Komunitas Pilihan Profesional

Banyak komunitas yang menjadi bidikan para profesional dan pemasar. Karena dianggap ampuh mengerek popularitas merek, komunitas diajak bekerja sama di bidang bisnis dan sosial. Komunitas mana saja yang paling banyak dicari?

Tak terhitung berapa banyak komunitas yang berdiri di negeri ini, tetapi tak semua menarik untuk digandeng para profesional dan pemasar. Maklumlah, profesional dan pemasar pun pasti memiliki pertimbangan dalam menjalin hubungan dengan komunitas. Selain demi kepentingan (kemajuan) produk atau merek, memilih komunitas juga sangat tergantung pada karakter dan chemistry.

 

Nah, seperti tahun lalu, bersamaan dengan penyelenggaraan survei komunitas Majalah SWA dan Prasetiya Mulya, tim riset SWA mengadakan survei Indonesia Most Recommended Consumer Community 2011. Riset ini menyurvei kalangan profesional dan pemasar tentang komunitas mana yang mereka rekomendasikan untuk diajak bekerja sama. Rekomendasi tersebut dilihat dari penilaian mereka terhadap komunitas yang mereka ketahui atau berdasarkan pengalaman mereka yang pernah bekerja sama dengan sebuah komunitas. Semakin tinggi nilai total akhir suatu komunitas, semakin baik potensi komunitas tersebut untuk diajak bekerja sama.

Survei dilakukan dari awal sampai pertengahan Oktober 2011 terhadap 200 profesional dan pemasar di Jakarta, meliputi manajer merek, manajer komunikasi pemasaran, serta manajer promosi dan event dari 17 industri seperti produk konsumer, manufaktur, keuangan, perbankan, asuransi, rokok, farmasi, transportasi, pertambangan, telekomunikasi dan TI, otomotif, tempat rekreasi dan olah raga, properti, pendidikan, serta elektronik. Selain level itu, ada juga level general manager, direktur, hingga chief executive officer. Pengambilan data dilakukan melalui telesurvei (telepon) dengan menggunakan kuesioner terstruktur.

Untuk memberi penilaian terhadap komunitas, digunakan tujuh atribut (parameter) untuk mengukurnya. Pertama, atribut soliditas komunitas seperti anggota yang kompak serta telah memiliki logo/identitas, AD/ART dan alamat resmi. Kedua, manfaat bagi anggota seperti wadah beraktivitas, solusi, membangun jejaring, dan akses. Ketiga, kepedulian terhadap lingkungan dan sosial seperti melakukan aksi penghijauan dan donor darah.

Keempat, kehebatan di bidangnya, seperti komunitas X diakui kehebatannya di bidang X di antara komunitas sejenis. Kelima, kesediaan menerima hal baru seperti hadirnya produk dengan teknologi baru, ide dan pengetahuan. Keenam, kemampuan bekerja sama (profesionalisme dalam bekerja sama). Ketujuh, kontribusi terhadap merek, misalnya mendukung peningkatan penjualan, loyalitas pelanggan, brand building. Bagaimana hasil surveinya?

Komunitas yang paling direkomendasikan dan bertengger di posisi teratas lagi-lagi Bike to Work (B2W). Komunitas pencinta bersepeda ke tempat kerja ini sudah tiga tahun berturut-turut berada di posisi pertama dan belum tergoyahkan. Pada survei tahun ini, B2W mencetak skor tertinggi, 7,60. Bahkan, pada tujuh parameter yang diukur, komunitas ini mencetak skor tertinggi di antara komunitas lain.

Wajar, komunitas yang kini telah berusia enam tahun ini bertengger di posisi wahid karena memang rajin mengadakan acara dengan menggandeng sejumlah perusahaan sebagai sponsor. Misalnya, yang terbaru, perayaan Bike to Work Day 2011 yang digelar besar-besaran dan dilakukan secara serentak di 160 kota di mana B2W berada. Dalam acara ini, ada pemberian 1.000 unit sepeda kepada anak-anak kurang mampu di seluruh wilayah Indonesia, donor darah, kemah komunitas sepeda, bike rally dan panggung musik.

Yang menarik dalam survei kali ini, terjadi pergeseran pemenang untuk urutan kedua dan seterusnya. Ada komunitas yang naik dan turun peringkat, ada juga yang terlempar tak masuk nominasi lagi. Adapun komunitas yang masuk 10 besar survei 2011 ini secara berurutan adalah B2W, Kaskus, Bogasari Baking Centre, Forum Pembaca Kompas, id-BlackBerry, Jalan Sutra, Yaris Groovy Nation, Sahabat Nestle, Milanisti Indonesia, dan Avanza Xenia Indonesia Club.

Bandingkan dengan survei yang sama tahun 2010, sepuluh besarnya adalah B2W, Nippon Club, Honda Tiger Mailling List, Harley Davidson Club Indonesia, Bangomania, Kaskus, Id-Blackberry, Forum Pembaca Kompas, Innova Community dan Komunitas Historia Indonesia. Dengan demikian, terlihat komunitas mana yang tetap direkomendasikan dan mana yang tak lagi direkomendasikan oleh para profesional.

Dari perbandingan survei itu terlihat ada komunitas yang naik peringkat seperti Kaskus dari posisi 6 tahun lalu menjadi posisi 2 di tahun ini. Lalu, Forum Pembaca Kompas dari nomor 8 menjadi nomor 4. id-Blackberry dari nomor 7 jadi nomor 5. Sementara itu, yang terjembab adalah Nippon Club dari nomor 2 di 2010 dan pada survei tahun ini tidak masuk nominasi. Nasib serupa juga dialami Bangomania,  dari posisi 5 dan tahun ini tak masuk nominasi. Adapun Honda Tiger Mailling List dan Harley Davidson Club Indonesia tahun lalu masuk lima besar dan tahun ini harus puas di 20 besar.

Berdasarkan hasil survei, diketahui pula bahwa atribut terkuat yang dimiliki semua komunitas adalah soliditas komunitas, manfaat komunitas anggota dan kepedulian sosial/lingkungan. Ketiga parameter ini selalu terkuat dalam survei yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Temuan tersebut tidak mengejutkan. Pasalnya, profesional mau berkumpul di komunitas tersebut umumnya karena didasari kesamaan kepentingan dan keinginan mendapatkan manfaat.

Selain itu, berdasarkan hasil survei, komunitas yang hidup di Indonesia biasanya merupakan kumpulan pelanggan atau pengguna poduk/merek/perusahaan tertentu. Malah tak jarang komunitas tersebut merupakan kepanjangan tangan perusahaan. Akan tetapi, ada juga komunitas independen, tidak menginduk pada produk tertentu, tetapi cukup berpengaruh dan besar, seperti B2W dan Kaskus.

Ada pula komunitas independen yang menjadi tambang uang bagi anggotanya, tak lagi sekadar menyalurkan hobi. Misalnya, Masyakarat Komik Indonesia (MKI), yang pernah bekerja sama dengan Telkomsel menjadi penyedia konten digital yang bisa diunduh dari telepon genggam. Selain itu, ada sejumlah perusahaan yang memesan komik sesuai dengan produk mereka. Salah satunya, produsen susu Milo. Komik yang berukuran kecil itu diselipkan di dalam kotak susu. “Itu semua yang membuat banyak studio komik hidup,” kata Rizqi Rinaldy Mosmarth, Ketua MKI 2009-12.

 

 

Pofil Komunitas

Kaskus:

Berupaya Lakukan Kerja Sama Berkelanjutan

Forum komunitas dunia maya Kaskus didirikan pada 6 November 1999 oleh Andrew Darwis, Ronald Stephanus dan Budi Dharmawan. Namun, kedua rekan Andrew itu mundur sebelum Kaskus menjadi PT pada 2008 dengan nama PT Darta Media Indonesia di mana Ken Dean Lawadinata menjadi chief executive officer (CEO) dan Danny Oei Wirianto sebagai chief marketing officer (CMO).

Menurut Lani Rahayu, Manajer PR Kaskus, komunitasnya memiliki visi menjadi penyedia platform untuk online Internet solution yang bisa diakses secara gratis oleh anggotanya sehingga menjadi penyedia layanan yang terbesar. Visi Kaskus itu dicapai dengan berbagai misi seperti mengembangkan forum komunitas dari sisi konten, fitur dan engagement (perjanjian jual-beli). Selain itu, Kaskus juga membuat social commerce untuk memberi kesempatan netizen melakukan transaksi jual-beli online dan menyediakan layanan pembayaran online (payment gateway).

Hingga 25 November 2011, jumlah anggota Forum Kaskus mencapai 3.697.136 orang. Keanggotaan Kaskus ini berarti pengguna Kaskus yang mendaftar di Kaskus dalam melakukan semua aktivitas di forum. Jumlah anggota itu tidak termasuk para netizen yang bukan anggota Kaskus, tetapi juga mengakses Kaskus. “Karena Kaskus bisa diakses tanpa harus menjadi anggota terlebih dulu, di mana semua anggota dan bukan anggota bisa membaca, mencari informasi, mencari barang yang ingin dibeli, unique IP yang mengakses Kaskus setiap bulan mencapai 17 jutaan,” ungkap Lani.

Sebagai komunitas, Kaskus beberapa kali menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan, seperti penyedia layanan komunikasi ponsel XL, Telkomsel, Unicef, Mustika Ratu, LG dan Sony Ericsson. Agar kerja sama dengan perusahaan/pengelola merek bisa saling menguntungkan, pihaknya selalu menyelaraskan tujuan kerja sama dan selalu mengutamakan kebutuhan masing-masing target khalayak yang ingin disasar. Selain itu, kerja samanya sebisa mungkin berkelanjutan.

 

 

 

id-BlackBerry:

Menjembatani Pemegang Merek, Operator dan End User

Sejak didirikan pada 19 September 2005, anggota id-BlackBerry (id-BB) terus meningkat. Dari 50 anggota di tahun pertama, kini sudah mencapai 7.746 anggota hingga November 2011. Saat ini ada sekitar 500 anggota aktif yang berasal dari berbagai macam latar belakang, mulai dari korporat hingga individu, dengan usia 16-68 tahun.

id-BB merupakan komunitas BlackBerry terbesar di Indonesia. Komunitas ini dibentuk oleh 10 penggagasnya. Menurut salah seorang pendirinya, Iwan Soejono, jumlah anggota id-BB Indonesia mengalami tren peningkatan yang cukup signifikan. “Di saat komunitas sejenis di Amerika dan Eropa menurun, id-BB Indonesia justru meningkat tajam sejak 2007,” ujar Iwan yang juga pembuat milis id-BlackBerry.

Dari awal, punggawa milis ini berkomitmen untuk bersikap independen dan tak terikat dengan operator mana pun. Maklum saja, sejumlah petinggi dan pengambil keputusan semua operator ternama di Indonesia turut bergabung di milis ini. Menurut Arie S. Antara, salah satu pendiri komunitas ini, pihaknya tidak pernah mengomersialkan komunitas ini untuk meraup untung, seperti menarik iuran anggota.

Namun, pihaknya tidak menutup diri kalau ada perusahaan yang ingin bermitra seperti halnya RIM. Bentuk kerja sama dengan RIM, misalnya, ketika ada acara kumpul komunitas, RIM bertindak selaku sponsor, memberi dana segar atau produk. RIM pun memanfaatkan id-BB sebagai mitra strategis untuk menjaga stabilitas bisnis mereka. Contohnya, ketika ingin meluncurkan tayangan iklan, RIM meminta pendapat pengelola id-BB terlebih dulu. RIM meminta id-BB melakukan reseach intelligence seperti harga BB di beberapa pusat perbelanjaan. RIM juga meminta masukan seputar tren dan customers insight.

Terkait operator, milis id-BB selalu dijadikan sebagai wadah diskusi dan tukar pendapat tentang layanan BB yang ditawarkan tiap-tiap operator. Anggota bisa mencurahkan saran dan kritik kepada operator jika ada layanan atau produk yang kurang memuaskan. “Kami lebih baik daripada customer service mereka karena langsung didengar oleh petinggi operator yang juga bergabung di milis id-BB. Jadi, kerja kami lebih cepat untuk menjembantani,” ujar Brynerio, juga pendiri komunitas ini.

 

 

 

Komunitas Jalansutra:

Dilirik Sejumlah Perusahaan

Kekompakan dan jumlah anggota komunitas yang besar merupakan daya tarik bagi perusahaan. Kondisi inilah yang membuat banyak pihak ketiga yang bermitra dengan komunitas Jalansutra. Komunitas ini menawarkan pengalaman jelajah budaya dan kuliner. Moto jalan-jalan sambil makan-makan itu menjadi kegiatan yang mengasyikkan.

“Jalansutra adalah salah satu komunitas yang mempunyai kepedulian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan boga dan budaya. Berdiri sejak delapan tahun lalu, komunitas kami sekarang sudah mempunyai lebih dari 20 ribu anggota,” kata Arie Parikesit, salah satu moderator Komunitas Jalansutra. “Kekuatan besar kami ada pada rasa kekeluargaan yang ditumbuhkan sejak awal. Bukan karena kami pintar atau jago masak,” ungkapnya.

Nah, rasa kekeluargaan itu memunculkan bisnis, tidak hanya bisnis bagi komunitas ini sendiri, tetapi juga bisnis personal untuk masing-masing anggotanya. Tidak sedikit anggota Jalansutra yang menjadi seorang blogger dan akhirnya berprofesi menjadi foodblogger. Atau, ada juga anggota yang memiliki hobi mengabadikan makanan dalam gambar. Lama kelamaan ia menjadi food photographer.
Banyaknya kegiatan yang dilakukan Jalansutra dilirik oleh sejumlah perusahaan yang ingin menjadi mitranya. Misalnya, PT Unilever Indonesia, PT Adira Finance dan PT Sosro. “Setiap tahun terdapat berbagai kerja sama dengan pihak ketiga,” kata Arie. Melihat potensi bisnis ini, para punggawa komunitas ini merasa harus segera membuat wadah untuk memayunginya. Akhirnya, pada 2009 terbentuklah Koperasi Jalansutra. “Namun, kami tidak bermitra pada perusahaan yang hanya ingin memanfaatkan anggota kami saja tanpa ada manfaatnya untuk komunitas,” ucap Arie menegaskan.

 

Dede Suryadi

Reportase: Ario Fajar, Denoan Rinaldi dan Rias Andriati

Riset: Siti Sumariyati

 

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.