Gaya Yulius Membesarkan Nutz Apparel

Kalau jalan-jalan ke Bali,  tak lengkap rasanya kalau tak membawa oleh-oleh kaus Joger. Begitu pula kalau ke Yogyakarta,  ada oleh-oleh kaus Dagadu. Bagaimana dengan Jakarta?  Nah, alasan inilah yang mendorong Yulius Widjaja terjun ke bisnis fashion.  Menurutnya, produk fashion harus  jadi ikon Ibu Kota. Ia ingin Nutz Apparel, produk besutannya, menjadi ikon Jakarta. “Saya ingin buat citra kalau seseorang ke Jakarta belum lengkap kalau belum beli Nutz Apparel,” ujar Yulius mengenai obsesinya.

Dorongan itu pun ia wujudkan dengan mendirikan PT Tritunggal Premium Label (TPL) bersama dua temannya pada Desember 2010. Yulius dipercaya kedua temannya menjadi Presiden Direktur TPL yang mengelola jalannya perusahaan yang memproduksi Nutz Apparel dengan produk utamanya kaus berdesain humor ala Nutz (kacang berkaca mata).

Sekarang, Nutz Apparel sudah memiliki 6 gerai. Sebagian besar gerainya berada di department store papan atas seperti di Mazee FX Plaza Sudirman, Mall of Indonesia Kelapa Gading, Manekineko Epicentrum Kuningan, Senayan City yang semuanya di Jakarta. Selain itu, ada di Loubelle Shop Bandung.  Sementara  gerai mandirinya yang baru saja dibuka pada pertengahan 2011 berada di EX Plaza Indonesia, Jakarta.

Menurut lulusan Bisnis Internasional dari University of Southern California Amerika Serikat ini, produknya  tidak mau diklasifikasikan sebagai produk distro karena  menyasar ke pasar premium. Diakuinya, berbisnis pakaian ini tidaklah mudah di tengah maraknya merek pakaian lainnya.

Kondisi ini harus disikapi dengan menerapkan sejumlah langkah strategis yang tepat sasaran. Salah satunya seperti yang dilakukan Nutz Apparel saat ini, yaitu menyebar produknya ke berbagai department store yang sesuai dengan target pasarnya. Langkah ini dinilainya cukup efektif dan efisien karena pihaknya tidak perlu mengeluarkan biaya sewa tempat atau toko sebagai modal awal. “Dengan sistem kerja sama konsinyasi dengan pihak department store, modal awal bisa diminimalkan,” ungkapnya.

Sebagai modal awal, Yulius mengeluarkan dana sebesar Rp 300-400 juta hasil patungan bersama kedua temannya itu. Modal ini digunakan untuk biaya produksi kaus, pegawai dan sewa kantor. Modal ini belum termasuk sewa toko. Kelahiran Jakarta 12 April 1984 ini mengenang saat awal membangun Nutz Apparel banyak menghadapi kesulitan. Namun setelah berjalan 3-4 bulan, ia melihat respons yang positif dari pasar sehingga ia mulai menambah lebih banyak pegawainya, seperti tim kreatif, akuntan, dan bagian produksi.

Kesulitan itu terjadi karena produk yang ia jual adalah merek baru dan tempat jualnya belum banyak. Promo juga belum diberlakukan pada saat itu. “Namun setelah itu, kami menerapkan program promo, yaitu beli lebih dari satu akan mendapat potongan harga. Semakin banyak barang yang dibeli, potongannya semakin banyak. Semenjak itu mulai ada peningkatan penjualan,” ujar Yulius mengungkap strategi jualannya.

Untuk mengembangkan bisnisnya, Yulius tidak hanya mengandalkan pemasukan dari penjualan di toko. Ia juga menggaet sumber pendapatan lain seperti menjadi sponsor suatu acara, memproduksi baju untuk acara tertentu yang berhubungan dengan Nutz Apparel. Selain itu, pihaknya pun menyasar para selebritas untuk menggunakan produknya sebagai sarana promosi. Namun yang dilakukannya bukan endorser eksklusif. “Saya sempat endorse band Drive untuk manggung di acara Dahsyat dan Inbox. Untuk sistem endorsement ini, mekanismenya bergantung pada kesepakatan masing-masing pihak,” tuturnya.

Ia pun menekankan strategi yang terus dijalankan, pertama, mengembangkan bentuk promosi yang harus senantiasa diperbarui sesuai dengan momen tertentu dan bermanfaat pula untuk meraih perhatian khalayak lain. Kedua, terus mengembangkan produknya. Ia pun mengklaim kalau produknya cukup unik sehingga gampang dikenal. Keunikannya adalah kaus dengan desain humor yang cukup berani dan ikon Nutz yang selalu ada dalam tiap desainnya.

Kemudian, setelah mereknya dikenal, ia membuat berbagai variasi produk lainnya. Pada awalnya, produk Nutz Apparel kebanyakan berkutat pada kaus, tetapi sekarang sudah merambah ke kemeja pria dan wanita, celana pendek, postman bag, tank top, rok, pernak-pernik seperti pin dan gantungan kunci. Nantinya, ia juga akan membuat produk seperti sandal, topi, sarung bantal, handuk, piyama, dan lainnya. Selain dua strategi tersebut, ekspansi ke berbagai department store sebagai sarana penjualan merupakan kiat berikutnya yang akan tetap dilakukan.

Dengan sejumlah strateginya itu, hasilnya pun terlihat. Sekarang, omset bisnisnya mencapai Rp 200-250 juta per bulan dengan produksi kaus di atas 2 ribu potong setiap bulannya. Bahkan saat memasuki masa liburan sekolah, Lebaran dan Natal, penjualannya bisa meningkat. Ia mencontohkan, pada Ramadan tahun lalu, perusahaannya dapat menjual 1.000 potong kaus senilai Rp 130 juta. “Kami sudah balik modal kurang dari setahun sejak berdiri,” ucapnya bangga.

Target ke depan ia hendak membuka satu gerai mandiri lagi seperti yang sudah ada di  EX,  dan minimum lima gerai lagi di department store seperti Metro, Debenhams dan Sogo. Yulius juga bertekad bisa mengekspor produknya ke Singapura tahun 2013. Ia bermimpi, ke depan produknya bisa bersaing dengan produk fashion seperti Zara.

Diakui Eko Gunawan Lie, pelanggan loyal Nutz Apparel, saat membeli pertama kali, ia tertarik dengan desain kaus tersebut yang lucu dan makna dari Nutz yang multitafsir. “Produknya lucu, menggabungkan tiga konsep atau interpretasi mengenai Nutz yang  bisa berarti kacang, gila, dan testikal,” ungkap Manajer PT Semesta Segar Abadi, perusahaan importir buah ini. Teman-teman dan orang-orang yang melihat kaus Nutz-nya sering kali tersenyum sendiri. “Mereka menganggap kaus saya lucu,” ujar Eko yang  membeli kaus Nutz Apparel sejak awal 2011. Hanya saja, Eko menyayangkan pilihan warna kaus Nutz yang masih terbatas.

 

Dede Suryadi & Denoan Rinaldi

Riset : Armiadi Murdiansah

 

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *