Lapis Bogor, Ikon Baru Kota Hujan

Nyali kewirausahaan Rizka Wahyu Ramadhona teruji. Gagal berbisnis bakso, ia banting setir mengembangkan bisnis lain. Masih seputar makanan, Rizka yang hanya bermodal Rp 500 ribu, beralih mengembangkan kue lapis. Beda dari lapis umumnya yang berbahan dasar terigu, Lapis Bogor Sangkuriang produksi Rizka menggunakan bahan baku talas. “Ya, kan talas banyak dijumpai di daerah Bogor,” katanya ringan memberikan alasan.

Rizka Wahyu Ramadhona, Pemilik Lapis Bogor Sangkuriang

Rupanya peruntungan perempuan kelahiran 15 Juni 1984 itu ada di sini. Tak sampai satu tahun berjalan, Lapis Bogor Sangkuriang sudah dibanjiri pembeli. Sejak buka Juni 2011, permintaan terus membludak. Pembeli antre dan dibatasi hanya tiga boks per orang, kecuali jika sudah pesan tiga hari sebelumnya.

Tak heran Lapis Bogor Sangkuriang menjadi ikon baru makanan khas asal Kota Hujan. Kini ada tiga gerai telah dibuka, yakni di Jl. Pajajaran, Jl. Sholeh Iskandar, dan di Rumah Makan Raffles Puncak. “Target tahun ini kami mau buka gerai di empat titik di Bogor,” kata Rizka yang menampilkan warna khas berwarna ungu kuning di setiap gerainya.

Rencananya, untuk gerai terbaru sekaligus akan menjadi pusat tempat produksi. Diakuinya, selama ini pihaknya memang terkendala masalah kapasitas produksi. “Kami belum bisa memenuhi semua permintaan, sehingga banyak orang yang komplain,” ujar mantan Manajer Proyek Siemens Indonesia ini.

Padahal Rizka sudah mempekerjakan lebih dari 100 karyawan di tiga cabangnya yang ada sekarang. Dari jumlah itu, kebanyakan karyawan di bidang produksi. Mereka bekerja dalam tiga shift selama 24 jam setiap harinya. “Sekarang ini produksinya hanya di gerai Pajajaran yang tidak terlampau besar,” ungkap lulusan S-1 Teknik Elektro ITS dan S-2 Manajemen Bisnis IPB ini.

Nah, di tempat baru nanti, Rizka berharap kendala produksi akan sangat berkurang. Ia berharap, datangnya mesin-mesin baru dan renovasi ketiga gerainya dapat meningkatkan kapasitas produksi.

Sejauh ini Rizka belum tertarik membuka gerai di kota lain. Kalau pun ada, Rizka berencana membuat merek yang berbeda. Alasannya agar Lapis Bogor Sangkuriang tetap kuat menjadi oleh-oleh khas Bogor. “Ya, kami jualan hanya di Bogor,” ucap Rizka yang mampu menjual 3.400 boks bolu lembut ini seharga Rp 25 ribu/boks/hari.

Diakuinya, keberhasilan produknya sangat terbantu oleh media sosial yang efektif mengomunikasikan mereknya. “Di media online kami punya blog, situs. Yang paling efektif lewat Twitter dan Facebook. Karena dari dua situs jejaring sosial itu, kami banyak dapat masukan,” ungkapnya.

Sebelumnya Rizka juga menyebar brosur dan melakukan pemasaran gerilya kepada orang-orang yang dikenalnya. Terutama pada saat awal bisnis ini dirintis. Lalu ia pun rajin menjadi sponsor acara. Hingga akhirnya cukup banyak media yang meliput termasuk pernah diliput sejumlah TV nasional.

Jika sekarang makin banyak follower, Rizka tak khawatir. Rizka mengaku siap dari sisi kualitas produk, inovasi, dan manajemen. Justru ia dan suami menyambut positif kompetisi sehingga mendorong mereka untuk lebih agresif mengembangkan pasar. “Justru itu bagus buat kami sehingga kami tidak bersantai-santai, tapi kami harus berpikir untuk terus menjaga kualitas dan berinovasi. Kami juga akan keluarkan produk yang benar-benar baru,” katanya tanpa mau memberi bocorannya.

Nah, kalau ke Bogor, tak lengkap kalau tak menyambangi outlet Lapis Bogor Sangkuriang.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SWA dan SWAOnline pada November 2013

Spread the love

4 comments for “Lapis Bogor, Ikon Baru Kota Hujan

  1. Esther Prasetya
    October 17, 2017 at 2:07 am

    Jadi pengen Lapis Bogor euy 🙂

    • October 17, 2017 at 8:18 am

      Nuhun Kang. Dah di-share.tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.