Mengemas Ulang Kendaraan Lawas

Saat ini, semakin banyak saja kendaraan retro yang dipasarkan di Indonesia. Kendati segmennya terbatas dan harganya relatif tinggi, namun produk lawas tersebut tak sepi peminat. Malah, ada juga yang harus inden karena pesanan membludak.

Memang, kendaraan bergaya retro klasik sedang naik daun. Tak heran, para pemain otomotif global pun berlomba-lomba menghadirkan kembali model kendaraan zaman old dengan sentuhan fitur-fitur modern agar membuat nyaman dan aman bagi pengendaranya. Kendaraan yang disebut old-fashioned, retro-modern, neo-retro, atau apapun sebutannya telah memberi gairah baru di industri otomotif nasional.

Kendaraan retro ini seolah telah menghapus dahaga para pehobinya untuk beromatisme ke masa lalu, sekaligus juga memberikan alternatif pilihan produk di tengah kejenuhan varian kendaraan yang ada saat ini. Itu sebabnya, kendaraan retro ini tak hanya diminati kalangan orang berumur saja, namun banyak juga kalangan muda yang menyukai kendaraan retro ini.

Saat ini, setidaknya ada beberapa kendaran retro. Untuk jenis roda dua, di antaranya ada Honda Super Cub C125 yang dibandrol Rp 55 juta (on the road/OTR Jakarta); Kawasaki W175 ( Rp 29-31 juataan), W250 ( Rp 72 jutaan), W800 ( Rp 251 juta), Vespa Primavera (Rp 35 jutaan), Royal Enfield Classic (Rp 70 jutaan), Yamaha SR400 (Rp 90 jutaan), Cleveland CycleWerks (Rp 27 jutaan), Triumph Boneville T120 (Rp 330 jutaan), dan yang lainnya.

Sedangkan untuk roda empat yang berancang-ancang memasarkan produk retro adalah Suzuki Jimny. Kendati belum ada kabar kapan secara resmi mobil legendaris ini akan dipasarkan di Indonesia oleh PT Indomobil Sukses International (ISI). Terlebih setelah pemerintah pada September lalu mengumumkan akan menaikan pajak (PPh 22) 218 barang impor dari 2,5% menjadi 10%. Salah satu barang impor yang terkena kenaikan PPh itu adalah mobil utuh (completely built-up/CBU).

Namun mobil Jimny ini sempat dipamerkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Agustus 2018 di ICE BSD, Tangerang, Banten, yang menyita perhatian pengunjung. Di Jepang sendiri, mobil ini dibandrol sekitar Rp 300 jutaan dan kabarnya diserbu penggermar sampai inden mencapai 15 ribu pesanan.

Motor Retro Kawasaki

Saat ini, pemain yang sedang agresif memasarkan kendaraan retro adalah PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI). Bahkan produsen motor asal Jepang ini sudah memasarkan motor retro sejak 2014 dengan memasarkan motor dengan nama Estrela 250 cc yang dibandrol pada saat itu Rp 65 juta. Penjualan Estrela pun sebanyak 400 unit per tahun. Pada 2016, KMI juga meluncurkan Kawasaki W800 yang dibandrol Rp 251 juta, Sejatinya, motor varian W ini sudah diproduksi di Jepang sejak 1966.

Michael C.Tanadhi, Department Head Sales & Promotion, Marketing & Sales Division KMI

Michael C.Tanadhi, Department Head Sales & Promotion, Marketing & Sales Division KMI

Michael C.Tanadhi, Department Head Sales & Promotion, Marketing & Sales Division KMI menjelaskan setelah Estrela dipasarkan banyak masukan kepada KMI kalau produk retro Kawasaki tergolong relatif mahal. “Dengan harga motor retro Rp 65 juta dirasa cukup mahal karena biasanya penggemar retro akan memodifikasi lagi motor retronya,” ujar Michael.

Dengan adanya masukan itu, KMI kemudian membuat survei konsumen di Indonesia untuk mendengarkan suara konsumen mau apa dengan produk retro. Hal ini juga sejalan karena tren motor retro juga sedang marak di tingkat global terutama di Eropa yang cukup kental produk retronya. Dalam survei tersebut juga muncul suara konsumen kalau mereka ingin motor retro tapi ingin harganya yang terjangkau.

Semenjak survei tersebut, KMI mencoba mendesain motor retro hingga pada November 2017 diluncurkanlah Kawasaki W175. Motor W175 yang dibuat di pabrik KMI di Cibitung Bekasi ini dikhususkan sebagai motor retro yang dipasarkan di Indonesia dan juga di kawasan Asia Tenggara. Untuk peluncuran globalnya dilakukan di Indonesia pada November 2017. Setelah itu baru diluncurkan di Thailand dan Filipina. Saat ini, Kawasaki W175 dibandrol sekitar Rp 29,8 juta – Rp 31,3 juta (OTR Jakarta). Bersamaan dengan peluncuran W175 pada tahun maka Kawasaki Estrela pun berganti nama menjadi W250 yang dijual Rp 72 juta (OTR Jakarta).

Nilai lebih dari W175, menurut Michael, adalah masih menggunakan karburator agar mudah dimodifikasi. Kemudian, secara tampilan, W175 merupakan sesuatu yang baru di Indonesia. Untuk membuktikan kalau W175 mudah dimodifikasi maka KMI sebelum secara resmi meluncurkan W175 pada 2017 juga melakukan servei ke berbagai rumah modifikasi motor. Hingga akhirnya, KMI menggandeng dua rumah modifikator, yaitu Katros Garage dan Carburator Springs untuk memodifikasi W175 sebelum W175 resmi diluncurkan. Maka saat W175 tersebut resmi diluncurkan pada 2017, kedua motor W175 hasil modifikasi kedua rumah modifikator motor tersebut ditampilkan ke publik. Saat ini, kedua motor modifikasi tersebut dipajang di kantor KMI di Jakarta. Bahkan baru-baru ini, Katros Garage telah memodifikasi W175 pesanan Presiden Jokowi.

Lalu bagaimana strategi KMI memasarkan motor retro? Menurut Michael, saat pertama kali W175 diluncurkan, semua jalur media komunikasi seperti media cetak dan media digital termasuk media sosial digunakan KMI dengan melakukan media blast untuk mempromosikan motor retro tersebut. Berbagai informasi dan iklan peluncuran produk W175 pun ditampilkan di berbagai media di atas. KMI sendiri dipercaya Kawasaki global untuk membuat video produk global yang ditayangkan di Thailand dan Filipina.

Sebelumnya, KMI juga membuat website sendiri sebagai teaser yang bernama Absolute Respect. Nama website tersebut sekaligus menjadi tagline motor resto Kawasaki yang menjunjung tinggi upaya saling respek dan persaudaraan (brotherhood). Untuk media sosial KMI ada Instagram, Twitter, Facebook, dan YouTube dengan alamat semuanya adalah @kawasaki_indonesia.

Kemudian 2-3 minggu setelah acara peluncuran W175 maka dilakukan test ride. Aktivasi ini tidak hanya bagi para jurnalis tapi diundang juga para Youtuber untuk merasakan sensasi mengendarai Kawasaki W175. Kemudian pada Mei 2018, KMI membuat acara city touring atau berkendara bareng bernama Sunday Morning Riding.

Diakui Michael, memasarkan motor retro sangat berbeda dengan memasarkan motor biasa atau sport. Seperti dilihat dari karakater konsumennya juga beda. Untuk konsumen retro adalah mereka yang lebih mementingkan lifestyle dan senang hangout seperti nongkrong ke café, dsb. Konsumen W175 juga tidak hanya kalangan tua namun tak sedikit juga konsumennya berusia muda yang ingin tampil beda.

Bicara kinerja, total penjualan W175 dari awal diluncurkan (November 2017) hingga Agustus 2018 mencapai 11 ribu unit atau rata-rata sekitar 1500 unit per bulan. Varian yang paling diminati adalah yang berwarna hitam dan silver. Sedangkan yang berwana putih (berharga paling bawah) banyak diminati oleh para modifikator. “Target kami dalam setahun W175 bisa terjual 12 ribu. Ini dari Januari – Agustus 2018 sudah terjual 9700 unit. Kami optimistis penjualan W175 akan melebihi target,” ujar Michael. Dengan membludaknya pemintaan konsumen, saat ini terjadi inden beberapa bulan untuk bisa mendapatkan W175.

Moncernya penjualan W175 menyumbang 20% terhadarp total penjualan KMI yang mencapai 7500 per bulan. Sekarang KMI memasarkan 37 varian motor seperti motor sport, trail, dan termasuk retro. “Saat ini, W175 merupakan motor retro yang jadi backbond baru bagi KMI,” ujar Michael yang bergabung dengan KMI sejak 2001 ini.

Sejatinya ada cerita menarik sekaligus tantangan bagi KMI saat awal akan membuat W175. Saat itu, para dealer Kawaski di Indonesia tidak terlalu optimistis dengan masa depan dan penjualan W175. Karena alasan inilah, KMI pun hanya menargetkan penjualan W175 sebanyak 12 ribu per tahun. Tapi nyatanya sekarang permintaannya membludak “Makanya saat ini terjadi inden,” kata Michael sambil tersenyum.

Saat ini, diler Kawasaki di Indonesia ada 232 outlet dari Aceh sampai Merauke. Semua diler adalah rekanan KMI karena KMI hanya sebaga pabrikan. Dari jumlah itu, diler utama (main dealer) ada 50 outlet, subdiler 150 outlet, dan direct dealer 32 outlet. Direct dealer merupakan diler yang mendapatkan produk langsung dari KMI dan jenis diler ini tidak boleh memiliki subdiler. “Jadi untuk sparepart tidak ada masalah karena W175 masih menggunakan karburator sehingga bisa dilakukan di semua diler yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ke depan, KMI akan menambah varian yang retro untuk memperlebar cengkraman pasarnya. Malah, akan ada varian retro baru dengan basis mesinnya menggunakan W175. “Intinya setelah penjualan W175 tembu2 ribu maka varian retro baru akan diluncurkan,” cetus Michael tanpa mampu menjelaskan lebih lanjut.

Sang Legend Honda Super Cub, Hadir Lagi

Selain Kawasaki, yang juga saat ini agresif memasarkan produk retro adalah PT Astra Honda Motor (AHM) melalui Honda Super Cub C125. Memang, bagi angkatan Babe Gue, motor Honda Super Cub atau lebih dikenal dengan nama Honda Bebek tidaklah asing. Motor yang lahir pada 1958 ini mulai masuk ke Indonesia pada 1961 dengan varian Honda Super Cub C50. Di Indonesia, yang paling populer adalah Honda Super Cub C70 atau lebih dikenal dengan Honda Bebek 70 yang saat ini, meskipun langka, namun kadang masih ditemui di jalan.


Menurut Ahmad Muhibbuddin, General Manager Corporate Communication AHM, pihaknya mulai memasarkan Super Cub C125 sejak diluncurkan pertama kali pada ajang GIIAS 2018. Saat ini, Honda Super Cub hadir dengan tiga pilihan warna, yaitu Pearl Nebula red, Pearl Niltava blue, dan Pearl Shining Black. Super Cub C125 tersebut dipasarkan dengan harga Rp 55 juta/unit (OTR Jakarta).

Honda Super Cub yang saat ini dipasarkan di Indonesia diimpor AHM dari Thailand. Produk ini memiliki keunggulan dari produk sebelumnya Super Cub C110. Antara lain telah menggunakan mesin 125 cc, 4 stroke-air cooled SOHC, desain yang timeless serta dilengkapi fitur-fitur canggih seperti All LED lighting system, kombinasi digital panel meter, dan Honda smart key system. “Desainnya yang timeless serta teknologi yang canggih dan modern membuat motor ini disukai banyak konsumen kami di Tanah Air,” ujar Muhibbuddin, panggilan Ahmad Muhibbuddin.

Untuk strategi memasarkannya, sejauh ini AHM melakukan kolaborasi dalam beberapa kegiatan untuk mengenalkan Super Cub C125 kepada masyarakat. Misalnya melalui ajang Custom Collaboration yang merupakan ajang bertemunya para pegiat kreatif lokal dan lintas komunitas. “Namun untuk ke depannya, mungkin kami akan menjajaki langkah promosi lain, baik secara digital maupun komunitas mengingat pertumbuhan kultur dari komunitas atas segmen ini semakin berkembang,” ujarnya yakin. Saat ini, sudah ada konsumen yang inden sekitar 300 unit Super Cub C125.


Dalam pandangan Yuswohady, pengamat pemasaran, di dunia ini sering terjadi paradoks. Ketika dunia semakin canggih dengan serba digital, terkadang ada orang yang justru mendambakan sebaliknya, ingin kembali ke masa silam untuk sekedar bernostalgia atau kangen dengan masa lalu karena sudah jenuh dengan kondisi saat ini. “Setelah jalan 15 tahun terakhir dengan digitalialsi, sekarang muncul kekangenan yang bersifat fisik. Termasuk kendaraan retro ini yang secara fisik menampilkan sesuatu yang unik sehingga memiliki diferensiasi dengan produk yang kebanyakan (mainstream) sekarang ini,” ujar Siwo, panggilan Yuswohady.

Itu sebabnya, karena kendaraan retro menampilkan sesuatu yang unik, maka bisa diminati tidak hanya bagi konsumen tua yang pernah menikmati produk tersebut dulu tapi juga oleh orang muda yang sudah jenuh dengan produk kendaraan yang sudah ada dan ingin tampil beda. Terlebih meski retro, namun rata-rata produknya dilengkapi dengan fitur-fitur berteknologi canggih agar pengendaranya merasa nyaman dan aman. Hal ini terjadi pada Honda Super Cub C125, meski tampangnya jadul tapi fitur-fiturnya tergolong modern. Makanya harganya relatif tinggi untuk sekelas bebek.

Nah, bagi produsennya pun perlu jeli melihat peluang ini. Karena diferensiasi produk retro itu sangat kuat sehingga bisa menjadi brand driven seperti halnya Apple, apapun yang dikeluarkannya akan digandrungi pasar. Jadi produsennya harus selalu menjadi yang pertama untuk menciptakan produk retro. Pasalnya kalau pemain-pemain lain sudah membuat produk yang maka produk tersebut tidak akan menarik lagi, karena sudah menjadi produk yang biasa. “Jadi dalam membuat produk retro harus menjadi yang pertama atau selalu menadi inovator. Namun kalau sudah menjadi produk mainstream maka gold factor-nya akan hilang,” ungkapnya memberi masukan.

Yang pasti, untuk saat ini produk retro tengah naik daun sehingga para produsen perlu memanfaatkannya dengan menghadirkan produk retro yang bernilai untuk memuaskan pelanggannya.***

—————————————
Strategi Honda Memasarkan Motor Retro
• PT Astra Honda Motor (AHM) mulai memasarkan Honda Super Cub C125 sejak diluncurkan pertama kali pada ajang GIIAS 2018.
• Honda Super Cub yang hadir dengan tiga pilihan warna, yaitu Pearl Nebula red, Pearl Niltava blue, dan Pearl Shining Black, dipasarkan Rp 55 juta/unit (OTR Jakarta).
• Honda Super Cub yang saat ini dipasarkan di Indonesia diimpor AHM dari Thailand.
• Meski bertampang jadul, produk ini mengusung teknologi yang canggih dan modern
• Strategi memasarkannya, sejauh ini AHM melakukan kolaborasi dalam beberapa kegiatan untuk mengenalkan Super Cub C125 kepada masyarakat. Misalnya melalui ajang Custom Collaboration yang merupakan ajang bertemunya para pegiat kreatif lokal dan lintas komunitas.
• Ke depannya, AHM akan menjajaki langkah promosi lain, baik secara digital maupun komunitas mengingat pertumbuhan kultur dari komunitas atas segmen ini semakin berkembang.
• Dengan strateginya itu, saat ini, sudah ada konsumen yang inden sekitar 300 unit.

—————————————
Strategi Kawasaki Memasarkan Motor Retro
• PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) sudah memasarkan motor retro Estrela 250 cc sejak 2014 dengan harga Rp 65 juta. Estrela yang berganti nama menjadi W250 ini penjualannya 400 unit per tahun.
• Pada 2016, KMI meluncurkan Kawasaki W800 yang dibandrol Rp 251 juta, Sejatinya, motor varian W ini sudah diproduksi di Jepang sejak 1966.
• Pada 2017, KMI meluncurkan Kawasaki W175 sebagai hasil survei konsumen yang menginginkan motor retro dengan harga terjangkau. Harganya Rp 29,8 juta – Rp 31,3 juta.
• W175 yang basisnya di Indonesia sudah diekspor ke Thailand dan Filipina
• Mempromosikan W175 menggunakan media cetak dan media digital termasuk media sosial.
• Dilakukan test ride bagi para jurnalis tapi diundang juga para Youtuber.
• membuat acara city touring bertajuk Sunday Morning Riding pada Mei 2018.
• W175 dipasarkan melalui diler Kawasaki di Indonesia yang berjumlah 232 outlet dari Aceh sampai Merauke.
• Dengan strateginya itu, total penjualan W175 dari awal diluncurkan (November 2017) hingga Agustus 2018 mencapai 11 ribu unit.

Penulis: Dede Suryadi (IG & Twitter : @ddsuryadi)
Fotografer: Wisnu Rahardjo & Riset: Hendi Pradika

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.