Mendulang Gain dari CPO yang Kembali Bersinar

Harga CPO kembali unjuk gigi dengan mencapai harga tertinggi. Sejumlah instrumen investasi berbasis komoditas ini pun bergairah dan jadi incaran investor untuk mendulang untung.

Dede Suryadi

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terus menguat
pada 2010. Kontrak CPO untuk pengiriman Januari 2011 di bursa berjangka Malaysia atau Malaysia Derivatives Exchange (MDE) pada awal November ini menyentuh harga tetinggi sejak Maret 2008, yakni RM 3.106 atau US$ 1.006 per ton.

Penyebab CPO meraih harga tertinggi adalah naiknya harga minyak mentah hingga US$ 84 per barel. Seperti kita ketahui, selama ini harga minyak mentah menjadi acuan bagi harga komoditas termasuk CPO. Faktor lain yang mengerek tingginya harga CPO adalah melemahnya US$ menjelang pengumuman stimulus Amerika Serikat berupa rencana pelonggaran moneter yang dilontarkan Ben Bernake, pemimpin The Federal Reserves. Kebijakan ini berupaya menekan bunga obligasi US$ berjangka pendek, dan berimbas pada kerontokan nilai tukar the Greenback.

Selain itu, faktor kecemasan terhadap cuaca yang berimbas pada turunnya produksi CPO serta pertumbuhan permintaan dari Cina, India dan Pakistan terhadap CPO, juga turut menaikkan harga komoditas kelapa sawit ini. Bahkan, Departemen Pertanian AS mengeluarkan prediksi bahwa cadangan minyak kedelai dan kelapa sawit pada 2011 akan turun 12% akibat permintaan dari Cina yang tumbuh 11%. Angka penurunan ini merupakan angka terendah selama 17 tahun terakhir.

Nah, dengan kondisi tersebut, tak pelak investasi berbasis CPO semakin menarik buat mendapatkan gain (keuntungan). Seperti di bursa saham, pergerakan harga saham-saham berbasis CPO sepanjang 2010 sangat mengesankan. Secara absolut, kenaikan harga saham itu selaras dengan kenaikan harga CPO di pasar internasional. Tentu saja, hal ini karena CPO termasuk dalam kategori substitusi bahan bakar atau energi alternatif, sehingga naik-turunnya harga saham emiten yang berbasis CPO sangat terpengaruh oleh sejumlah faktor global dan domestik.

Mari kita tengok saham CPO di Bursa Efek Indonesia dari awal tahun hingga akhir Oktober 2010. Saham Astra Agro Lestari (AALI) pada 4 Januari 2010 nilainya Rp 22.550 dan naik menjadi Rp 23.850 pada 29 Oktober 2010. Selama periode tersebut saham AALI sempat menyentuh harga tertinggi Rp 26.050. Lalu saham London Sumatra Indonesia (LSIP) yang bernilai Rp 8.350 per 4 Januari naik menjadi Rp 8.500 per 29 Oktober 2010 dengan harga tertinggi Rp 12 ribu.

Kemudian, saham Sampoerna Agro Lestari (SGRO) dari Rp 2.750 jadi Rp 2.825 dan harga tertingginya Rp 3.150. Saham Gozo Plantations (GXCO) dari Rp 230 jadi Rp 235 dan harga tertingginya Rp 470. Saham Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) dari Rp 580 jadi Rp 590 (harga tertinggi Rp 690). Dan, saham SMART Corporation (SMAR) dari Rp 2.250 tetap Rp 2.250 di akhir Oktober dengan harga tertinggi menyentuh Rp 6.650.

Menurut Hendra Bujang, pengamat pasar modal, saham berbasis CPO dapat dikategorikan dua kelompok, yaitu saham untuk trading atau day to day and speculative trading (short-term) dan saham untuk investasi (long-term or based on momentum).

Pertama, yang masuk kategori saham trading contohnya UNSP, SGRO dan GZCO. Menurutnya, volatilitas pergerakan saham ini tergolong sangat tinggi sepanjang tahun 2010, sehingga membuka spread trading yang sangat besar. Karakteristik saham jenis ini sangat cocok bagi investor atau trader yang menyukai speculative trading/aggressive trading yang mencoba melakukan model transaksi buy low dan sell high.

“Perhatikan timing atau momentum dan volume di balik pergerakan aktif saham-saham tersebut,” katanya. Jika volume perdagangan sangat kecil (tipis), lebih baik lakukan model transaksi hit & run secepat mungkin. Namun, jika volume yang terjadi sangat besar (tebal), model transaksi buy and hold, dapat diaplikasikan sembari menunggu momentum profit taking.

Kedua, saham investasi seperti AALI, LSIP, SMAR dan GZCO. Volatilitas pergerakan saham tersebut tergolong sangat tinggi terkait dengan timing yang ada. Namun, secara absolut, kinerja fundamental ketiga saham (AALI, LSIP dan SMAR) itu tergolong cukup solid, meskipun terdapat sejumlah isu negatif yang menerpa SMART terkait isu lingkungan hidup. Hanya saja, sebagai catatan, isu itu masih perlu pembuktian lebih detail, mengingat kerap kali terjadi konflik kepentingan di balik isu lingkungan hidup yang pada akhirnya mengacu pada persaingan bisnis yang tidak sehat antarsesama kompetitor. Untuk GZCO, sebagai pemain baru yang relatif muda di sektor perkebunan, masih harus membuktikan kinerja fundamental yang bagus ke depan, walaupun secara absolut, harga sahamnya telah menunjukkan kinerja yang sangat bagus sepanjang periode awal Januari hingga Oktober 2010.

Kinclongnya saham CPO di bursa menarik minat Paul Heru Utomo kembali mengoleksi saham agro ini. “Tahun depan saya akan membeli lagi saham CPO,” katanya. Saham yang ia akan bidik adalah SGRO dan LSIP. “Kalau saham AALI sudah terlalu mahal.” Menurutnya, SGRO dan LSIP berkinerja positif selama ini tetapi harganya masih rasional.

Sejatinya, tahun lalu Paul masih memiliki saham AALI, tetapi ia menjualnya di saat harganya tinggi. Ia mengakui, saham AALI memang berkinerja menggembirakan. Sayang, ia lupa berapa keuntungan yang telah ia petik dari saham emiten Grup Astra itu. “Meski berkinerja bagus, gain AALI kecil,” katanya mencoba mengingat.

Gairah dan minat investor bertransaksi pada kontrak berjangka CPO di bursa berjangka Tanah Air juga meningkat. Seperti di bursa Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia), volume transaksi kontrak berjangka CPO pada Oktober lalu mencapai di atas 2 ribu lot sehari. Bahkan, volume transaksi kontrak berkode CPOTR ini sempat menembus 3.850 lot sehari.

Faktor yang mendasari transaksi tersebut tinggi karena harga CPO yang fluktuatif, sehingga memicu naiknya volume transaksi. Akhir Oktober lalu, harga CPO di MDE cenderung naik menyentuh rekor US$ 992 per ton. Namun, penguatan ini diselingi koreksi karena rebound dolar AS dan koreksi minyak mentah.

Pergerakan serupa juga terjadi di dalam negeri. Masih di akhir Oktober itu, kontrak CPOTR untuk pengiriman Januari 2011 bertengger di Rp 8.875 per kg. Namun sempat turun ke Rp 8.750, kemudian melaju ke level tertinggi di Rp 8.900. Selain itu, jumlah pialang yang aktif bertransaksi bertambah dari semula 10 pialang menjadi 15 pialang saat ini.

Donny Wahyudi, Vice President PT Real Time Futures, mengungkapkan, gairah dan minat investor masuk ke komoditas CPO sudah terlihat pascakrisis global. Pasalnya, di awal krisis, beberapa investor menunda atau membatalkan rencana masuk ke sektor ini, tetapi kini setiap bulan selalu ada penanaman modal asing (PMA) yang masuk, termasuk di industri CPO. Apalagi pengembangan CPO nasional didukung grand strategy pemerintah yang dilaksanakan sampai 2020, yang mana produksi RI ditargetkan dua kali lipat dari saat ini, mencapai 40 juta ton. “Kebijakan tersebut sudah mendapat dukungan dari para pemangku kepentingan, baik kalangan pemerintah maupun pengusaha,” katanya.

Pemerintah RI pun, melalui bursa komoditas, harus berperan aktif menjaga stabilitas harga CPO, karena selama ini kita masih sangat bergantung pada spekulan yang berorientasi mencari keuntungan maksimum. Paling tidak, penentuan harga CPO bisa menjamin margin keuntungan yang layak bagi produsen. Selain itu, pemerintah perlu memberikan insentif fiskal bagi pelaku industri hilir terkait CPO. Dengan demikian, industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri tumbuh dengan baik

Yang pasti ke depan, kebutuhan CPO dunia terus bertambah seiring naiknya harga minyak dunia. CPO dinilai mampu merespons kebutuhan bahan bakar di masa mendatang karena persediaannya bisa diperbarui terus-menerus. Pemenuhan kebutuhan bahan bakar tidak bisa hanya bergantung pada sumber daya minyak bumi, karena jumlahnya kian terbatas. Perhatian dunia kini mengarah pada energi alternatif, seperti biodiesel. “Komoditas CPO sangatlah cerah ke depan,” kata Donny.

Demikian juga investasi berbasis komoditas ini masih akan menguntungkan. “Hanya saja, investor tetap harus mewaspadai lima hal,” Hendra menimpali. Kelima hal itu, pertama, krisis ekonomi dunia akan pulih atau berlanjut? Setiap pilihan itu memberikan dampak negatif dan positif yang berbeda-beda bagi investasi pasar modal khususnya saham. Kedua, tingkat suku bunga yang berpotensi naik, khususnya tahun 2011 mengingat laju inflasi saat ini relatif cukup tinggi.

Ketiga, arus uang masuk dan keluar dunia khususnya Indonesia. Jika terjadi cash out flow dalam jumlah besar dari pasar modal yang ditandai dengan anjloknya IHSG secara signifikan dan menguatnya denominasi US$ terhadap rupiah, terdapat kecenderungan bahwa investor global (hedge fund, trust fund dan fund manager) melakukan exit strategy untuk mencari alternatif investasi baru atau kembali ke AS dan Eropa. ”Jika ini terjadi, lakukan segera profit taking atau cut loss,” ujarnya memberi masukan.

Keempat, potensi penurunan harga minyak dunia dan mineral lainnya, mengingat secara teknis harga komoditas energi, mineral dan pertambangan telah cukup tinggi (overbought) dan berpotensi terkoreksi sesaat dalam waktu dekat. Kelima, cermati kinerja keuangan masing-masing emiten, corporate action dan ekspektasi atas dampaknya.

Riset: Sarah Ratna Herni

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *