Gaya Tech in Asia Indonesia Mengorbitkan Startup

Menjamurnya startup di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia mendorong hadirnya media komunitas yang khusus mengulas tentang perusahaan rintisan dan seluk beluknya. Salah satunya adalah Tech in Asia Indonesia. Dalam situs webnya ditulis “Tech in Asia adalah komunitas online pelaku startup di Asia. Temukan investor, founder, pekerjaan dan berita menarik seputar Asia di sini”.

Hendri Salim, Head of Indonesia Tech in Asia Indonesia

Hendri Salim, Head of Indonesia Tech in Asia Indonesia

Sejatinya, Tech in Asia berasal dari Singapura yang didirikan pada 2011. Berawal dari sebuah blog pribadi pendirinya yang kemudian berkembang sejalan dengan bermunculannya startup dan blog pribadi itu pun mulai fokus pada bahasan bisnis teknologi baru. Pada saat awal itu, blog yang jadi cikal bakal Tech in Asia di Singapura ini banyak mengulas tentang sosial media dan digital marketing karena saat itu sedang booming.

“Saat itu pun startup mulai kedengeran dan di Asia sendiri belum ada yang memperkenalkan startup, misalnya startup A punya sebuah produk inovatif. Maka founder-nya mulai memfokuskan diri menulis tentang startup,” ujar Hendri Salim, Head of Indonesia Tech in Asia Indonesia menginformasikan.

Nah di 2011, blog tersebut mendapat pendanaan dari investor, maka dibuatlah lebih serius dengan mendirikan sebuah perusahaan terbatas di Singapura. Dalam situs webnya disebutkan bahwa Tech in Asia (dulu dikenal dengan nama Penn Olson) menerima pendana awal dari East Ventures (EV) di 2011. Di 2013, Tech in Asia juga menerima pendanaan kedua dari Simile Venture Partners, dan EV juga terlibat kembali di dalamnya.

Pendanaan ketiganya datang dari Fenox Venture Capital di Agustus 2013. Di 2015 ini, Tech in Asia kembali mendapat pendanaan dari sejumlah investor baru, yaitu SB ISAT Fund yang merupakan kerja sama antara SoftBank dan Indosat, Eduardo Saverin (Co-Founder Facebook), Walden International, Marvelstone, m&s Partners, dan Andrew James Solimine (Co-Founder dari Nitrous)

Tech in Asia mulai masuk ke Indonesia sejak 2012. “Di Indonesia, kami juga mereplikasi kurang lebih hal yang sama. Jadi mulai dari blog kecil dan event kecil-kecil untuk ngumpulin berbagai startup yang pada masa itu sebetulnya startup sudah ada, tapi belum begitu familiar istilah dan model bisnisnya,” ungkap Hendri.


Memang kala itu, startup belum begitu familiar dan belum banyak orang yang mau investasi di perusahaan baru yang isinya hanya dua tiga orang dan tidak ada kantornya juga. “Jadi dulu bisa saya bilang, tugas besar Tech in Asia adalah mengenalkan startup kepada investor dan masyarakat luas,” cetusnya.

Di 2012, Tech in Asia mulai membuat konferensi besar di Balai Kartini Jakarta. Dan ini menjadi momentum untuk pertama kalinya Tech in Asia Indonesia hadir di Jakarta. Perhelatan tersebut dibuat untuk mengumpulkan para startup untuk dipertemukan dengan investor. Saat itu pun banyak investor dari luar negeri yang bertanya startup di Indonesia mana yang bagus? Itu pertanyaan yang selalu muncul sampai sekarang ini.

Para investor dari luar negeri itu dari seluruh dunia seperti Singapura, China, Korea dan Jepang. “Pada dasarnya, para investor di dunia ini sedang cukup gencar mencari startup-strartup di dunia yang prospektif untuk investasi,” ujarnya. Jika dibandingkan antara investornya individu atau perushaan lebih banyak investor perusahaan atau modal ventura. Kalau yang investor individu atau angel investor biasanya dia investasi di startup yang baru mulai atau bahkan baru konsep, dan secara nilai investasinya juga lebih kecil.

Startup yang diundang ikut konferensi itu sebelumnya sudah diseleksi. Apakah mereka sudah siap untuk bertemu investor sehingga ketika mereka bertemu bisa lebih dekat. Nah kalau memang ada startup yang belum lulus seleksi, berarti dia harus lebih mematangkan bisnisnya lagi. “Nah itulah kenapa kami punya media (portal berita) buat sharing segala informasi yang bisa bantu buka wawasan si startup untuk develop bisnisnya jadi lebih matang lagi, dan juga event,” ujarnya memberi alasan.

Hendri sendiri sebelumnya adalah pendiri sebuah startup media yang membahas tentang games. Pada September 2013, startup milik Hendri diakuisisi Tech in Asia karena mereka melihat ada satu visi yang sama di medianya. “Nah startup saya diakusisi, jadilah saya join ke Tech in Asia, dan sekarang jadi Head of Tech in Asia untuk Indonesia. Jadi saya di Tech in Asia sudah lima tahun. Waktu saya join itu orangnya baru 4-5 orang,” katanya menceritakan.

Setelah startup milik Hendri diakuisi Tech in Asia (yang bergerak di bidang teknologi dan startup) membuat Games in Asia. “Itu yang saya bantu manage di Indonesia. Tapi Games in Asia lama-lama dilebur ke Tech in Asia. Jadi saya geraknya sih dari, managing editor, editor in chief sampai akhirnya di Head of Indonesia,” paparnya.

Untuk jumlah SDM, walaupun kantor pusat di Singapura, tapi jumlah SDM lebih banyak di Jakarta dan orang lokal Indonesia. Sekarang ini ada 48 orang di Tech in Asia Indonesia dan juga mempunyai otonomi yang cukup besar. Dalam arti pihaknya tidak harus melakukan hal yang sama dengan Tech in Asia di Singapura. Contohnya kalau dilihat desain website Tech in Asia Indonesia berbeda. Itu karena di Indonesia tugasnya satu, yaitu melayani kebutuhan informasi teknologi dan komunitas pemerhati teknologi di Indonesia.

Mungkin saja ada beberapa yang mereka lakukan di luar sana berhasil tapi belum tentu cocok kalau diterapkan di Indonesia. “Makanya kami Tech in Asia Indonesia itu ngebantu teman-teman startup di Indonesia sama ngebantu ekosistem di Indonesia itu butuhnya apa. Jadi untuk sekarang di Indonesia, kami fokusnya di media dan event,” ujarnya.

Untuk media, sekarang ini Tech in Asia Indonesia dijalankan lebih sebagai media untuk mengakomodir kebutuhan komunitas teknologi. “Jadi itulah mengapa kami tidak ada target berita harus berapa dalam sehari. Kami juga tidak ada target page view (PV). Nah kami memutuskan itu untuk mencabut beban, agar mereka (redaksi) bisa produce something yang insightfull,” ujarnya memberi alasan.

Jadi kadang satu orang itu untuk membuat satu artikel bisa dua minggu. Memang kalau mau dibandingkan dengan redaksi media pada umumnya., hal itu dianggap lama. Namun pihaknya percaya terkadang untuk menghasilkan sesuatu yang bagus memang butuh waktu. Yang paling lama itu untuk verifikasi berita, karena kadang-kadang kurang puas ketika diberi berita maka pihaknya akan bertanya balik apakah iya benar seperti itu? Atau wawancara lagi pihak lainnya agar lebih berimbang. Dengan demikian, pihaknya lebih leluasa dan tetap mengusung etika jurnalistik pada umumnya.

Yang menjadi perhatian lainnya adalah sebagian besar startup itu berkembangnya di Jakarta. Itu sebabnya Tech in Asia Indonesia mulai mengadakan City Chapter. “Jadi kami calling juara-juara lokal dan anak muda lokal sana untuk mengembangkan atau sharing mengenai startup di daerahnya sendiri,” katanya. Itulah kenapa sekarang Tech in Asia Indonesia mulai gencar mengadakan event di kota-kota di luar Jakarta, yaitu kota-kota yang jarang sekali ada event-event besar di sana. Harapannya untuk mempercepat dan memfasilitasi startup-startup di luar Jakarta. Contohnya di Padang atau Pekanbaru, di sana ditunjuk orang lokal yang menjadi city leader. Nah dari situ diharapkan akan tumbuh startup daerah yang jadi solusi buat masalah daerahnya sendiri seperti membuka lapangan kerja baru.

Untuk mengelola berbagai event, Tech in Asia Indonesia memilik tim event sendiri. Namun karena visi misinya adalah membantu komunitas teknologi, maka dalam penyelenggaraan kegiatannya, pihaknya banyak memakai jasa para startup yang menjadi mitranya untuk saling mendukung. Dan setiap menggelar event, animonya bagus. “Tahun lalu saja sekitar 5000-an orang menghadiri event kami,” ungkapnya.

Lalu apa rencana ke depan? “Kami mau kembangin lagi dan tertarik dengan machine learning. Jadi kami inginnya nanti orang baca konten Tech in Asia itu yang tema-temanya relevan dengan dia saja, lebih personal,” ujarnya. Selain itu, nantinya machine laernig itu juga dapat membantu pihaknya untuk mengundang orang ke event yang memang sesuai dengan kebutuhan si orang itu sehingga enggagement, interaksi, dan comfort-nya jauh lebih tinggi.

Selain itu, dengan machine learning ini akan lebih memudahkan bagi para investor untuk bertemu startup yang cocok dengan visi misinya dan mereka tidak perlu menunggu event agar mereka bisa bertemu. Artinya mereka bisa ketemu dibantu dengan machine learning itu. Jadi nanti bentuknya adalah sebuah platform untuk mempertemukan mereka. Setelah itu mereka bisa follow up untuk bertemu secara fisik.

Dede Suryadi dan Arie Liliyah

IG & Twitter @ddsuryadi

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *