Mereka yang Berpengaruh di Ranah Media Sosial

Media sosial merupakan wahana yang ampuh untuk menyalurkan aspirasi dan promosi. Tak heran terdapat sosok yang berpengaruh lewat jejaring sosial ini dalam berbagai bidang. Siapakah mereka?

Dede Suryadi

Hasil survei yang dilakukan Majalah SWA, Sistem Iklan Teknologi Teks Indonesia (SITTI) dan OMG Consulting menyebutkan, terdapat sejumlah orang yang berpengaruh di ranah media sosial Twitter. Mereka itu berpengaruh di bidang tertentu yang mampu menggerakkan pengikutnya (follower) yang jumlahnya tak sedikit untuk men-tweet.

Dalam survei ini, pemeringkatan diukur dari dua aspek, yakni: sebaran pengaruhnya dan relevansi topik yang mereka bicarakan dengan follower-nya. Umumnya, topik yang dibicarakan/didiskusikan terkait dengan profesinya. Contohnya, Setiawan Hanung Bramantyo (dengan nama akun: hanungbramantyo) menjadi sosok yang berpengaruh di media sosial di bidang film, Indra Lesmana di bidang musik, Bambang Pamungkas di bidang olah raga (sepak bola), Bondan Winarno di bidang makanan (kuliner), dan Andrew Darwis (pemilik Kaskus) di bidang gadget.

Akan tetapi, kesukaan/hobi pada bidang tertentu juga bisa memunculkan sosok yang berpengaruh di bidang itu. Sebagai contoh, Wethandri Ramadhan (Iwet) yang sehari-hari sebagai penyiar radio di Hard Rock FM, ternyata menjadi sosok yang paling berpengaruh di bidang fashion. Adapun yang menarik, Bondan Winarno menjadi orang yang paling berpengaruh di bidang travel.

Yoris Sebastian dari OMG Consulting mengungkapkan, dalam survei yang bertajuk The Most Influential Personality in Social Media ini pemenangnya tidak berarti memiliki paling banyak follower. “Namun ukurannya, seberapa matter dan influencer-nya dia di kalangan mereka. Misalnya di sektor food, tentunya kita semua sering dengar Bondan,” katanya.

Hanya saja, mempunyai banyak follower tentunya menjadi salah satu yang diimpikan oleh aktivis di media sosial ini. Bahkan, menurut Yoris, saat ini kalau seseorang punya banyak follower, apalagi misalnya dia seorang figur publik, maka akan menarik brand untuk menjadikan mereka sebagai influencer. Karena sekali bicara, reach-nya akan luas sekali. Seperti layaknya radio, mereka akan berkicau. Malah sekarang sudah ada prime time untuk Twitter. Namun seperti layaknya radio, sebenarnya perorangan yang sudah punya banyak follower perlu memikirkan positioning-nya. “Saya sendiri misalnya terus fokus untuk berkicau hanya soal kreativitas. Sampai membahas soal makanan pun pasti makanan yang kreatif, tidak seperti Pak Bondan yang pasti bahas soal makanan yang enak alias maknyus,” ungkap Yoris.

Topik yang di-share memang bisa menjadi magnet untuk menarik follower. Lebih menguntungkan lagi, ternyata sang follower figur publik atau orang yang memang sedang in di bidangnya. Contohnya Iwet, ketika berbicara fashion, yang jadi follower salah satunya adalah Kleting Titis Wigati, perancang muda yang sedang naik daun. Kleting sendiri tentu punya teman (follower) banyak, maka peluang Iwet untuk di-tweet oleh teman (pengikut) Kleting juga besar. Hebatnya lagi, artis yang umumnya gemar membicarakan fashion pun terlibat dalam jaringan sosial Iwet, seperti Andienaisyah (Andien, penyanyi jaz), Ayu Dewi (nama akun: missayudewi) dan Fitri Tropica (fitrop).

Sementara itu, Indra Lesmana memiliki orang-orang yang masuk dalam jejaring sosialnya yang memang berkiprah di bidang musik, baik sebagai penyanyi, penulis lagu maupun pemusik. Nama beken yang menjadi follower antara lain, EQPuradireja, Dewa Bujana, Denny Sakri dan Barry Likumahuwa.

Nah, bagaimana kiprah para sosok paling berpengaruh di media sosial. Berikut cerita mereka.

Hanung Bramantyo,
Curahkan Gagasan via Twitter

“Bagi temen2 yang belom sempet nonton Sang Pencerah. Hari ini di Blitz, Pacific Place, jam 5 sore. For free …” Begitulah status Twitter dan Facebook yang pernah dirilis Hanung Bramantyo, sutradara film Sang Pencerah. Hari itu, memang JiFFest memutar gratis film hasil garapan Hanung yang memaparkan kisah hidup pendiri organisasi Islam Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan.

Satu kalimat yang dilontarkan suami artis Zaskia Adya Mecca lewat jejaring sosial itu langsung mendapat reaksi dari para follower. Tak ayal, 128 kursi yang tersedia penuh terisi. Ini menunjukkan betapa efektifnya media sosial. Namun diakuinya, ia bukan termasuk yang aktif berinteraksi di Facebook. “Kalau di Twitter ya, karena itu tempat di mana saya bisa mengeluarkan gagasan saya,” katanya menegaskan.

Dan, melalui Twitter, kontrol terhadap dirinya bisa langsung terasa. “Kalau film saya jelek, akan diomongin memang jelek. Buat saya, masukan itu yang paling saya dengar,” tutur Hanung yang diwawancarai di kantor Dapur Film yang dirintisnya.

Sejatinya, Hanung sudah lama mengenal Twitter, tetapi baru masuk ke dalamnya sejak sosialisasi film Menembus Impian. Cara ini dinilainya cukup efektif untuk menyampaikan kabar berita agar tersiar lebih cepat. Maka, ia memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan filmnya, dan membuat dokumentasi proses syuting film.

Saat ini, pengikut Hanung di Twitter lumayan banyak. Di akhir November lalu jumlah pengikutnya mencapai 37.160 orang. Sementara di Facebook memiliki sekitar 6 ribu teman karena kapasitasnya penuh. Padahal, ada lebih dari 6 ribu orang yang belum mendapat konfirmasi darinya. “Dulu saya ada blog di Multiply, tapi sekarang tidak aktif lagi. Memang sangat efektif. Tapi sekarang sudah tak menulis lagi di blog, ndak ada waktu,” ungkapnya.

Sekarang, ia sedang membuat website Dapur Film. Nah, di website itu bisa membuat blog yang kemudian di-share ke Twitter dan Facebook untuk segala aktivitas Dapur Film,” ujar Hanung tentang situs yang hendak diluncurkan Desember tahun ini.

Ia memutuskan membuat situs web karena cara ini sangat efektif untuk berinteraksi dengan masyarakat. “Masyarakat bisa mengakses saya lewat situs itu. Misalnya, orang yang ingin tahu semua hal tentang karya saya dapat diakses di situ. Nanti kekurangannya baru berhubungan lewat telepon,” tutur pria kelahiran 1 Oktober 1975 ini. Yang jelas, bagi Hanung, media sosial sangat bermanfaat untuk memberi summary sejauhmana filmya diapresiasi masyarakat.

Andrew Darwis,
Media Sosial Mendorong
Perkembangan Kaskus

Nama Andre Darwis (31 tahun) tidaklah asing terutama di kalangan pecinta komunitas Kaskus. Maklum, saat ini Kaskus adalah komunitas online terbesar di Indonesia. Anggotanya 2.316.019 orang. Andrew adalah pendiri Kaskus bersama dua temannya saat masih kuliah di Amerika Serikat.

Hingga akhir November lalu, jumlah follower Andrew di Twitter mencapai 39.101 orang. Sementara jumlah teman di Facebook-nya 4.853 orang. Memang, anggota Kaskus mana sih yang tidak mau berteman di Facebook ataupun jadi follower Mimin (panggilan akrab Andrew di Kaskus, Mimin berasal dari kata admin). Jadi wajar saja, jumlah pengikutnya terus bertambah seiring bertambahnya jumlah anggota Kaskus.

Namun, baginya jumlah follower bukanlah yang dikejar. Pasalnya, sekarang sangat gampang bisa mendapatkan banyak follower. “Saya lebih suka kalau follower itu mengikuti karena memang ingin mendapatkan status update dari saya. Jadi ketika ngetweet saya tahu bahwa banyak orang yang merasakan benefit dari tweet saya itu,” katanya. Artinya, Twitter sangat membantu menyebarkan berita dengan cepat.

Sejatinya, ia tidak dengan sengaja memanfaatkan media sosial tersebut, toh lebih tepatnya ia diuntungkan dengan populernya Kaskus saat mulai menjadi PT dan booming-nya media sosial. “Keuntungan yang saya bisa rasakan dengan adanya Kaskus dan media sosial, selain orang-orang mengenal saya sebagai pendiri Kaskus, saya juga bisa lebih memaksimalkan media sosial untuk berbagi informasi terkait perkembangan Kaskus, seperti fitur baru, layanan baru, dan tentunya prestasi yang diraih Kaskus,” lulusan multimedia & desain web dari Art Institute of Seattle dan master ilmu komputer dari City University of Seattle, AS ini memaparkan.

Pada awalnya, ia setiap hari bahkan hampir tiap jam, rutin ngetweet. Namun belakangan karena aktivitas yang semakin sibuk, ia semakin jarang ngetweet. Dijelaskannya, tidak ada strategi khusus untuk mendapatkan banyak respons. “Hanya saja setiap tweet, saya selalu coba menyisakan 20-25 karakter. Jadi waktu teman-teman mau me-reply untuk memberi komentar, pertanyaan saya masih ikut,” kata Chief Technology Officer PT Darta Media Indonesia (perusahaan yang menaungi Kaskus) itu. Juga, setiap ia ngetweet biasanya infonya bersifat umum dan sesekali update perkembangan tentang Kaskus.

Banyaknya pengikut di media sosialnya, maka pemilik merek tertarik menjadikannya sebagai duta merek produknya. “Namun produknya itu sebenarnya tidak pernah saya pakai. Jadi ya harus ditolak, karena kesannya seperti membohongi teman-teman yang jadi follower,” katanya memberi alasan.

Indra Lesmana,
Promosi Musik Lewat Media Sosial

Begitu bangun di pagi hari, hal rutin dilakukan Indra Lesmana adalah membuka akun Twitter-nya melalui BlackBerry. Ia ingin tahu apa yang sedang dikerjakan oleh teman-temannya sesama musisi. Sesekali memberi komentar. “Twitter is just fun,” kata musisi jaz ini.

Setelah itu, Indra membuka laptop untuk memastikan apakah kegiatannya sudah ter-update di akun Indra Lesmana Official Artist Page di Facebook (FB). Sampai di sana, tangannya beralih membuka situs MySpace dan Reverbnation. Di kedua situs itu, kegiatan musikalitasnya lebih terasah dan terkesan serius dibanding Twitter dan FB. Musisi yang memulai mengembangkan gaya jazz fusion-nya di Australia itu dapat berdialog dengan para musisi dunia. Ada banyak inspirasi musikalitas ia dapatkan. Selebihnya, ke mana pun Indra pergi, BlackBerry selalu dalam genggamannya. Ia bisa memperbarui status dan komentarnya di Twitter.

Anak bungsu pasangan Jack dan Nien Lesmana itu mengaku sudah sejak lama melek media sosial. Ia bersama istrinya, Hanny Lesmana adalah pecinta gadget dan sangat memperhatikan perkembangan media sosial. Tahun 2002, sudah meluncurkan website pribadi: www.indralesmana.com. Namun Indra termasuk tipikal pemilih. Tidak semua media sosial ia ikuti.

Kehadiran FB membuat Indra bisa merekatkan hubungan dengan para sahabat dan keluarganya. “Saya melihat akun ini sebagai tempat kami bisa berbagi yang lebih pribadi,” ungkapnya. Namun, sejak kemunculan akunnya itu, makin lama makin banyak penggemar yang ingin di-approve. Jumlahnya bahkan mencapai ribuan. Hal itu membuatnya merasa tidak lagi nyaman untuk bercerita mengenai hal pribadi di dalamnya.

“Makin lama kok banyak banget. Saya sampai harus membuang sekitar 8 ribu fans yang minta di-approve,” katanya. Berawal dari sana, Indra terpikir untuk menjadikan FB sebagai Official Artist Page. Sejak itulah, ia menggunakan FB sebagai tempat berbagi informasi mengenai kegiatan bermusiknya.

Tak lama kemudian muncullah Twitter. Awal tahun 2009, Indra mulai membuat akunnya, tetapi tidak langsung aktif. Ia mulai tergerak menggunakannya untuk mengetahui segala kegiatan yang dilakukan orang-orang terdekatnya via Twitter. Indra sendiri tak menyangka jumlah follower-nya akan melesat melampaui penggemar di FB. Kini jumlah follower Twitter-nya hampir 49 ribu orang, sedangkan penggemarnya di FB 16 ribu orang.

Indra sendiri menyadari bahwa media sosial semacam Twitter menjadi salah satu tempat untuk promosi. Namun menurutnya, itu terjadi tidak secara sengaja. “Twitter akhirnya buat saya menjadi sangat personal dan have fun. Bangun tidur saya ngetweet hal-hal yang spontan,” katanya.

Selain FB dan Twitter, ia juga menggunakan MySpace dan Reverbnation. Situs yang terakhir itu merupakan situs khusus musisi, yang mana fans Indra adalah musisi dari seluruh dunia. “Dengan Reverbnation, saya bisa mendengarkan musik yang dihasilkan oleh fans saya. Kalau saya menyukai, saya follow balik sama dia,” kata kelahiran Jakarta 28 Maret 1966 ini. Indra diundang menjadi anggota Reverbnation, salah satunya karena total jumlah penggemar akun FB dan Twitter-nya berada di peringkat tiga untuk musisi jaz dunia.

Kegiatan apa pun yang dilakukan Indra, terutama berkaitan dengan aktivitas bermusiknya akan di-share di Twitter. Dengan media sosial, kegiatan Inline Music (Indra Lesmana Independent Network), perusahaan yang dikelola bersama istrinya secara komersial untuk jasa rekaman dan pembuatan album, akan lebih cepat diketahui publik.

Wethandri Ramadhan,
Raup Fulus dari Jejaring Sosial

Meraih penghasilan dari jejaring sosial bukan isapan jempol belaka. Ini dibuktikan oleh Iwet Ramadhan. Melalui akun Twitter-nya @iwetramadhan, pria kelahiran Yogyakarta 24 Juli 1981 ini mampu meraup fulus yang lumayan. “Saya bisa menghasilkan uang setara dengan gaji lulusan S-2 luar negeri hanya dengan 10 kali tweet,” ungkapnya tanpa menyebut angka pasti.

Pemilik nama lengkap Wethandri Ramadhan ini mengaku dikontrak beberapa merek minuman, es krim, produk perawatan rambut dan teknologi informasi. “Tapi saya tidak bisa menyebut mereknya,” ujarnya. Aturan mainnya, pemilik merek meminta Iwet membuat “kicauan” tentang sebuah merek. “Status (tweet) tersebut bisa berupa promosi produk, teaser saja (tanpa menyebut merek sama sekali), atau bahkan bisa berbentuk cerita kegiatan sehari-hari yang dikaitkan ke produknya,” ungkap lulusan arsitektur Universitas Parahyangan ini. Tidak itu saja, Iwet juga dituntut kreatif mengkreasi ulang materi promosi. “Biasanya materi dari mereka (perusahaan) terlalu rapi. Saya kreasikan dengan bahasa saya sendiri,” ia menjelaskan.

Iwet dikontrak beberapa merek lantaran jumlah pengikutnya cukup banyak. Hingga tulisan ini dibuat, ada 24.408 orang yang menjadi follower @iwetramadhan. Namun, Iwet mengaku banyaknya follower bukanlah jaminan mendapat kontrak sebagai influencer/endorser sebuah merek. “Isi tweet atau statuslah yang biasanya menentukan karakter seseorang masuk atau tidak dengan identitas merek produk yang akan di-endorse,” katanya. Kecuali kalau tujuannya hanya untuk menciptakan hype produknya.

Bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku tidak punya strategi khusus untuk mendapatkan follower. Tak bisa dimungkiri, eksposur di media elektronik dan radio menentukan kepopuleran seseorang. “Kebetulan saya siaran pagi di 87.6 Hard Rock FM, mungkin ini sebabnya,” kata peraih Best Regional Announcer Broadcaster of the Year 2009 versi Free Magazine ini.

Banyaknya follower membuat Iwet leluasa belajar. “Saya jadi punya tempat bertanya tentang apa pun. Pastinya saya terbantu dengan follower yang saya miliki,” ucap duta PBB untuk kampanye Millennium Development Goals ini. Dan tentunya, jejaring sosial ini menjadi sumber penghasilan bagi dirinya.

Reportase: Rias Andriati, Sigit A. Nugroho Siti Ruslina, dan Wini Angraeni/Riset: Dian Solihati dan Ratu Nurul Hanifah

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *