Aksi Tancap Gas ala Viar

Beberapa tahun silam, kita pernah kebanjiran sepeda motor buatan Cina dengan berbagai merek. Namun, bak aksi roller coaster, sepeda motor Cina yang sempat booming ini belakangan menghilang seperti ditelan bumi. Salah satu sebab sepeda motor asal Negeri Tirai Bambu ini lenyap adalah masalah kualitas sehingga banyak pembeli yang kecewa. Selain itu, para pemain sepeda motor Jepang pun tak tinggal diam sehingga tetap mendominasi di industri roda dua ini.

Dari sejumlah merek sepeda motor yang sempat beredar, kini hanya tinggal beberapa merek yang masih mencoba bertahan. Viar adalah salah satu merek yang hingga kini masih bertahan. Bukan sekadar bertahan, Viar pun masih eksis dibanding merek lain di luar motor asal Jepang. Bahkan di beberapa kota, motor yang diproduksi PT Triangle Motorindo (TM) yang berpusat di Semarang ini mampu bersaing dengan motor-motor branded asal Jepang. “Di Lampung, kami pernah menjual 2 ribu unit, sementara Yamaha hanya 600 unit,” kata Ign Kartiman, Dirut TM memaparkan fakta. Dan, ia menambahkan, di usianya yang ke-10, TM telah berhasil melakukan penjualan 400 ribu unit produknya.

Keberadaan motor Viar ternyata tidak lepas dari sosok Johny Ong Odong. Lelaki keturunan Tiongoha ini memiliki basis bisnis sebagai pedagang peralatan teknik yang berpusat di Semarang. Ia merupakan importir dan distributor beberapa merek peralatan teknik di Indonesia. Johny kebetulan akrab dengan Kartiman.

Pada 1999, Kartiman, pensiunan perwira menengah TNI-AD, diajak Johny membuka usaha perdagangan sepeda motor asal Cina. Kartiman diberi tugas mengurus pendirian perusahaan termasuk membangun tempat perakitannya. Maka berdirilah TM. “Kebetulan saya diminta untuk menjalankan bisnis ini dan diminta menjadi dirut,” ungkap Kartiman yang mengaku kenal Johny semenjak dirinya masih aktif sebagai perwira militer di Kodam IV Diponegoro.

Menurut Kartiman, Johny tertarik menggarap pasar motor, karena di Cina motor dijual dengan harga yang sangat murah. Pada awalnya, TM hanya menempati lahan seluas 2 ribu m2 dan 20 orang pekerja perakit. Namun, dalam tempo satu tahun perusahaan ini diklaim mengalami pertumbuhan yang pesat. Lonjakan pasar terjadi mulai tahun 2005, setelah TM menunjuk PT Kencana Laju Mandiri sebagai distributor tunggalnya.

Dengan status distributor tersebut, perusahaan ini mendirikan dealer di seluruh Indonesia. Sekarang, TM memiliki 500 dealer yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Dealer terbanyak masih di Jawa (200), diikuti Sumatera (150), Sulawesi (100) dan Kalimantan (50).
Yang terbilang cerdik, dalam menggarap pasar, TM lebih banyak menghindari persaingan head to head dengan produk motor Jepang. Karena itulah, produknya lebih banyak dipasarkan di daerah-daerah yang belum dikuasai merek motor Jepang. Cara ini ternyata cukup efektif untuk mendapatkan konsumen. “Di daerah tertentu produk kami sampai ditunggu-tunggu,” ungkapnya.

Saat ini, TM terus menggenjot produksi. Lima tahun ke depan, Viar ditargetkan mampu memproduksi 1,6 juta unit motor berbagai tipe. TM pun sedang menyiapkan tempat produksi seluas 16 hektare yang berlokasi di kawasan Bukit Semarang Baru, dengan investasi US$ 10 juta.

Ada tiga tipe motor yang diproduksi Viar. Masing-masing tipe bebek dan matik, tipe sport dan tipe motor usaha (roda tiga). Harga jual sepeda motor ini memang relatif murah dibanding tipe sejenis lainnya. Tipe bebek dan matik dijual berkisar Rp 7-8 juta, sedangkan tipe sport Rp 13-14 juta, dan tipe motor usaha (roda tiga) Rp 16-18 juta. Semua harga tersebut on the road. “Khususnya di Jawa roda tiga cukup laris,” ucap Kartiman.

Selama ini, Viar memang menyasar kalangan menengah-bawah. Konsep yang ditawarkan sebagai motor ekonomis berkualitas. Untuk menjaga kepercayaan konsumen, selain menyediakan jaringan bengkel yang tersebar di berbagai kota juga menyediakan suku cadang yang dibutuhkan. Selain memberikan garansi mesin selama tiga tahun, juga disediakan servis gratis. Untuk suku cadang, konsumen tidak perlu merasa kawatir karena motor ini telah memiliki Viar Genuine Part.

Kalau diperhatikan, perkembangan yang cepat ini terjadi karena perubahan strategi. Semula, TM mengimpor sepeda motor dalam bentuk CBU, tetapi setahun kemudian diubah dalam bentuk terurai (CKD). “Prosedur mengimpor bentuk CBU lebih sulit, karena itulah kami memilih yang terurai saja,” katanya.

Sementara itu, menurut Rita, pedagang motor di Yogyakarta, Viar menjadi pilihan yang menarik untuk dijual. “Sejak empat bulan lalu saya memutuskan mengageni Viar,” kata Rita, pemilik dealer motor Viar Janti.

Pilihan untuk menjual Viar, lanjut Rita, dilakukan setelah mengamati secara mendalam. Ia pun akhirnya memutuskan kerja sama dengan produsen motor yang sebelumnya dia jual, dan memilih bekerja sama dengan produsen Viar. “Baru sekarang ini, saya bisa melakukan penjualan setiap hari,” katanya tanpa menyebutkan berapa angka penjualannya. Yang pasti, Viar terus menancapkan gas bisnisnya agar tetap eksis.

Dede Suryadi dan Gigin W. Utomo

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *