tetapi riil bisnisnya yang tergarap masih kecil sekali. Kendati Indonesia didominasi umat muslim, jumlah warga yang religius dan emosional terhadap segala sesuatu yang ia lakukan agar sesuai dengan syariah masih kecil, hanya sekitar 10%. “Ini menjadi tugas para pemain di asuransi jiwa syariahlah untuk menyosialisasi asuransi jiwa syariah lebih jauh,” kata Ronny.

Dengan melihat hal tersebut, ATK menggarap pasar yang rasional. “Kalau bicara rasional, produk harus kompetitif, manfaatnya juga baik, dan pelayanan kami harus bagus,” paparnya. Tiga hal itulah yang menjadi senjata bersaing. Hampir semua perusahaan asuransi saat ini cenderung menawarkan produk unitlink, begitu juga ATK.

“Pertumbuhan bisnis di asurasi jiwa, kami sih benchmark-nya di industri ya, sebesar 20%-30%. Kalau dilihat dari data asosiasi, kami sendiri sampai dengan September lalu dibandingkan tahun lalu itu sudah growth 20%-30%. Kalau kami bisa maintain performance kami sampai akhir tahun, saya pikir angka 30% insya Allah akan dapat,” kat Ronny yakin.

Dadang Sukresna, Presiden Direktur PT Asuransi Takaful Umum, menambahkan, dari sisi bisnis, di 2010 banyak sekali bank syariah yang full atau menjadi bank usaha syariah. Itu juga menjadi satu potensi pasar yang luar biasa bagi asuransi syariah. Kendati demikian, dari sisi premi tidak sangat signifikan. “Dari sisi potensi, peluang asuransi syariah berkembang cukup besar. Hanya saja, apakah para pemain itu mau berkomitmen penuh, tidak sekadar window,” katanya.

Di pasar modal, industri reksa dana syariah, dijelaskan Parman Nataatmaja, Dirut PT Permodalan Nasional Madani (PNM), potensinya juga cukup besar. Hanya saja, ada gap, yaitu sulitnya mencari tenaga yang berkualifikasi di industri syariah. Di sisi lain, para pelaku di industri ini juga harus menggenjot edukasi tentang syariah yang lebih kuat lagi. “Saat ini pangsa pasar reksa dana syariah PNM masih relatif kecil, paling tidak sekitar 10%. Pemimpin pasarnya adalah Mandiri Sekuritas,” ungkap Parman. Total dana kelolaan reksa dana yang dimiliki PNM saat ini sebesar Rp 900 milliar, berarti portofolio reksa dana syariah perusahaan ini baru Rp 90 miliar.

Bisnis keuangan syariah ini pun menarik perusaahaan pembiayaan (multifinance). Mardianto Budi Santoso, Direktur PT Sinar Mitra Sepadan Finance (SMS Finance), mengungkapkan, pihaknya tengah membenahi diri untuk ikut masuk menawarkan produk syariah. “Untuk saat ini, baru bersifat unit usaha syariah atau menjadi agen pemasar produk dari beberapa bank syariah di Tanah Air,” katanya. SMS Finance menargetkan pembiayaan sebesar Rp 2,5 triliun hingga akhir 2010, sedangkan kontribusinya di bisnis syariah diharapkan mencapai Rp 300-500 miliar. Hingga April 2010 SMS Finance telah menyalurkan pembiayaan syariah Rp 100 miliar.

Implementasi syariah di industri pembiayaan, menurut Mardianto, dari segi konsep tidak terlihat. Yang membedakan nantinya terletak pada akad kredit. Di mana besar nilai down payment dan angsuran kreditnya akan berbeda karena penghitungannya juga beda. Dalam akad kredit dengan sistem konvensional yang dibahas adalah utang-piutang. Adapun dengan sistem syariah, yang dibahas adalah jual-beli.

Lalu, apa upaya untuk mendorong industri syairah bisa tumbuh lebih baik lagi? Riawan memberikan masukan, upaya yang paling utama adalah meyakinkan pemerintah dan BI untuk mengembangkan bisnis syariah secara benar. Kalau hanya 3%, itu belum benar karena seharusnya 5%. Itu pun target yang dicanangkan beberapa tahun lalu. “Kesalahannya, kita tidak mempunyai visi bersama tentang pengembangan sistem syariah. Kita masih melihat ini sebagai sebuah kegiatan sektarian. Kita masih belum menerima kebhinekaan. Sekarang yang ditakuti sistem perbankan nasional adalah perbankan syariah yang terlalu syariah,” ungkapnya mengkritisi.

Selain itu, bagi sejumlah bank, mendirikan usaha syariah cuma sebagai upaya preventif agar jangan sampai ketinggalan kereta. Jangan sampai ketika regulasi berubah, mereka belum siap. Atau, jangan sampai ketika preferensi nasabah berubah, mereka belum siap. “Tapi, apakah mereka mendirikan syariah untuk dibesarkan? Wallahualam. Ini tren dan menjaga keamanan mereka,” kata Riawan. Namun, ia melihat basic yang cerah untuk industri syariah. “Saya lihat perbankan syariah tidak bisa digantungkan pada pasar. Dia harus digantungkan pada misi pemerintah,” ujarnya menegaskan.

Reportase: Herning Banirestu, Kristiana Anissa, Rias Andriati, Siti Ruslina, Yurivito Kris Nugroho dan Wini Angraeni/Riset: Siti Sumariyati

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *