Kiprah Srikandi Tangguh di Balik Sukses Denpoo

Yeane Lim, CEO PT Denpoo Mandiri Indonesia

Banyak kemajuan dan perubahan signifikan semenjak Yeane Lim didapuk menjadi CEO PT Denpoo Mandiri Indonesia dua tahun lalu. Ia menggantikan ayahnya, Lim Tjen Hong, yang merupakan pendiri Denpoo. Di bawah kepemimpinan Yeane, Denpoo semakin mengukuhkan dirinya sebagai produk elektronik nasional yang mampu bersaing dengan pemain elektronik global seperti dari Jepang, Korea Selatan dan China.

Tak hanya itu, Yeane pun mampu membawa perusahaan elektronik lokal ini bertahan di tengah turbulensi para pemain elektronik Jepang dan mulai mencengkeramnya produk elektronik Kor-Sel di negeri ini. Bahkan di tengah kondisi ekonomi yang belum kondusif, Denpoo pun mampu mencatatkan kinerjanya yang tumbuh 20% pada tahun ini. Denpoo tak seperti pemain elektronik lokal lainnya yang tak terdengar lagi gaungnya, kecuali Polytron.

Lalu, apa yang dilakukan Yeane setelah menjadi CEO Denpoo? “Terobosan yang dilakukan bisa ke level atas dan bawah, saya mengadakan micro dan macro management serta saya pastikan terjun langsung ke lapangan,” ujar wanita kelahiran Jakarta 10 Agustus 1975 ini.

Ia menjelaskan, yang dimaksudkan manajemen mikro adalah mengubah struktur organisasi yang sebelumnya menggunakan manajemen keluarga, kini menggandeng para profesional yang ditempatkan di berbagai posisi, seperti kepala pabrik, general manager hingga direktur. “Butuh waktu tiga tahun untuk meyakinkan Pak Lim sebagai pendiri Denpoo sehingga bisa diserahkan ke profesional,” ujar Yeane yang menempatkan adik laki-lakinya sebagai pengelola pabrik. “Selain itu, dari total 800 karyawannya, semuanya berasal dari dalam negeri alias tidak ada orang asing,” lanjut anak tertua dari tiga bersaudara ini bangga.

Kendati manajemen keluarga sudah ditinggalkan, budaya kekeluargaan tetap digunakan sebagai tata nilai yang sudah ditanamkan pendiri Denpoo. Hal inilah yang membuat banyak karyawannya yang bergabung lama di perusahaan ini. Yeane pun dekat dan rajin menjalin komunikasi dengan karyawannya, baik yang berada di kantor pusat maupun cabang, temasuk berkomunikasi langsung dengan para promotor & tenaga penjualan Denpoo. Salah satu komunikasinya melalui Grup WhatsApp (WA). “Saya bisa berkomunikasi dengan mereka sampai tengah malam untuk memberi motivasi dan pengarahan bagi promotor & sales.” Kata Yeane yang pernah kuliah di Jurusan Psikologi Industri, University of Southern California, Amerika Serikat.

Memang, keberadaan tim promotor & tenaga penjualan sangat penting bagi Denpoo. Hingga Yeane pun memanggil mereka dengan sebutan “tentara” Denpoo. Pasalnya, mereka adalah garda terdepan yang berhubungan langsung dengan konsumen. Merekalah yang menjelaskan berbagai nilai lebih produk Denpoo. Bahkan, mereka jugalah yang mengedukasi pasar tentang pentingnya untuk bangga menggunakan produk dalam negeri seperti Denpoo.

Untuk produk, selain varian produk peralatan rumah tangga yang ditawarkannya lengkap, Denpoo juga tergolong rajin melakukan inovasi. Bahkan, inovasi hal-hal kecil pun dilakukannya karena dirasa bermanfaat bagi konsumennya. Contohnya, mesin cuci Denpoo tipe DW 828 SG yang di atasnya dilengkapi papan penggilas. Inovasi ini sangat membantu penggunanya mengucek pakaian tanpa harus jongkok. Lalu, AC Denpoo sudah mendapat pengakuan sebagai produk dengan predikat hemat energi berbintang 4 sehingga sudah sejajar dengan AC dari pemain global seperti Panasonic dan Samsung. “Untuk meraih bintang 4 tidaklah mudah. Mungkin baru AC Denpoo sebagai produk lokal yang meraih bintang 4,” ujar Yeane bangga.

Selain rajin melakukan inovasi, Denpoo juga aktif mempromosikan produknya. Memang, iklan di televisi (TVC) belum dirambahnya, tetapi Denpoo rajin beriklan di koran termasuk berbagai koran daerah sesuai dengan target pasarnya. Juga, berpromosi lewat media digitial seperti website dan media sosial seperti Facebook. “Kami ada Facebook community dan kami juga akan mengembangkan lewat Instagram (IG),” kata Yeane yang bergabung dengan Denpoo sejak tahun 2000 sebagai manajer pemasaran dan pembelanjaan.

Tak hanya itu, Yeane yang aktif di berbagai asosiasi juga mempromosikan merek Denpoo agar merek lokal didukung pemerintah, khususnya melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Edukasi dan kampanye bangga menggunakan produk lokal juga didengungkan di gerai distribusi Denpoo, baik di gerai tradisional, semimodern, maupun modern seperti di booth Denpoo di Transmart Carrefour, Hypermart, Giant, dan Electronic City. Edukasi ini, seperti disinggung di atas, dilakukan oleh para “tentara” Denpoo.

Faktor lain yang juga digencarkan ketika Yeane menjadi CEO Denpoo adalah jaringan kantor cabang di berbagai wilayah Indonesia. Sebelum ia menjadi CEO, Denpoo baru memiliki tujuh kantor cabang dan sekarang sudah mencapai 10 cabang. “Baru saja dibuka dua cabang di Pekanbaru dan Banjarmasin. Tahun depan targetnya menjadi 20 cabang,” kata wanita berpenampilan modis ini penuh semangat.

Dengan agresif menggarap pasar, kinerja bisnis Denpoo pun kian moncer. Seperti mesin cuci yang menjadi salah satu produk andalannya, bisa terjual 80 ribu unit per tahun. Diakui Yeane, memang dalam dua tahun terakhir ini ekonomi terasa berat sehingga berpengaruh terhadap industri elektronik. “Tahun 2014 dan 2015 banyak perusahaan yang gulung tikar tetapi Denpoo masih bertahan dan tumbuh single digit, dan di 2016 ini kami tumbuh double digit,” ungkapnya. Ke depan, ia bertekad membawa Denpoo menjadi pemain elektronik lokal yang dominan di pasar dan tetap mampu bersaing dengan pemain elektronik global.(*)

Penulis: Dede Suryadi (Instagram & Twitter : @ddsuryadi)
Fotografer : Hendra Syaukani

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *