Pasutri Martha & Budi: Besarkan Donita hingga Tembus Amerika Serikat

Marthalia Ekayanto (Pemilik Donita)

Marthalia Ekayanto (Pemilik Donita)

Bagi mereka yang memiliki putri kecil, baju Donita pastinya tidak asing lagi. Merek baju anak-anak ini mudah dijumpai di berbagai department store, seperti di Matahari, Yogya, Centro, Sri Ratu dan beberapa dept store yang ada di luar Jawa. Donita juga sudah merambah toko di sejumlah kabupaten. Total jenderal, Donita kini ada di 158 toko, dari dept store sampai toko di seluruh Indonesia.

Selain di dalam negeri, Donita pun sudah menembus pasar Amerika Serikat (AS). Bahkan sejak 2011 Donita sudah memiliki kantor cabangnya di Los Angeles. Sekarang, produk Donita sudah menyebar di berbagai gerai di AS termasuk Hawaii. Selain ke AS, Donita merambah pula pasar Singapura.

Adalah Marthalia Ekayanto (34 tahun) dan Antonius Budi Setiawan pemilik sekaligus yang membesarkan Donita hingga seperti sekarang. Pasangan suami istri (pasutri) ini tertarik membesut pakaian anak perempuan karena telah menjadi passion-nya. Kebetulan Martha dan Budi dikaruniai dua putri, Kezia (lima tahun) dan Karen (tiga tahun) yang menjadi sumber inspirasi pengembangan desain baju Donita.

Menurut Martha – panggilan Marthalia Ekayanto – sejatinya yang memulai bisnis fashion anak-anak adalah mertuanya. Sejak 1997 sang mertua sudah mengekspor baju anak-anak ke berbagai negara seperti Eropa, AS dan negara lainnya, meski belum menggunakan merek Donita. “Baru setelah suami saya yang incharge tahun 2003, merek Donita mulai ada,” ujar Martha yang bergabung di bisnis keluarga tahun 2008.

Dengan keterlibatan penuh pasutri muda ini, potensi Donita kian berkembang. Di antaranya, Donita memperkuat pasar dalam negeri dengan merambah jaringan ke dept store ataupun toko seluruh Indonesia. “Kami melihat potensi pasar di Indonesia ini besar sekali, terutama kelas menengahnya,” ungkap lulusan Universitas Kristen Petra Jurusan Desain Interior, yang sengaja menggarap kelas menengah ini.

Terlebih lagi, pada saat Donita dipasarkan, belum banyak pemain baju anak-anak yang serius dikembangkan. Hal ini menjadi peluang Donita yang memproduksi sendiri dengan bahan kualitas ekspor sehingga harganya bersaing. “Saat mulai dipasarkan, Donita hanya ada di satu-dua toko di Bandung. Setelah berjalan satu sampai dua tahun, akhirnya Donita masuk ke Matahari,” kata Martha mengenang. Ia menambahkan, sejak itu Donita menyebar melalui gerai Matahari di seluruh Indonesia.

Sekarang Donita diproduksi di dua pabrik sendiri yang berada di Sukabumi. Setiap minggunya bisa memproduksi 70-80 ribu baju. Selain itu, Donita juga dikerjakan oleh UKM di Jawa Tengah dengan kapasitas 30-40 mesin. “Semua yang kami produksi ini sudah standar ekspor. Tapi bahannya 70%-80% lokal dengan kualitas ekspor,” ungkapnya.

Soal desain baju anak-anak, menurut Martha, tidak seribet mendesain baju orang dewasa. “Desainnya sederhana, hanya lebih fokus pada detail dan aksesorinya,” ucap Martha sambil menambahkan, soal tren dan kiblat baju anak-anak, AS menjadi kiblatnya. Sementara untuk pakaian dewasa, Eropa kiblatnya. “Setiap tahun di AS ada acara, semua buyer berkumpul di sana untuk melihat tren warna, motif, dan lainnya. Kami juga melakukan itu,” lanjut Martha yang memiliki database model mana saja yang disukai oleh pembeli. “Setiap tahun kami bisa keluarkan lebih dari 10 ribu model,” katanya.

Terkait dengan pasar luar negeri, terutama pasar AS yang berhasil ditembusnya, menurut Martha, hal itu berkat usaha sang suami bersama seorang asistennya di tahun 2011. Ketika itu, suaminya mencoba ikut sebuah pameran di New York. Di luar dugaan, responsnya cukup bagus, meskipun diakuinya untuk bisa tembus pasar AS tidaklah mudah, karena standar mutunya sangat ketat. Sekarang, Donita sudah memiliki banyak mitra di sana sehingga tidak memerlukan gerai sendiri. “Yang ada sekarang kami memiliki kantor cabang di negara tersebut,” ujar Martha.

Lalu bagaimana penjualan Donita? Menurut Martha, untuk penjualan pasar lokal memang bergantung pada musim. Biasanya penjualan meningkat hingga 60% ketika memasuki masa Lebaran. “Dalam satu tahun kami bisa jual 1 juta sampai 1,1 juta baju untuk pasar lokal, dan 200-300 ribu baju untuk pasar luar negeri,” ujar Martha sambil menjelaskan, selera pasar yang berbeda-beda.

Ke depan, Martha ingin produknya bisa tersebar hingga ke gerai pelosok kecamatan. Selain itu, Martha juga ingin membuat independent store alias toko sendiri. Namun disadarinya, ia lebih suka memilih sistem kemitraan, karena partner lokal lebih paham dengan pembelinya. Intinya, Donita hendak terus melebarkan penjualan dan pasarnya. Selain soal pasar, Martha berencana membuat sepatu sebagai lini baru merek Donita. Tak sampai di situ, pasutri ini pun sudah mendiversifikasi usaha dengan membuat klinik kecantikan bernama Silver, dan hotel di Bali: Villa Bracha.

Dede Suryadi (kontak Twitter @ddsuryadi) dan Nimas Novi Dwi Arini

Artikel ini sudah dimuat di Majalah SWA 2014

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *