Geliat JNE di Tengah Pusaran Persaingan

Eri Palgunadi, Vice President Pemasaran JNE.

Peningkatan kapabilitas perusahaan mlalui pengembangan teknologi informasi, infrastruktur, dan jaringan, serta SDM menjadi jurus ampuh JNE dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat di industri kurir pada era disrupsi digital saat ini. Hasilnya?

Sudah 27 tahun PT TIKI Jalur Nugraha Ekakurir atau lebih dikenal dengan JNE Express berkiprah di industri logistik di negeri ini. Hari ulang tahun JNE ke-27 pun telah dirayakan secara besar-besaran di Kota Malang, Jawa Timur, pada Oktober lalu. Tema HUT kali itu spesial: Mewarnai Indonesia. Wujud tema tersebut dituangkan dalam acara utama, yaitu pemecahan Rekor MURI mewarnai 1.270 payung di Dome UMM, Malang.

Sesungguhnya, di tengah kebahagiaan karena sudah eksis, perusahaan yang berdiri sejak 1990 ini sekarang dihadapkan pada peta persaingan bisnis kurir yang semakin sengit. Di tengah semakin masifnya penggunaan teknologi digital, JNE dihadapkan pada pesaing-pesaing yang berat, bukan lagi hanya sesama perusahaan kurir, tetapi juga perusahaan penyedia aplikasi seperti Go-Send dan e-commerce yang mulai memiliki perusahaan kurir sendiri.

Belum lagi munculnya perusahaan kurir baru yang turut mewarnai kancah pertempuran bisnis kurir. Salah satunya, J&T Express, yang sangat agresif dan mampu menghadirkan berbagai layanan baru sesuai dengan kebutuhan pelanggan saat ini. J&T Express yang didirikan oleh Jet Lee, pendiri OPPO Indonesia, tak bisa dianggap remeh. Maklum, perusahaan ini disokong modal yang tak sedikit sehingga sangat ekspansif. Seperti pada tahun ini, J&T Express akan memperluas jaringannya di Indonesia. Perusahaan ini pun telah menyiapkan pendanaan baru yang nilainya melebihi US$ 100 juta atau setara Rp 1,3 triliun (Rp 13.300/ US$ 1).

Wajar juga kalau permain kurir baru sangat jorjoran membesarkan bisnisnya. Hal ini sejalan dengan makin berkembangnnya bisnis perdagangan elektronik alias e-commerce di Indonesia yang tumbuh pesat setiap tahun. Selama 10 tahun terakhir bisnis e-commerce dalam negeri tumbuh sekitar 17%. Hanya saja, Indonesia menghadapi dua masalah mendasar dalam perkembangan e-commerce, yaitu sistem pembayaran dan pengiriman barang. Nah, inilah peluang yang diperebutkan oleh perusahaan kurir.

Diprediksi, pada 2020 valuasi bisnis e-commerce di Indonesia bisa naik 10 kali lipat menjadi US$ 130 miliar. Menurut riset yang dilakukan iDEA dan Taylor Nelson Sofres, nilai bisnis e-commerce sebesar US$ 130 miliar tersebut meningkat 5,7 kali lipat dari perdagangan di 2016 yang baru sebesar US$ 22,6 miliar. Nah, jika 13% dari US$ 130 miliar nilai tersebut dipergunakan untuk belanja kebutuhan pengiriman ekspres, pos, dan logistik, market size industri e-commerce ini sebesar US$ 16,9 miliar atau Rp 219,7 triliun.

“Sektor logistik dan distribusi ini akan terus berkembang selama orang masih berkonsumsi. Terlebih, semakin banyak ekonomi tumbuh, permintaan ke sektor jasa ini juga akan semakin besar,” ujar Mohamad Feriadi, Presiden Direktur JNE. Ia mengungkap, saat ini nilai pasar industri logistik di Tanah Air sebesarr Rp 2.100 triliun. Adapun pertumbuhannya tahun ini mencapai 14,7%.

Dengan demikian, potensi terus tumbuhnya industri logistik sangatlah besar sejalan dengan berkembangnya sektor e-commerce atau ekonomi digital. Diakui Feri, berkembangnya e-commerce ini turut meningkatkan potensi tumbuhnya industri logistik di Indonesia. Saat ini jumlah paket yang beredar di 2017 ada sekitar 800 juta dan sebagian besar berasal dari bisnis e-commerce.

Lalu, bagaimana langkah JNE yang selama ini menjadi penguasa pasar di industri kurir menyikapi makin maraknya persaingan? “Ada tiga hal yang terus kami kembangkan, yaitu TI, infrastruktur dan jaringan, serta SDM (people) yang mampu beradaptasi dengan perubahaan zaman,” kata Eri Palgunadi, Vice PresidentPemasaran JNE.
Ketiga hal itulah yang saat ini menjadi fokus JNE untuk terus dikembangkan agar bisa memenangi persaingan. Contohnya, dalam sektor TI, agar aktivitas pengiriman paket yang dilakukan semakin membuat nyaman, berbagai informasi yang dibutuhkan bisa didapatkan dengan mudah melalui mobile devices yang sudah dibuat JNE, seperti mobile apps MyJNE, mobile apps Pesona, dan website JNE.

Lalu, dalam hal infrastruktur dan jaringan, JNE pun terus mengembangkannya dengan membuat gateway, gedung operasional, dan titik layanan (gerai) baru di seluruh Indonesia. Seperti saat ini, JNE telah memiliki sekitar 6.000 titik layanan di seluruh Indonesia, mulai dari kota besar sampai tingkat kecamatan yang didukung lebih dari 7 ribu armada berbagai jenis kendaraan.

Yang juga tak kalah penting, pengembangan SDM agar mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini. Sekarang jumlah karyawan JNE mencapai 40 ribu orang di seluruh Indonesia, yang terdiri dari karyawan kantor pusat dan 56 kantor cabang, serta karyawan mitra atau agen JNE. “Dua pertiga dari karyawan kami di bawah 30 tahun atau generasi milenial sehingga kami pun dalam mengembangkan mereka harus menyesuaikan diri,” kata Eri.

Tentu, inti pengembangan ketiga strategi JNE tersebut adalah inovasi. JNE sangat konsen dalam berinovasi. Seperti pada 2016, JNE meluncurkan tujuh program andalan sekaligus yang diberi nama 7 Magnificent. Ketujuh program andalan tersebut, yakni: Aplikasi MyJNE, JNE-PopBox, @box prepaid, Promo JNE Super Speed, JNE International Shipment, Layanan CD Music, dan JNE Trucking. Dalam pengembangan di bidang TI dan infrastruktur tersebut, JNE setidaknya menggelontorkan dana Rp 55 miliar di bidang TI dan Rp 400 miliar di bidang infrastruktur.

Dengan berbagai strategi yang dikembangkannya, JNE pun tidak terlalu khawatir dengan adanya persaingan yang semakin sengit. Bahkan, perusahaan ini sangatlah percaya, era disrupsi digital ini merupakan eranya berkolaborasi. JNE kini telah menjalin kolaborasi dengan hampir seluruh e-commerce di sini, di antaraya Lazada, Zalora, Bukalapak, Blibli, Shopie, Elevania, dan Tokopedia.

JNE juga membangun kemitraan dengan para UKM yang juga pelanggannya. Misalnya, pada HUT ke-27, JNE mengajak UKM/wirausaha untuk mengikuti workshop/seminar gratis bertajuk “JNE Ngajak Online”. Program yang berisi pelatihan bagi UKM ini digelar di 18 kota, yaitu Tanjung Pandan, Bengkulu, Sorong, Jayapura, Samarinda, Palangkaraya, Banda Aceh, Jambi, Bontang, Tarakan, Palu, Manado, Gorontalo, Ambon, Pangkal Pinang, Cilegon, Kupang, dan Mataram.

Lalu, jika dibandingkan dengan bisnis kurir dari penyedia transportasi online seperti Go-Send, JNE mengaku memiliki model bisnis yang berbeda. Sebab, GO-Send sistemnya adalah “1 point to 1 point” dan tidak ada prosedur apa pun dalam proses tersebut. Sementara JNE dan perusahaan jasa pengiriman paket lainnya memiliki sistem “1 point to many” dengan tujuan dalam kota maupun luar kota hingga luar negeri, di mana terdapat banyak prosedur yang dijalani, terutama terkait keamanan paket.

Untuk mengatasi berbagai tantangan saat ini, JNE seperti sudah disinggung di atas selalu mengedepankan kerja sama atau kolaborasi sehingga dapat saling melengkapi. Sebagai contoh, dalam mengatasi tantangan terkait pelarangan melintas bagi sepeda motor di berbagai ruas jalan tertentu di DKI Jakarta, JNE mengadakan kurir sepeda, bekerjasama dengan Westbike Messenger Service (WMS).

Bagaimana kinerja JNE saat ini? Kapasitas pengiriman JNE hingga saat ini mencapai 16 juta paket per bulan atau meningkat dari tahun lalu yang berjumlah 12 juta per bulan. Pertumbuhan bisnis JNE juga sejalan dengan pertumbuhan e-commerce di negeri ini. Hal ini mulai dirasakan JNE sejak 2010. Seiring dengan pertumbuhan e-commerce, jumlah transaksi pengiriman pelanggan JNE juga meningkat, 30-40% setiap tahun, serta terus konsisten sampai saat ini. “Jumlah pengiriman e-commerce mendominasi pengiriman JNE saat ini. Terhitung 60-70% pengiriman JNE berasal dari pengiriman e-commerce,” ujar Feri.

Untuk penguasaan pasar, Eri mengutip data Top Brand Index 2017 yang menyebutkan, pada kategori jasa kurir, JNE menguasai 49,9% pasar, Tiki 34,7%, Pos Indonesia 8,4%, dan DHL 1,3%. “Namun, menurut data kami, JNE menguasai marke share 30-35%,” ujar Eri memberi angka perbandingan.

Melihat fenomena yang terjadi dalam industri kurir saat ini, Sumardy, pengamat pemasaran, menilai banyaknya perusahaan kurir baru yang bermunculan, termasuk dari perusahaan penyedia aplikasi, direspons positif oleh pasar karena mereka mampu memberikan layanan yang relevan dengan saat ini atau memberikan ekspetasi yang berbeda dari bisnis model kurir yang sudah ada.

Hal ini juga didorong oleh terjadinya pola perubahan perilaku konsumen kurir, termasuk yang berasal dari generasi milienal yang hidup dalam alam yang serba instan, mudah, dan cepat. Maka, munculah layanan jemput barang di tempat konsumen seperti yang dilakukan J&T atau kiriman paket sampai dalam hitungan jam sepeti yang dilakukan Go-Send. Akhirnya, ekspektasi konsumen pun berubah, yang melahirkan pola dan standar baru dalam hal pengiriman barang, yaitu jemput barang di tempat, gratis, dan barang sampai ke tangan konsumen dalam hitungan jam.

Sejatinya, para pemain kurir lama memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam mengelola bisnisnya. Namun, yang jadi pertanyaan sekarang, dalam menghadapi disrupsi digital ini, apakah manusianya mampu beradaptasi dan berubah dengan cepat? “Jadi, kunci utama untuk memenangi persaingan adalah manusianya,” ucap Sumardy tandas.
Nah, problem perusahaan yang sudah mapan, terkadang sulit berubah dalam tempo cepat. Maklum, SDM lama di dalamnya biasanya sudah memiliki kebiasan dan pola lama yang tidak bisa dengan serta-merta berubah. Hal ini bisa saja terjadi di JNE, apakah manusianya mampu berubah dan beradaptasi dengan cepat untuk bersaing dengan Go-Send atau J&T yang boleh dibilang sebagai perusahaan startup.

Itu sebabnya, agar perusahaan lama bisa berubah dengan cepat, perlu dilakukan brand cleansing, yaitu “membersihkan” orang-orang lama di dalamnya agar mau berubah. “Ibarat tubuh manusia, agar bisa freshkembali, berbagai penyakit yang ada di dalam ususnya perlu dibersihkan dan dibuang,” kata Sumardy.

Brand cleansing diperlukan karena dalam kondisi ini, sepertinya pengalaman bukan lagi barang berharga. Pasalnya, Go-Send, misalnya, adalah perusahaan baru yang tidak memiliki pengalaman sama sekali di bidang kurir. Bahkan, Go-Send bukanlah perusahaan yang fokus di industri kurir tetapi sukses menjadi perusahaan kurir dan diminati konsumen saat ini.(*)

Riset: Hendi

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *