Imelda Sundoro Tak Ingin Pensiun

“Saya kelihatan capek, ya? Beberapa hari ini kurang tidur. Ke sana kemari. Wah, kesel aku,” kalimat itu meluncur deras dari bibir Imelda (Tio) Sundoro begitu masuk ke ruang kerjanya di Jalan Kol. Sutarto 19, Solo. Maklum, dirinya baru saja pulang dari berbagai kota untuk menghadiri aneka acara yang diadakan Sun Motor ataupun Sun Properti, perusahaan yang dinakhodainya.

 Meski mengaku kelelahan dan kurang tidur, nada bicaranya tak lantas lemah. Malah, ia sangat antusias. Apalagi, ketika ia memanggil anak buahnya untuk meng-update pekerjaan. Salah satunya, melihat sketsa desain bakal hotel yang akan dibangunnya di sebuah kawasan. Sayang, ia masih merahasiakan di mana hotel tersebut akan dibangun. “Saya ini gak ngerti sketsa, tapi saya punya selera dan konsep bagus,” kata Presiden Komisaris Grup Sun Motor ini tanpa basa-basi.

Beberapa tahun belakangan, Imelda memang fokus di properti dan hospitality. Hotelnya yang di Solo antara lain Novotel, Ibis, Best Western dan superblok Solo Paragon (apartemen, kondotel, pusat perbelanjaan). Sementara di Semarang, ia memiliki Novotel dan Formule-1. Di Kota Gudeg, ada Phoenix Hotel dan Formule-1. Yang paling anyar adalah The Sun Heritage di Bali yang baru saja dikunjunginya. Hotel-hotel itu pengelolaannya bekerja sama dengan Accor dan Best Western. Sementara di sektor properti, ia bekerja sama dengan Grup Ciputra. “Kerja sama dengan pihak lain biar cepat berkembang,” ungkapnya memberi alasan.

Sektor properti dan hospitality adalah sayap bisnis baru Grup Sun Motor yang besar dari dunia otomotif. Pelebaran sayap bisnis inilah yang terus memompa semangat Imelda di masa senjanya. Malah, istri mendiang Hoo Sundoro Hosea atau Hoo Ik Soen ini mengaku tak punya keinginan pensiun. “Saya akan terus produktif, karena masih banyak kreasi yang akan muncul dari kepala saya,” ujarnya penuh semangat.

Justru dengan terus bekerja dan berkreasi, Imelda yakin kesehatannya akan selalu terjaga. Dengan berkelakar ia mengatakan, “Karena sibuk kerja, saya sampai lupa kalau sudah tua ha-ha-ha….” Sayangnya, Imelda enggan mengungkap berapa usianya sekarang. Ia hanya mengatakan, dirinya berulang tahun tiap 2 Mei. “Nanti kalau saya nulis biografi, saya akan ungkap berapa usia saya, he-he-he….”, ujarnya bercanda.

Imelda memang gemar bekerja sedari kecil. Ia telah ditinggal ayahnya sejak berumur 9 tahun. Saat itu, ia belum tahu makna berduka. “Dulu ayah meninggal di Jogja. Nah, saya dari Solo naik bus ke sana. Saya malah merasa seperti piknik,” katanya mengenang. Setelahnya, barulah Imelda menyadari betapa beratnya ditinggal seorang ayah. Sebagai anak pertama dari 7 bersaudara, ia harus membantu ibunya menafkahi keluarga. “Dari kecil saya terbiasa digembleng oleh kehidupan,” ucapnya. Ayahnya, Koo Tjong Tjang, dan ibunya, Tio Fee Swie, hanyalah pengusaha toko kelontong.

“Jadi, kalau sampai setua ini masih bekerja, itu karena saya memang senang bekerja sampai lupa usia,” ujarnya. Imelda mengaku terus mengasah pikirannya untuk bekerja. Setiap pagi, sebelum ke luar rumah, ia selalu memberikan arahan kepada anak buahnya melalui SMS atau surat elektronik. “Memberikan instruksi itu kan tidak harus ketemu. Apalagi, sekarang teknologi sudah canggih,” kata Imelda yang sering menyempatkan diri makan siang bersama karyawan dan sopirnya. Sebelum beraktivitas di luar, ia selalu menyempatkan diri untuk senam atau joging. “Dulu saya berenang. Tapi sekarang tak punya waktu.”

Dari segi kesehatan, Imelda tergolong cukup bagus. Hasil medical check-up-nya tak pernah berwarna merah. “Semuanya normal. Karena, saya menjaga diri dengan menghindari makanan berlemak dan berkolesterol,” katanya. Malah, giginya masih utuh. Sepanjang obrolan santai dengan SWA di kantornya, sesekali ia ngemil kacang goreng dan mangga Talijiwo kegemarannya. “Masih utuh, cuma yang depan tidak rata,” ujar Imelda sambil menunjukkan barisan gigi putihnya.

“Menjaga kesehatan kan penting agar bisa terus mencoba peluang-peluang bisnis baru,” cetusnya. Akan halnya sektor properti yang beberapa tahun ini digelutinya, semata-mata hanya insting menangkap peluang baru. Menurutnya, sektor otomotif punya keterbatasan untuk berkembang. “Kami kan tidak bisa menjual mobil sebanyak-banyaknya karena tergantung pada kemampuan orang di setiap kota. Kalau hotel, kan beda,” ia membandingkan.

Ia mengaku, Sun Motor—terutama dealer mobil—telah diserahkan ke anak-anaknya: Lisa, Andre dan Jefri. Sementara Hartono—anak pertamanya—mulai dilibatkan di properti. “Ada yang di Surabaya, Jakarta dan Semarang,” katanya. Ia telah memberikan saham Grup Sun Motor kepada semua anaknya. Soal berapa persentasenya, Imelda tak merinci. “Yang jelas, tidak semua saham habis dibagi ke anak-anak,” kata nenek delapan cucu dari keempat anaknya ini.

Imelda mengaku mengajak anak-anaknya bergabung di bisnis keluarga. Selulus sekolah, anaknya harus terjun di bisnis keluarga. “Lagi pula, ngapain mereka bekerja di luar kalau kami juga membutuhkan orang seperti mereka,” ujarnya tandas. Namun, bukan lantas ia memanjakan anak-anaknya. Ia memperlakukan anaknya secara profesional. Tidak bisa seenaknya. Tetap ada target-target yang harus dicapai. “Syukurlah, anak saya baik semua. Mereka mau bekerja keras seperti saya. Syukurlah, saya dikaruniai Tuhan anak yang baik,” ucapnya khidmat.

Imelda mengaku tak punya cara khusus mendidik anak-anaknya. Ia merasa anak-anaknya bisa lurus lantaran melihat cara hidup yang dijalaninya. Dalam menjalani bisnis, ia selalu berpedoman pada integritas dan kreativitas. “Bisa dipercaya, jangan menyakiti orang. Karena nama baik itu susah dicari. Dan yang tak kalah penting, seorang pebisnis harus kreatif dan bisa merespons cepat setiap keadaan,” kata pengagum Ciputra ini memberi masukan.

Kini, semakin bertambah usia, Imelda tak lantas membendung cita-cita dan ide kreatifnya. Malah, ia berkeinginan agar Grup Sun Motor bisa go public.  Ia pun mengaku ingin berderma. “Saya sedang mendirikan poliklinik yang nantinya gratis untuk masyarakat,” katanya. Poliklinik yang sekarang dalam tahap pembangunan itu berlokasi di belakang Vihara Dharma Sundara, Solo.

 Dede Suryadi dan Sigit A. Nugroho

 

Spread the love

2 comments for “Imelda Sundoro Tak Ingin Pensiun

  1. made edy
    Oktober 11, 2013 at 5:09 am

    Luar Biasa… poin membuat poliklinik gratis ini luar biasa…

  2. cholid
    April 7, 2015 at 6:51 am

    salam ibu tio saya pak cholid 081282212351

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.